
Halo, Aurora cuma bilang. Mohon maaf lahir dan batin, Taqqabballah gunung waminkum. Terimakasih sudah menyempatkan membaca cerita ini 🙏🙏🙏🙏
******
"Tutup mulutmu, aku nggak pernah salah menilai orang!" ujar Vendrik menatap tajam Nathan.
Hingga membuat Nathan merasa terpojok. "Aruhi tidak akan pergi kemanapun, karena ini rumahnya!" tegas Vendrik.
Nathan tak bisa berkata apapun, ia bergegas menarik pergelangan tanganku membuat tanganku sakit. "Lepaskan aku!" ucapku memberontak.
"Gisella, ikut denganku, mereka ini bukan keluargamu!" ujarnya meyakinkan ku.
"Mama nggak akan pulang kemanapun!" sergah Ariana.
"Ariana! katakan pada mamamu untuk pulang bersama!" ucapnya melepaskan cengkeramannya padaku lalu menghampiri Ariana.
"Dasar psikopat gila, kau dengar tidak! Ariana mengatakan tidak akan pulang bersamamu?!" sergah Vendrik kembali menghalangi jalanya.
__ADS_1
"Vendrik, ini semua gara-gara kamu?! Kamu merampas semua milik ku, aku bersumpah akan menghancurkanmu?!" Mengancam Vendrik emosi, pria itu berusaha menahan marah karena sedikit naik pitam.
"Penjaga! usir mereka keluar!!" teriak Vendrik.
"Lepas! aku bisa keluar!" tepis Nathan.
Nathan berjalan keluar, ia tak berhasil membawa Gisella ikut dengannya. Dengan rasa kelegaan aku menghela napas panjang. Vendrik terlihat mengkhawatirkan ku, begitu pula kedua anakku. Mereka bertiga memberikan ku pelukan.
"Aruhi! Aku akan melindungi kalian," ucap Vendrik lirih menatapku. Aku hanya membalas senyum.
Sampai seorang wanita cantik dengan pakain mini menghampirinya, wanita itu menawarkan sebotol anggur pada pria yang tengah patah hati. Tanpa basa basi apapun Nathan mempersilahkannya duduk sembari one shot satu gelas.
"Aruhi, kita sudah bersama sebegitu lamanya tapi kenapa hatimu saja tak bisa ku miliki. Aku memiliki uang dan status tapi kenapa kamu masih saja menolakku!" gumam Nathan yang sudah mabuk. Wanita yang bersamanya hanya diam mangut-mangut tak mengerti apa yang pria ini ucapkan, karena ia pun sama halnya sedang mabuk.
Keesokan harinya Nathan terbangun dengan tubuh berhela selimut tipis di tubuhnya, serta seorang wanita yang tertidur pulas menghadap samping. Nathan bangun dari duduknya mendapati bercak merah di atas sprei. Ia paham betul wanita yang tidur bersamanya masih perawan. Nathan tertawa kecil tak menyangka wanita yang terlihat berusia itu masih perawan.
Karena banyak gadis yang Nathan temui tak ada yang bersegel indah seperti wanita yang bersamanya. "Hahah …, konyol! wanita macam apa yang ku temui, dia seperti tak laku, sampai menyerahkan diri padaku!" ucap Nathan mengejek.
__ADS_1
Pria itu pun pergi, dengan beberapa lembar yang terhitung banyak di atas meja.
Sementara itu Sherly terlihat gelisah saat mengingat kejadian yang menimpa Nathan. Ia berusaha meneleponnya namun tak ada jawaban, hingga usahanya yang terus menghubungi Nathan berhasil.
"Halo Nat, kamu dimana aku akan kesana!" ujarnya intens.
"Aku sedang di perjalanan pulang!" ucapnya.
"Kamu habis kemana Nat, dari kemarin aku udah nelpon kamu!" ucap Sherly khawatir.
"Bukan urusanmu, kamu cukup awasi Gisella dan Vendrik lalu beritahu aku!" ketusnya. Ia pun mematikan telepon itu.
Sherly terlihat sedih kala sifat dingin dan acuh pria itu, karena ia sejak awal sudah menaruh hati padanya. Seperti kebanyakan drama, cinta tak terbalaskan hanya menyisakan luka.
"Sampai kapan aku harus menunggumu mencintai dan menginginkan ku, sedangkan dirimu saja masih melihat wanita lain!" gumam Sherly menggenggam ponselnya.
Bersambung.....
__ADS_1