Terjerat Pernikahan Dengan Pria Narsis

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Narsis
Bab 29: Tamu Tak Diundang


__ADS_3

  "Maaf Tuan, sepertinya dia terlalu peka, saya sudah memastikan rumah sakit mau memalsukan tes itu."


"Bagus, terus pantau keluarga mereka, buat mereka pisah apapun caranya, bila perlu bunuh pria itu!" ujar Nathan penuh kebencian. 


Beberapa hari kemudian, Vendrik akhirnya pulang, kami bertiga kembali ke rumah. Di depan teras, aku melihat ibu dan anak tengah berdiri di depan pintu. Wanita itu menghampiri kami. 


"Tuan Vendrik, apa yang terjadi padamu?" tanya wanita itu dengan khawatir. 


"Ma, mereka siapa?" tanya Ayaan heran. 


"Saya adalah ibu dari anak tuan Vendrik!" sergah wanita itu memperkenalkan diri. 


"Sejak kapan aku mengakuimu? Sangat bermimpi sekali seorang pengemis sialan! Dengan tak tahu malu datang ke rumah ku?!" pekik Vendrik menatap tajam wanita itu. 


"Ven, kamu nggak boleh berbicara seperti itu, apalagi di depan anak-anak!" sergah ku, memapah tubuhnya. 


"Ayaan mama minta tolong, kamu masuk sama Pak Arya dulu, ya?" ujarku tersenyum. 


Tanpa bertanya apapun Ayaan bergegas mengikuti ucapan ku. Ia pun masuk mengikuti langkah Pak Arya sopir sekaligus bodyguard kami.


"Kalau memang anak yang kamu bawa benar anaknya suamiku, aku bersedia anak itu tinggal di rumah ini!" ucapku menatap wanita itu. 


"Aruhi? Apa maksudmu?" sergah Vendrik menatapku. 

__ADS_1


"Aku sudah memutuskannya Ven, jadi tolong terima keputusan ku!" ucapku berusaha tersenyum. 


Aku pun pergi melewatinya bersama Vendrik. Tak lupa para pelayan yang berada di dalam ku suruh keluar, untuk menyambut para pendatang baru yang akan tinggal dirumah kami. Lalu aku membawa Vendrik ke kamar utama. 


"Sayang, kenapa kamu mengizinkan mereka tinggal disini?" tanya Vendrik heran. 


"Bukankah lebih mudah memantau para pengganggu di rumah kita sendiri!" ujarku tersenyum sembari membawa Vendrik ke ranjang. 


Tanpa bertanya lagi, Vendrik mengerti maksudku. "Kamu benar-benar pintar," ucapnya mencubit hidungku. 


"Aw, sakit Ven!" jeritku.


"Ternyata ada untungnya juga aku terluka, biar kamu bisa liat Abs ku setiap saat," ucap Vendrik mulai menggoda ku. 


"Ven, kamu mulai tidak waras!" balas ku tersenyum sumringah. 


"Nggak tuh!" ucapku beranjak pergi meninggalkannya. 


Beberapa minggu kemudian, wanita itu bernama Sarah lalu anak yang  bersamanya bernama Kiano. Beberapa kali ia sangat talenta menggoda suamiku, namun Vendrik terus saja menolak, beberapa kali Vendrik mengusirnya karena dengan lancang ia masuk ke dalam kamar kami, saat Vendrik tak bisa merawat dirinya akibat cedera di tangan.


Di pagi hari, seperti biasa aku menjalani rutinitas sebagai ibu, Kiano yang Sarah bawa cukup bijak bisa menjadi teman Ayaan sekaligus saudaranya. Kiano tak seperti ibunya yang suka mengganggu, sejak kehadirannya. Ayaan tak masalah bila harus berteman baik dengan Kiano. 


Meskipun Ayaan dan Kiano memiliki usia yang sama namun kepribadian mereka berbeda, tapi Kiano cukup peka memposisikan dirinya, dari awal kehadirannya dia cukup pendiam. Namun  Ayaan mengakrabkan dirinya pada Kiano, dia menjadi lebih mudah tersenyum. 

__ADS_1


Sarah yang menjadi bagian dari kami, mencoba menggeser tempat ku. Namun Vendrik menjatuhkan ia kembali dengan mengingat posisinya. 


"Pagi sayang, kamu masak apa nih?" ujar Vendrik mencium keningku. 


"Eh tangan kamu udah sembuh?" tanya ku menatap lenganya. 


"Iya, ini berkat kamu," ujarnya tersenyum. 


"Mas, aku udah masakin makanan kesukaan kamu," sergah Sarah mendekati Vendrik. 


"O,ya, nanti malam kita Dinner," ujar Vendrik mengabaikan Sarah dengan datang padaku. 


Aku dengan tersenyum membalas ucapannya. Aku tau betul sejak kehadiran Sarah di rumah.  Aku tak bisa bekerja di  toko bunga, karena harus mengawasi Sarah. Firasat buruk Vendrik terus menggangguku, tapi beberapa minggu berlalu tak ada pergerakan mencuriga dari Sarah. 


Hingga aku memutuskan untuk melanjutkan usaha toko bunga yang sempat ku tinggalkan. Sampai berita penculikan datang ke telingaku. Karena ketidak waspadaan ku, Ayaan menjadi incaran musuh. Beruntungnya Kiano menyelamatkan Ayaan, tanpa luka apapun. 


Di tempat rumah kosong di tengah hutan. "Dasar anak tolol, seharusnya sudah ku bunuh saja kau saat di dalam rahim ibumu?!" pekik pria paruh baya menampar anak laki-laki tersebut. 


"Tapi, kata nenek, pembunuhan adalah tindakan kejahatan," ucap anak itu menahan sakit di sekujur tubuhnya. 


"Kiano! Ini demi masa depanmu, lagi pula ayahmu sudah menerima uang muka dari pria itu!" bentak Sarah menatap tajam putranya. 


"Kita pergi saat semua sudah selesai!" ujarnya kembali pada putranya. Anak itu hanya diam tak bersua, mendengar ibunya. 

__ADS_1


Yeah …, seperti dugaan Vendrik, memang betul ada yang tak beres dengan kehadiran Sarah dan Kiano, saat aku mendapati sebilah pisau di dalam tas Kiano. 


Bersambung....


__ADS_2