
Rumah mewah yang berlantaikan marmer, jauh lebih indah daripada mansion milik Nathan, terlihat visual diriku di antara dinding dan nakas.
"Maaf tuan Vendrik, kenapa foto saya ada disini?" tanyaku heran.
"Karena ini adalah rumah istriku!"
"Istri, apa dia mirip dengan saya, sehingga tuan Vendrik memberi kami tumpang untuk tinggal?" tanyaku sedikit tersinggung.
"Neol, bisakah kamu mengajak, nona Sherly dan anak-anak untuk berkeliling rumah ini!" titah Vendrik.
Dengan sigap sang asisten membungkukkan badan. "Saya tidak akan pergi! saya tidak bisa meninggalkan nyonya saya bersama pria asing!" sergah Sharly.
"Sharly tidak apa-apa, saya yakin tuan Vendrk tidak berbuat jahat!" ucapku meyakinkan Sharly.
"Tapi Nyonya!"
Aku menatapnya memberi isyarat keluar, hingga tanpa bantahan Sharly keluar bersama gadis kecilku. Kini tinggal kami berdua, tuan Vendrik mempersilahkanku duduk.
__ADS_1
Pria itu takjub melihat betapa elegan wanita yang menyerupai istrinya, Vendrik berpikir entah apa yang dilewati Aruhi sampai menjadi wanita dingin yang tak berperasaan.
Pria itu kembali membuka suara dengan kaki menyilang kiri. "Ini adalah foto istri saya, dia adalah wanita yang cerdas dan cerewet," ujar Vendrik meraih bingkai foto visual Aruhi.
"Lalu apa karena saya mirip dengan orang di foto, lantes membuat anda tergerak membantu saya? Begitukah?" ucap ku melayangkan pertanyaan sembari menyeruput teh hitam.
"Tidak, karena kamu adalah orang yang sama di dalam foto ini!" tegas Vendrik, membuat ku bingung.
"Aku? Maaf tapi apa saya pernah tinggal di Asia?" ucapku mengernyitkan dahi.
"Bukan hanya tinggal, kamu juga lahir disini, ibumu bernama Ambara!" ujar tuan Vendrik menatap ku.
Dengan satu jentikan jari dua pelayan turun mendorong seorang wanita paruh baya, yang tengah duduk diatas kursi roda. Membuat kepalaku terasa sakit kala melihat wanita yang tak asing.
"Aruhi, anakku, apa ini kamu?" ucap wanita tua meraba-raba visual yang kosong. Melihat hal itu tiba-tiba saja hatiku tergerak menghampirinya, air mata ku pecah.
"Aruhi anakku, kenapa kamu meninggalkan ibu, apa kamu tidak menyayangiku!" ujarnya meneteskan air mata. Melihat wanita tua yang duduk di depanku meneteskan air mata, tentu membuat hati ku tak tega.
__ADS_1
"Dia adalah ibumu, namamu adalah Aruhi Khansa bukan Gisella Trovela, kamu adalah istriku!" sergah tuan Vendrik padaku.
"Dan pria ini adalah Nathan William anak dari Arslan William," menyodorkan selembar foto di depanku. Melihat pria yang ada di dalam foto tersebut membuat ku terkejut.
"Nathan! Bukankah pria ini suamiku!" ujarku membuat dua orang yang duduk terkejut.
"Suami! Apa maksudmu, kamu istriku!" tegas pria itu menyakinkan ku.
"Pria inilah yang membuat kita berdua berpisah, aku nggak tau apa yang terjadi padamu selama sepuluh tahun, jika kamu ragu, aku bisa menunjukan foto pernikahan kita!"
"Tidak, aku sudah percaya, tapi aku masih belum mengerti!" ujarku.
"Ruhi, anakku maafkan ibu karena ibu kamu terlibat hal berbahaya seperti ini!" ucap wanita tua menangis.
Saat aku menyadari ternyata wanita tua itu tak bisa melihat, membuat hatiku terasa cabik-cabik. "I..bu!" ucapku lirih memeluk erat wanita tua yang mengaku ibuku.
Rasa haru yang tak bisa dijabarkan membuat ku terharu, selama sepuluh tahun aku hidup dalam kesepian tanpa keluarga, mengetahui diriku memiliki ibu tentu membuatku bersyukur. Jika saja aku tak datang ke Asia tentu selamanya diriku akan terjebak di dalam sangkar yang dibuat Nathan.
__ADS_1
Balkon lantai empat, terlihat Sharly tengah gusar, ia dengan cepat menelepon seorang. "Halo Tuan, nona Gisella sudah menemukan ibunya!"
Bersambung.....