
Sesampainya dirumah sakit, rasa takut bercampur menjadi satu. Dalam hati kecilku mengharapkan hasil tes DNA tak menunjukan Vendrik adalah ayah anak dari wanita itu. Aku mulai egois dengan perasaanku saat Vendrik menatapku khawatir.
"Ruhi percayalah padaku, dia bukan anak ku," ujar Vendrik meraih tanganku.
"Kita akan tahu jika tes itu sudah keluar," tegas ku dengan tenang.
Beberapa jam kemudian hasil tes sudah keluar, seketika dunia ku hancur. Pernikahan yang kupikir baik-baik saja kini membuat ku kecewa. Karena orang ketiga tiba-tiba saja datang dalam hidup kami, lalu membawa pernyataan pahit. Dengan perasaan tak keruan aku beranjak keluar dari rumah sakit. Vendrik mengejar berusaha meyakinkan ku kembali, sementara wanita itu berdiri dengan kepuasan.
"Ruhi, kumohon dengarkan aku. Jangan pergi!" cegat Vendrik memeluk paksa diriku yang sudah tak punya rasa.
Dengan keras aku mendorongnya. "Jangan ikuti aku?!" bentak ku menahan tangis yang hampir pecah.
Benar saja Vendrik tak lagi mengikutiku, perasaan sesak di dada. Saat dulu aku mengakhiri keputusanku pada Nathan terasa berbeda ketika Vendrik menyakitiku. Luka yang tergores begitu perih di banding luka berdarah. Sekujur tubuhku gemetar. Padahal aku sendiri yang mengatakan tak akan ada cinta di pernikahan ini, lalu kenapa aku sendiri terluka?
Jika perasaan luka bisa membuktikan cinta ku padanya yang kini memiliki anak dari wanita lain, lalu kenapa aku tak bisa menerimanya? Padahal ia sendiri menerima masa laluku. Seketika tangisan ku pecah di sertai gemuruh langit. Hingga hujan mulai turun. Aku berteriak di bawah guyuran hujan.
Seorang pria entah dari arah mana ia datang berlari mendekati ku. Dan memelukku hangat, hingga jatuh pingsan tak sadarkan diri.
__ADS_1
Disisi lain, Vendrik berusaha mencari Aruhi di tengah hujan lebat yang mengguyur kota itu, dengan perasaan bingung Vendrik berusaha mencerna kembali apa yang ia alami. Tiba-tiba saja suara ponsel mengagetkannya. Dengan hati yang berat Vendrik merahi ponsel tersebut.
"Halo?" ucap Vendrik.
"Halo Ven, apa kabar, gue Farhan!" sapanya.
"Gue baik, lu?" tanya Vendrik kembali.
"Baik. Eh, kenapa dengan suara lu?" tanya Farhan heran.
"Ngapain lu nelpon?" sela Vendrik mengalihkan topik pembicaraan.
"Brengsek, gara-gara lu, pengemis tiba-tiba saja ngerusak rumah tangga gue?! Pekik Vendrik emosi yang tak stabil.
"Pengemis, maksud lu apa?" tanya Farhan bingung.
"Alah, lo nggak usah pura-pura bego, lo senengkan gue menderita. Emang masalah lu apa sampai ngancurin hidup gue?!" bentak Vendrik kembali, luapan emosi yang ia tahan kini ditumpahkan kembali pada temannya.
__ADS_1
"Gue bisa jelasin, kita ketemu di restoran tempat biasa kita nongkrong, ada yang gue mau omongin sama lo, Ven!" ucap Farhan mematikan telepon.
"Bangsat, kalau nggak penting gue hajar lu!" umpat Vendrik kasar memukul stang mobil, hingga suara klakson terdengar keras.
Perasaan hangat membuat ku tersadar, mataku kembali terbuka menatap diriku berbaring dengan ranjang yang berbeda. Tangan yang tertusuk jarum infus membuatku sedikit terkejut.
"Aw, dimana ini?" ucapku lirih mengamati ruangan disekitar ku.
Suara pintu terbuka, Nathan berdiri di depanku membawa semangkuk bubur sumsum. "Ruhi, syukurlah kamu sudah bangun, aku sangat terkejut melihat kamu tiba-tiba saja duduk di tengah hujan," ujar Nathan khawatir padaku.
"Ini jam berapa? Aku harus menjemput Ayaan!" ucapku lekas beranjak bangun dari ranjang.
"Anak itu sudah bersama neneknya," ucapnya memapah tubuhku yang hampir jatuh.
"Ak-aku harus pulang, nanti Ven…" aku terdiam tatkala menyebut namanya.
"Ruhi, perhatikan kondisimu, aku nggak mau kamu sakit," ujar Nathan menahanku, yang berusaha bangun dari ranjang.
__ADS_1
Saat kembali duduk tiba-tiba saja air mataku terjatuh, yang sedari tadi ku menahanya. Nathan bergegas memberikan ku pelukan. Mencoba menenangkan ku.
Bersambung....