Terjerat Pernikahan Dengan Pria Narsis

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Narsis
Bab 54: Saeson 2: Tertembak


__ADS_3

"Ari … lari!!" Pinta Kiano sembari memegang sakit di perutnya, akibat pukulan bertubi-tubi para preman padanya. 


"Nggak, aku nggak akan lari, apalagi meninggalkan kamu dalam kondisi seperti ini!" Tolaknya khawatir. 


"Cih … anak ingusan sok jadi pahlawan!" herdik preman itu meludah. 


Kiano berusaha bangkit dari tanah, sembari memegang ranting kayu yang tergeletak. Pemuda itu dengan keras melindungi Ariana. Saat preman tersebut melihat kegigihannya untuk melindungi gadis kecil itu, mereka justru tertantang. 


"Minggir bodoh! Aku hanya butuh gadis itu saja, selebihnya kamu bisa kabur menyelamatkan diri!" ucap preman itu mendekat.


"Tidak, justru kalian s-semua menjauh!" tegas Kiano dengan tangan gemetar.


Sementara itu mereka berdua menyadari ketiga anak mereka, tak kembali dari pesta.


"Tuan ….!"


"Ada apa Neol, kenapa kamu tidak masuk?" tanya Vendrik. 


"Tuan muda dan nona Ariana tidak ada di dalam mobil satunya!" 


"Apa! Lacak mereka. Jangan sampai ketiga anakku kenapa-napa!" Pinta Vendrik terkejut. 

__ADS_1


Ariana dan Kiano terus berlari menuju pohon karet, yang tak jauh dari acara yang digelar. Terlihat Kiano menahan luka tusuk, di bagian kakinya, akibat keras kepalanya untuk tidak menyerahkan Ariana kepada para penjahat itu. 


"Kak … bertahanlah sedikit, papa pasti akan datang!" ucap Ariana memapah tubuh Kiano yang terluka. 


"Sepertinya para penjahat itu sudah tidak mengejar, aktifkan alat pelacak 'mu, agar paman Neol mengetahui lokasi kita!" ucap Kiano. 


Dengan manggut-manggut Ariana mengaktifkan alat pelacak yang tak sempat ia aktifkan. Karena Nathan lebih dulu melempar bom asap pada ruangan itu. 


"Ugh … Ari, Ayaan … kemana?" Mengerang sakit sembari menanyakan saudaranya yang tak terlihat. 


"Ari tak tau, saat para preman mengajar, sepertinya kita bertiga terpisah."


"Baiklah, Ayaan pasti baik-baik saja, Ari, apa aku boleh menyobek sedikit gaunmu, agar darah yang terus mengalir dari kakiku berhenti!" Pinta Kiano menatap Ariana. 


****


Suara kaki sedang berlari dengan cepat, napas yang terlihat ngos-ngosan, dengan keringat bercucuran terus membasahi rambut pemuda itu. Terdengar suara dua orang dewasa.


"Sialan! Larinya cepet banget!" umpatnya. 


"Terus cari pemuda itu, malam ini kita harus membawanya pergi!" titahnya pada temannya. 

__ADS_1


Mereka berdua pun berpencar. Pemuda yang berlari adalah Ayaan, ia berusaha menghindar dari kejaran para preman. Ayaan masuk kedalaman perkampungan yang tak jauh dari jalan raya. Pemuda itu seperti tersesat di tempat asing dengan luka tergores. 


Ia kerap kali menengok kebelakang, melihat apa para preman tersebut mengejarnya atau tidak. Hingga ia tak sengaja bertabrakan dengan seorang gadis yang ia kenal.


"Aduh maaf, Mas?" ucapnya sambil membungkuk, memungut kaleng minumannya.


****


Tak lama kemudian, asisten Neol menemukan lokasi Ariana. Ternyata bahaya masih mengintai mereka berdua. 


"Paman Neol akan segera datang. Kak," ucap Ariana bahagia. 


Beberapa tim SAR turut andil, dalam menemukan lokasi Ariana. Preman yang mengejar langsung mengetahui lokasi mereka berdua, hingga insiden dramatis membuat trauma pada Ariana, tim SAR yang sangat dekat dengan mereka, harus melihat insiden tembak.


Dor ….


Suara pelatuk senapan mendarat tepat di tubuh seseorang, pipi manis Ariana terkena noda merah, membuat gadis yang berusia sepuluh tahun berteriak histeris, melihat tubuh pemuda itu ambruk, dengan noda merah di balik baju putih polosnya. 


Pandangan Ariana menjadi kabur, gadis itu hanya melihat pria yang menarik pelatuk kabur. Suara langkah kaki cepat menghampiri mereka. 


Panggilan yang terdengar samar-samar membuat Ariana, hanya merespon dengan matanya yang hampir menutup. 

__ADS_1


"Ariana! Ariana!"


Bersambung....


__ADS_2