Terjerat Pernikahan Dengan Pria Narsis

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Narsis
Bab 25: Awal Sebuah Keretakan


__ADS_3

Perpisahan yang menyakitkan begitu pula  dialami Ayaan pada gadis itu, setelah ia berpisah Ayaan terlihat murung tak ingin berbicara sepanjang perjalanan kami pulang. Beberapa minggu kemudian Akan kembali seperti biasa, ia tak lagi murung atau pun bersedih lagi. Seolah-olah Ayaan sudah melupakan gadis tersebut. 


Di pagi hari yang cerah. Beberapa hari aku menghabiskan banyak waktu di rumah untuk menghibur Ayaan yang kini perlahan-lahan membaik. Hingga suara bel pintu mengagetkan ku. Dengan langkah kaki cepat aku pun bergegas membuka pintu itu. Terlihat seorang wanita muda dengan seorang anak di sisinya. 


"Apa ini rumah Vendrik Leonard Edwin?" tanya wanita itu. 


"Ya, dia suami saya," ujarku menatapnya. Mendengar aku adalah istrinya, tentu saja membuat wanita itu tiba-tiba saja bersujud. 


"Maaf mbak, saya ingin bertemu dengan Vendrik, saya ingin mengatakan hal penting padanya!" ujar wanita itu tiba-tiba saja menangis sambil bersujud. Membuat diriku semakin bingung saat mataku tertuju pada anak yang dibawa wanita tersebut. 


"Siapa wanita ini? Sembarangan sekali dia  memanggil suamiku sebutan nama!" batinku kembali menatapnya. 


Aku langsung menghubungi Vendrik, untuk mengetahui siapa wanita yang tengah berdiri di depanku, tak lupa diriku mempersilahkan ia masuk kedalaman. Beberapa jam kemudian Vendrik datang. 


"Sayang, apa yang terjadi?" tanya ia penasaran. 

__ADS_1


Perlahan-lahan kuhela nafas panjang, berusaha tetap tenang jika sesuatu yang tak diinginkan, terjadi pada pernikahan kami yang baru saja dimulai. Belum sempat ia duduk, aku lebih dulu melontarkan beberapa pertanyaan pada Vendrik yang tengah berdiri di hadapanku. Justru di sergah langsung oleh wanita itu. 


"Tuan, anak ini adalah anakmu," ujar wanita itu berdiri. 


Seketika pikiranku tiba-tiba saja kosong berusaha mencerna maksud dari wanita ini, firasat buruk yang ku rasakan benar menjadi nyata, berusaha kutahan karena ingin mendengar langsung dari Vendrik. Sejenak ia terdiam lalu mulai membuka suara. 


"Siapa yang mengirim mu kesini?" tanya Vendrik datar tanpa ekspresi. 


"Tidak ada yang mengirim saya kesini tuan, anak yang saya bawa adalah anakmu," ujar wanita itu kembali meyakinkan Vendrik. 


Aku yang melihat kertas itu langsung merebutnya. Benar saja hasil tes tersebut memang membuktikan 99,999 persen Vendrik adalah ayah dari anak itu. Bak seperti petir yang tiba-tiba saja menyambar, dadaku terasa sesak melihat hasilnya. Yang dipikirkan saat ini bagaimana dengan Ayaan yang sudah nyaman pada Vendrik? 


Namun pernyataan dari Vendrik membuat ku sedikit terkejut. "Aku tidak percaya dia anakku, lalu sejak kapan kamu bisa tes DNA padahal kita bertemu hanya sekali, di rumahku!" ucap Vendrik menatap tajam pada wanita itu. 


Seketika wanita tersebut diam tak bersua, ia berusaha mencari banyak alasan agar Vendrik percaya anak yang ia bawa adalah benar anak Vendrik, sedangkan Vendrik terus menyangkal. Perdebatan pun terjadi antara wanita itu dengan suamiku. Membuat kepalaku terasa pusing, hingga tanpa sadar aku berteriak histeris. 

__ADS_1


"Diam?!" ujarku berteriak. 


"Aruhi, kamu jangan dengarkan dia, kalau memang dia anakku lalu kenapa wanita ini membawanya disaat aku sudah menikah," ujarnya menjelaskannya padaku. 


"Tuan aku tau ini semua salahku yang terlambat bertemu denganmu, tapi aku bersumpah anak ini adalah hasil kita lima tahun lalu." Kini ia mengeluarkan air mata, seolah-olah ingin menunjukkan posisinya di hadapan ku dengan meraih tangan Vendrik. 


Dengan kasar Vendrik menepisnya, ia hanya menatapku dengan penuh harapan agar aku percaya padanya. Sialnya aku luluh dengan tatapan sedihnya, dia seperti anak anjing yang ingin dipercayai. 


"Kita lakukan tes DNA kembali," ujarku menahan marah. 


Mendengar hal itu justru wanita tersebut merasa takut, dia yang terlihat percaya diri kembali menciut. "Kenapa? Apa kamu takut jika kebohongan mu terbukti?" ujarku mendekat menatapnya. Vendrik hanya diam menatapku yang berusaha tenang. 


Wanita itu hanya diam tak bersua,  justru dengan diamnya membuat ku semakin penasaran. Tak lama kemudian ia menyetujui saranku. Kami berempat pergi ke rumah sakit besar yang ada di kota.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2