
Suara pintu terbuka, panggilan tak asing membuat kami berdua menengok. "Mama, Ayaan puyang!" ujar seorang anak memanggil sambil berlari memeluk ku erat, dengan di susul ibu di belakang.
Nathan yang mendengar kata Mama padaku, tentu saja membuat ia terkejut, terlihat tangan menggenggam jemarinya, dia bahkan tak bisa mengendalikan emosi yang memuncak pada dirinya.
Brakk..
Suara meja yang dihentakkan kasar, membuat kami terkejut, kembali ku tatap Nathan, wajahnya kini seperti merah padam. Sebelum terlambat ku tarik pergelangan tangannya, membawa ia segera keluar dari toko.
Aku membawa Nathan berjalan menelusuri lorong, hingga kami sampai di sebuah taman yang letaknya tak jauh dari toko. Nathan yang berusaha dengan lembut bersuara, dia kembali tinggikan suaranya.
"Siapa anak itu?!" bentak Nathan.
"Nathan?! ungkapku berteriak memanggil namanya.
"Aruhi Khansa! Aku berbicara padamu?!" bentaknya lagi padaku.
"Bukan urusanmu!!" ketusku menatap tajam pada Nathan.
__ADS_1
Ku tarik nafas dalam-dalam. "Sebaiknya kamu pulang, tolong jangan tanyakan apapun untuk saat ini!" ujarku dengan tekanan.
"Sejak kapan kamu menikah? Aku butuh jawabanmu, Ruhi!" ucapnya kembali menatapku.
"Aku bilang jangan tanyakan apapun, aku tidak ingin menjawabnya?!" bentakku lagi padanya.
"Tolong! Mengerti lah, aku tidak sedang baik-baik saja menjawab pertanyaan mu ini!" ungkapku dengan suara rendah.
Usai mengatakan hal itu, tubuh ku berjalan mengabaikannya. Nathan tak lagi bergeming, sejenak ku menengok, dia masih berdiri memunggungiku sedangkan diriku masih berjalan lurus sembari menahan air mata yang kutahan sejak tadi. Mungkin saat ini di matanya aku sangat jahat, fikirku!
Beberapa jam kemudian aku terbangun sembari mengusap air mata, lalu melanjutkan perjalan pulang yang sempat terhenti. Hingga akhirnya sampai di depan toko, terlihat Ayaan sedang bermain bersama dengan ibu, kemudian mataku tertuju pada jam dinding yang menunjukkan pukul 10:20.
Saat diriku memasuki toko, terlihat wajah berantakan yang terpantul di depan jendela. "Wajah seperti ini, tak pantas ku tunjukan!" batin ku menatap cermin jendela.
*******
Sesampainya di rumah, tanpa basa basi apapun diriku menuju kamar mandi, membersihkan seluruh tubuhku. Usai mandi lekas kurebahkan tubuh dengan rambut basah yang tak ingin ku keringkan, karena suasana hati sedang bad mood.
__ADS_1
Rasa lelah yang tak berujung membuat ku tertidur lelap, sampai sore menjelang. "Aruhi, sampai kapan kamu tidur!" panggil ibu samar-samar padaku.
Aku pun terbangun sambil menggeliat, mata yang tertutup terbuka menyipit. Terlihat Ayaan duduk di sampingku dengan mata berseri-seri, seolah-olah ada hal baik yang akan terjadi. "Ayaan, kamu kapan kesini?" tanyaku.
Ayaan tak menjawab apapun justru ia hanya mengeluarkan senyum manis di bibirnya, membuatku semakin penasaran dengan tingkah tak biasanya. Suara pintu yang dibanting dengan keras membuat tubuh ku refleks terbangun.
"Astaga, Ibu!" ucapku terkejut.
"Aruhi, sebaiknya kamu keluar deh!" ujar ibu panik.
Membuat diriku ikut panik. "Emang kenapa Buk, kenapa muka ibu seperti itu?" tanyaku penasaran.
"Udah gak usah banyak tanya, mending kamu keluar, dandan yang rapi, jangan lupa pakai bedak," ujar ibu pergi.
Mendengar hal tersebut tentu saja membuat ku makin penasaran, ku tatap kembali wajah anakku, dia pun hanya tersenyum, seolah-olah kejutan mendebarkan ada di luar.
Bersambung.....
__ADS_1