
Keesokan paginya kami berdua tidur terpisah karena Vendrik tiba-tiba saja meninggal aku. Mata yang tadinya tertutup perlahan-lahan menyipit. Tangan ku lekas merahi ponsel yang berada di atas nakas.
Jam menunjukan 08:26 menit. Sejenak ku menggeliat seperti ulat di atas ranjang meregangkan seluruh tubuhku lalu terbangun dan keluar menuju dapur.
Segelas kopi hitam menemani pagi tanpa Vendrik di samping. Setelah membuat kopi akupun menaruhnya di atas meja dan menuju kamar Ayaan.
Perlahan-lahan tanganku mengetuk pintu kamarnya, terlihat ia masih tidur sembari memeluk bantal panjang yang berada di sampingnya. Aku pun kembali keluar menuju dapur mengambil segelas kopi yang sudah diseduh tadi. Lalu duduk menikmati mentari pagi sambil melihat layar ponsel miliku.
"Vendrik kemana? Dari tadi pagi dia gak keliatan?" ucapku mencari-cari.
Selang beberapa menit kemudian asisten Neol datang menghampiri ku. "Maaf Nyonya Aruhi, tuan muda menyampaikan permintaan maaf karena ada urusan di perusahaan. Tuan muda meminta agar Nyonya menikmati waktu liburan di sini selama yang Nyonya inginkan." ujar asisten Neol berdiri tegap.
"Ya, tapi bukannya kamu asisten yang bersamanya kan?" tanyaku heran.
"Untuk saat ini, saya bertugas bersama Nyonya," ujarnya kembali.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? Apa ada hal serius di perusahaan?" batinku menatap asistenya.
Hari minggu aku dan Ayaan pergi keluar menikmati pesisir indah yang disebut pantai surga. Pasir putih yang tak jelas kulihat tadi malam membuat ku ingat momen bersama Vendrik yang berjalan tanpa alas. Seorang nenek tua menghampiri ku menawarkan aksesori yang terbuat dari kerang.
"Nak, apa kamu bisa membeli ini?" tanya nenek dengan bahasa asing yang tak bisa ku mengerti.
"Maaf Nek, saya tidak mengerti maksudnya," jawabku dengan santun.
Lalu seorang pria datang menarik tangan nenek tua dengan kasar, sontak membuat tubuhku bergerak membantunya. Sang nenek hanya terdiam melihat perilaku kasar pria itu padanya, perdebatan antara aku dengan pria itu mulai memanas saat ia berbicara dengan bahasa yang tak bisa ku mengerti. Beruntung asisten Noel datang dia datang seperti prisa.
Melihat tubuh tinggi dan berotot asisten pria itu pun menciut, ucapan kasar yang dia lontarkan kini tertahan akibat sorot tajam asisten Neol padanya begitu pun cengkram tangan yang menarik nenek tua pun ia lepaskan.
"Apa Nenek tidak apa-apa?" tanyaku menghampirinya. Beliau hanya menganggukkan kepalanya, sesekali ia menatap aksesori yang ia jual. Terlihat dagangannya masih utuh tak ada seorang pun yang membelinya.
"Tuan Neol bi-bisakah kamu meminjamkan aku uang mu?" tanyaku sedikit malu-malu padanya.
__ADS_1
"Soalnya aku tidak ingat membawa uang!" jelaskan kembali padanya. Tanpa ragu asisten Neol mengeluarkan lima lembar uang yang bernominal seratus ribu dari dalam sakunya. Lalu aku memberikan semua uang itu pada nenek tua yang tengah duduk menatap jualnya.
"Apa ini Nak?" tanya beliau heran padaku.
"Anggap saja aksesori ini terjual habis, tapi nenek harus janji, semua aksesori ini dibagikan dengan gratis," ucapku menatap beliau yang sudah berkaca-kaca.
"T-terimakasih Nak. Semoga Tuhan memudahkan rizkimu!" ujar nenek dengan tangan gemetar saat melihat uang yang aku berikan padanya. Lalu beliau mengeluarkan aksesori berbentuk kuda laut dan bintang laut dari dalam tas rotan miliknya.
"Ambil ini Nak, semoga kalian berdua menjadi pasangan abadi selamanya," ujar nenek itu melirik asisten Noel di sampingku.
"Nenek salah paham dia bukan kekasih saya!" sergah ku dengan cepat.
"Mama …!" panggilan Ayaan membuat kami menengok.
"Permisi Nek saya pergi dulu!" ucapku bergegas menghampiri Ayaan.
__ADS_1
Bersambung.....