
Beberapa menit kemudian Vendrik kembali, dengan perban kecil menempel di lengan. "Apa kamu baik-baik saja, Ven?" tanyaku menghampirinya.
"Aku sedikit sakit, di bagian ini," ujar Vendrik menunjuk pipinya.
"Is, bagaimana pipimu bisa sakit sedangkan yang di tusuk di bagian lengan!" ungkapku mencubit pinggangnya.
"Aw …, Ruhi sakit!" jerit Vendrik.
"Ma-maaf Ven, habisnya kamu bikin kesal," ujarku menatapnya.
"Nak Ven, bisa kita bicara sebentar?" sergah ibu menghampiri Vendrik.
"I-ya Buk."
"Ruhi kamu tunggu di sini jangan ikuti kami!" tegas ibu.
Aku tau betul apa yang ingin ibu sampaikan pada Vendrik, yang hanya bisa ku lakukan berharap agar Vendrik tak tersinggung pada pernyataan ibu.
Beliau membawa Vendrik di sebuah kafe yang tak jauh dari rumah sakit. "Nak Vendrik, ada yang ibu bicarakan padamu!" ujar ibu membuka pembicaraan.
"Tentang apa Bu?" tanya Vendrik bingung.
"Ini berkaitan tentang masa lalu Aruhi dan Ayaan yang ibu ceritakan padamu dulu," ucap ibu berkaca-kaca kala mengingat kemalangan yang terjadi padaku.
"Apa kamu bisa tes DNA bersama Ayaan? Iya ibu tau, ibu sedikit tak tahu malu padahal kamu sudah menemukan anak mu!" ujar ibu sedikit gugup.
"Kata siapa? Anak saya yang mana ya Bu?" tanya Vendrik bingung.
__ADS_1
"Ah, kata istrimu, ada seorang wanita yang membawa seorang anak yang seusia Ayaan datang ke rumahmu!" ujar ibu memperbaiki posisi duduknya.
"Tapi saya tidak mengakuinya, saya rasa tidak ada perasaan terikat pada wanita itu, justru anehnya saya merasakan familiar pada istri saya?" sergah Vendrik.
Dengan hela nafas pendek ibu merahi segala kopi yang tergeletak di meja. "Firasat ibu juga mengatakan hal sama, tapi istrimu berkali-kali menyangkal. Apa kamu coba tes DNA saja? Agar rasa penasaran ini terselesaikan," ucap ibu menawarkannya pada Vendrik.
"Saya dengan senang hati melakukannya!" ujar Vendrik senyum simpul.
Beberapa hari kemudian operasi berjalan lancar, Ayaan dengan cepat pulih akibat darah yang Vendrik berikan. Tapi rencana awal kami ubah kembali, penjagaan menjadi ketat atas kecelakaan yang menimpa Ayaan. Aku dan Vendrik mencari beberapa informasi yang akurat atas kecelakaan itu. Beberapa bukti mengarah pada dua orang.
Di sebuah bar, Vendrik kembali bertemu dengan sohib lamanya. Dia menceritakan semua yang dialaminya.
"Gue minta maaf Ven, gara-gara Farhan lu jadi gini!" ucap Dion merasa bersalah. Karena kejadian lima tahun lalu Vendrik tak lagi menghubungi Dion dan Andi.
"Ya Ven, gue nggak tau seharusnya gue nggak ninggalin lo saat itu!" ujar Andi.
"Ya …, gue, Dion dan Farhan tau lu nggak bisa minum, tapi gue inget lo cuma minum satu gelas yang kadar alkoholnya rendah. Lu juga masih bisa ngomong!" ucap Andi curiga.
"Apa jangan-jangan minuman yang lu minum sudah di masukin obat!" fikir Dion.
"Gue juga mikir gitu. Kalau emang ya, parah banget tuh Farhan karena kesal dia ampe jebak lu!" Kesal Andi.
Mendengar hal itu tentu Vendrik mulai yakin, akan hasil tes DNA yang ia lakukan beberapa hari yang lalu pada Ayaan. "Apa lu tau hotel Queen?" tanya Vendrik penasaran.
"Gue tau, hotel langganan gue tu!"sergah Andi.
"Buset, benar-benar pria cabul, jadi selama ini lu udah tidurin berapa gadis di sana!" hardik Dion, menatap jijik sohibnya.
__ADS_1
"Itu dulu, gue emang suka ke hotel, tapi gue setia ko sekarang," ujar Andi mencoba meyakinkan dua sahabatnya.
"Najis, ngapain juga adek gue suka sama lo, kalau Raisa tau sudah koit lu!" cetus Dion.
"Ya lo nggak usah ember! BTW, emang kenapa lo tanya hotel Queen, lu kan udah punya bini!" ucap Andi penasaran.
"Gue penasaran aja, waktu gue bangun gue udah ada di hotel itu, dan gue cuma liat beberapa alat cleaning service di ruangan itu," ungkap Vendrik.
"Jadi kesimpulannya, lo tidur sama cewek klining servis, gitu?" tanya Andi.
"Gue juga bingung, masa iya gue tidur sama cewek klining servis?"
"Ya gak apa-apa kan, lu cari pengalaman baru," ledek Andi.
Vendrik terdiam, berusaha mengingat kejadian itu, perlahan-lahan ingatan itu mulai terlihat. Potongan kecil bak puzzle mulai tersusun. "Gue cabut, biar minuman ini gue bayar!" ucap Vendrik bergegas keluar dari ruangan VIP.
Dua sohibnya terdiam melihat tingkah tak biasa dari Vendrik.
"Dion Vendrik udah berubah," gumam Andi terdengar.
"Iya, gue nggak nyangka aja, cowok narsis yang biasa ngumpul sama kita jadi bucin," senyum Dion menertawakan sohibnya.
"Terkadang kita bisa berubah jika sudah memiliki labuhan hati, jadi lu kapan punya pacar?" ledek Andi pada Dion dengan wajah yang ditekuk.
Dion terdiam tak mengindahkan ucapan Andia, menurutnya wanita hanya makhluk sakral yang tak bisa didekati sembarang orang, karena dia bukan pria penggombal handal. Seperti Farhan dan Andi. Karena itulah ia tak pernah pacaran atau memadu kasih pada wanita sama seperti Vendrik. Karena sifat tersebut tak jarang orang menganggapnya gay.
Bersambung....
__ADS_1