Terjerat Pernikahan Dengan Pria Narsis

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Narsis
Bab 22: Apa Ini Kencan?


__ADS_3

 10:00 WIB 


    Malam mulai menjelang, pria itu duduk di pinggir pantai, hembusan angin sepoi-sepoi menerpa wajah tampan yang seperti artis eropa yang terkenal. Beberapa kali wajahnya celingak-celinguk mencari seseorang. Vendrik sesekali mengeluarkan kaca yang tak biasa ia bawa. 


Seolah-olah malam ini sanget istimewa baginya, dasi pita yang melingkar di lehernya ia kerap memperbaikinya, hingga matanya tertuju padaku yang mengenakan gaun berwarna merah muda dengan rambut tersanggul manis. Matanya berbinar-binar tatkala ia menatapku. 


"Sungguh cantik!" gumamnya yang masih terdengar olehku. 


"Apa!" ucapku terkejut. 


"Aruhi, kamu lama banget sih, aku sampai karatan loh nunggu kamu!" gerutunya sambil mengubah ekspresi.


Secepat angin mata yang menatapku dengan cinta, kini berubah menyebalkan. "Kamu fikir dandan itu gak butuh waktu apa! aku perlu ngelonin Ayaan!" ucapku kesal padanya. 


Perasaan geraml pun berakhir tatkala Vendrik meminta pelayan mengambil makanan. Sejenak mataku melirik pakaian yang dikenakan Vendrik.


"Ini kali kedua aku melihat Vendrik terlihat tampan!" batinku yang mencuri-curi pandang. 


Beberapa menit usai makan, ia mengajakku pergi keluar. Kami berjalan di pesisir pantai dengan beriringan suasana hening dengan angin sepoi-sepoi membuat suasana itu semakin romantis, debar jantung yang tak keruan terdengar di telingaku. Entah jantungku atau jantung Vendrik yang berdebar aku tidak tau?


Yang jelas momen langkah diriku berjalan berdua bersama seseorang dengan ikatan suami istri. Ini memang bukan kali pertama aku berjalan berdua di pinggir pantai bersama seorang pria. Tapi suasana menginjak pasir putih tanpa alas membuat hatiku tergelitik seolah-olah hasrat mencintai makin besar. 

__ADS_1


Mataku kini kembali meliriknya. Dengan wajah tampan yang terkena sinar rembulan membuat Vendrik semakin mempesona, hidung mancung mata dengan pupil coklat keabu-abuan membuat ia semakin mirip dengan Ayaan. 


Suasana diam kembali ku buka. "Ven, kenapa kamu diam?" tanyaku sembari langkah kami berhenti.


"Apa aku boleh menggandeng tanganmu?" tanya Vendrik dengan wajah memerah. 


Dengan senyum simpul, aku menarik tangannya dan mengengamnya. Dia semakin memerah, membuat ku ingin mengodanya. Pasalnya seorang pria narsis yang setiap hari mengagung-agungkan dirinya bisa terlihat malu-malu kucing di depan ku. 


"Sebenarnya ini hari ulang tahunku." Sembari mengaruk tengkuk kepalanya. 


"Se-rius? bukanya ini hari Valentain?" tanya ku. 


Melihat situasinya Vendrik supertinya, sangat sedih kala ia membahas hari ulang tahunya. Membuat ku makin penasaran apa yang terjadi di hari ulang tahunnya? 


"Salamat ulang tahun Ven. Meskipun aku tertambat mengucapkannya, aku minta maaf karena gak peka," ucapku meleburukan senyum tulua padanya. 


Dengan tatapan berseri-seri ia memeluk ku erat. "Aku gak salah nikah sama kamu Ruhi. Meskipun kamu belum menyukai ku, tapi aku bersyukur kamu ada bersamaku saat ini." ucapnya menahan luka di hati. 


Aku pun membalas pelukan hangatnya. "Ven, seharusnya aku yang berterimakasih karena kamu mau menikahiku, padahal kamu tau masa laluku seperti apa," ujar ku. 


Dengan pelukkan ketulusan memecahkan perasaan gundah di hati, tanpa sadar kami pun berciuman. Bibir kami bersentuhan. Hingga suara petasan yang keras mengagetkan ku. 

__ADS_1


Ciuman itu pun terhenti dengan decak kesal Vendrik. "Sial! Neol kenapa waktunya harus sekarang!" berteriak memanggil asistennya. 


Sang asisten pun keluar dengan beberapa pelayan yang memegang beberapa petasan di tangannya. "Bos sendirikan yang menyuruh kami menyalakan petasan kalau jam menunjukkan pukul 10:25 menit."


Mendengar hal itu aku pun tertawa melihat ekspresi mereka yang menahan kecewa pada bos yang tak menghargai usahah mereka, yang sudah duduk berjam-jam di luar.


"Mulai sekarang gaji kalian di potong!" ujar Vendrik kesal. 


"Apa bos, masa gara-gara waktu yang gak tepat gaji kami di kurangi!" gerutu Neol. 


"Ven, jangan keterlaluan. Coba kamu liat, mereka sampai kedinginan loh nunggu kita," ucapku membela asistenya. 


"Iya bos. Boskan sangat tampan dan baik hati, lain kali kami gak akan ngulangin hal yang sama kok."


"Janji bos!" ucap mereka serempak. 


"Baiklah, berhubung kamu sudah menganggap aku tampan, dengan tambahan kata baik. Jadi gaji kalian bakalan naik tanpa di kurangi."


Dengan ekspresi lega, mereka menghela napas panjang. Mereka pun kembali sembari menundukan kepalanya. Malam itu berakhir begitu saja tanpa hal romantis.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2