
Aku lalu tersenyum tipis mendengar jawaban singkat dari anak itu, padahal dia begitu kesal tapi bisa menjawab tidak dengan wajah cemberut.
Ingin rasanya ku remes-remes pipi tembem anak ku, namun perasaan yang tak nyaman mungkin saja mengganggunya.
"Terus Ayaan kenapa cemberut? Kalau emang Ayaan ngak marah sama mama?" tanyaku kembali menghentikan langkah kami.
Anak itu terdiam mematung, sesaat air matanya keluar membuat ku bingung, perasaan yang tak tertahankan ia luapkan kembali.
"Ay …, Ayaan ke …, Kenapa kamu menangis?" ujar ku kembali bingung dengan sikap anak itu yang tak biasa.
"Kata Dodo memen kekolah ku, Ayaan nggak punya papa!" ucapnya dengan cadel, yang masih bisa ku mengerti sedikit.
Sesaat diriku merasa tertusuk mendengar pernyataan anak itu, ingin rasanya memarahi anak yang mengatakan anakku tak memiliki ayah, tapi ku tahan dengan memeluk erat sambil menahan air mata yang hampir membasahi pundak anakku.
"Ayaan …, dengarkan mama, Ayaan bisa punya ayah jika sudah waktunya!" tegasku padanya sambil berjalan hingga tak terasa kami sudah sampai di toko.
Seorang pria yang terlihat kukenal tengah berdiri tepat didepan toko bunga milikku, tanpa pikir panjang aku langsung menunjuk pria tersebut lalu mengatakan.
"Ayaan, coba liat kesamping, apa Ayaan mau paman itu jadi papamu?" ucapku basa basi padanya.
Tanpa terduga ia malah menanggapi dengan serius candaan kecil dariku, anak itu justru berlari mendekati pria itu, saat pria tersebut menengok membuat diriku terkejut setengah mati, menatap kembali pria narsis di depanku.
__ADS_1
"Paman Dino, tata mami paman jadi papa Ayaan!" ungkap anak itu dengan mata berbinar-binar.
Mendengar pernyataan anak tersebut ku langkah kan kaki selebar mungkin meraih tangan Ayaan, dan ku tutup mulut manis anak ku dengan rasa canggung, karena aku salah mengenali orang dari belakang.
"Duh, kenapa pria ini ada disini sih!" gumamku canggung.
"Tadi Ayaan bilang apa sama paman?" tanya pria itu kembali.
"Ngak ada, ngapain kamu di toko ku siang-siang gini?" selaku menatap pria jakung, kekar dan tampan itu.
Meskipun diriku mengakui ia tampan, tapi tidak dengan akhlak narsisnya.
"Aku kesini mau ngasih boneka dino pada Ayaan, gimana cocok ngak kalau aku jadi ayahnya Ayaan?" ucapnya dengan pede.
"Ngak salah kamu nuduh aku penculik? Orang tampan dan kaya seperti ku, kamu tuduh sebagai penculik, katarak sekali mata wanita bunga yang katanya baik ini!" ledek pria itu dengan senyum ujung bibir.
"Fuhh …, ckc narsisnyan mulai keluar, udah kamu pergi aja ngak usah kesini bikin mata sepet!" gerutu ku kesal, sembari mendorong jauh pria itu dari toko.
"Ruhi …!" panggil ibu.
"Ah, iy …, iya Buk!" ujarku kembali menengok kebelakang.
__ADS_1
"Itu tadi siapa?" tanya ibuku.
"Ityu, paman dino, Nek," sela Ayaan.
Ibu kembali menetap ku, sepertinya dia tak suka melihat tingkah ku yang selalu mengusir pria itu.
"Ayaan, kamu pulang dulu iya, nenek mau bicara sama mama," ucap ibu.
Tanpa penolakan apapun Ayaan bergegas kembali mengandeng tas miliknya, yang sedari tadi ku pegang erat. Ibu mulai mrngehal napas kecil, beliau kembali menatapku dengan mata menyipit.
"Apa kamu tidak sadar, pria itu hampir mirip dengan Ayaan?" tanya beliau padaku.
Dia kembali membuka buku membandingkan Ayaan dengan pria narsis itu, seperti biasa aku berkelit mengatakan hal serupa.
"Bu, mana mungkin dia orangnya, aku sudah tanya pada Fania menejer hotel itu, Fania bilang pria itu berusia sekitar 40 tahun, yang mungkin saja pria tersebut sudah beristri!" tepis ku dengan kesal kala mengingat kejadian lima tahun lalu. Yang mengubah seluru hidup ku.
"Tapi, coba kamu perhatiankan kembali pria itu, dia sama persis dengan Ayaan seperti pinang di belah dua!" ucapnya kembali.
"Sudahlah Buk, dia tak ada mirip-miripnya dengan Ayaan!" selaku.
Aku pun masuk kedalaman toko, lalu menata kembali toko yang tadi ku tutup dengan perasaan menganjal di hati.
__ADS_1
Bersambung....