
Suara ketukan pintu membuat Nathan beranjak keluar dari kamar. "Tuan. Sesuai perintah anda, saya sudah memanggil Tuan Sovies Tamora disini!" ucap pria paruh baya yang disebut asisten kepala rumah tangga.
Sejak kematian Arslan William, Nathan bertemu dengan keluarga ibunya dan membawa ia pulang ke eropa, untuk melanjutkan bisnis yang ditinggal ibunya demi Naufal Edwin.
Dokter Sovies Tamora memasuki ruang utama, tempat Nathan menjalankan bisnisnya. "Apa kamu bisa mencuci otak seseorang?" tanya Nathan intens.
"Saya bisa melakukan apapun. Tuan Muda!" ujar dokter tersebut.
Nathan berencana manipulasi Aruhi pada saat hari pernikahan, ia ingin mendominasi Aruhi agar melupakan keluarganya termasuk, suami dan anaknya.
******
Saat persiapan sudah selesai. Aku berhasil mengambil ponsel salah satu maid yang tertinggal di kamar mandi. Aku pun lekas membuka ponsel tersebut, lalu menekan nomor Vendrik.
'Nomor yang anda tuju sedang berada diluar jangkauan' ucap operator.
"Aaa …, apa yang terjadi pada Vendrik dan Ayaan, Tuhan tolong lindungilah mereka!" batinku berharap.
__ADS_1
Saat malam menjelang, para pelayan memberikan ku sebuah susu hangat, tanpa curiga apapun aku meminum susu itu hingga terlelap. Dari sini semua ingatan ku seperti tumpang tindih, dimana aku melihat seorang laki-laki bertubuh kekar sedang memanggil ku, melihat pria tersebut aku berlari menuju asal suara itu.
"Siapa itu, kenapa wajahmu hanya terlihat bayangan saja!" teriakku, yang tak bisa mengeluarkan suara.
Tubuhku terasa sesak, badanku tiba-tiba terasa berat, dengan cepat aku terbangun mendapati diriku mengenakan gaun indah berwarna putih. "Apa ini? Ugh …, kenapa kepala ku terasa sakit!" ujarku mengamati gaun yang kukenakan.
"Apa kamu sudah siap sayang!" tanya pria di depanku.
"Kamu siapa?" tanyaku bingung .
"Ya ampun kamu tidak ingat aku, aku suamimu dan kita akan menikah hari ini!" jawab pria tersebut padaku, suara yang familiar membuat otakku terasa sakit.
"Tolong lepaskan aku, kumohon jangan sentuh aku!" teriak ku. Hingga jatuh pingsan.
Nathan telah panik saat melihat Aruhi berteriak, ia dengan cepat memanggil Dokter Sovies Tamora. "Sial …, kau bisa kerja nggak sih!" bentak Nathan.
"Ma-maaf Tuan, saya sudah memasukan obat bius, dan manipulasi ingatnya, tapi saya juga tidak tau kenapa nona ini merasakan takut!" ujar dokter itu menjelaskannya.
__ADS_1
"Bodoh! lalu sampai kapan wanita ini melupakan segalanya!" ucap Nathan menenangkan diri.
"Satu tahun, kemungkinan jika Tuan bisa memberikan obat ini, nona ini akan melupakan semuanya dan hanya mengingat Tuan!" ucap Dokter Sovies memberikan saran pada Nathan.
Nathan yang mendengar ucapan dokter tersebut sangat bahagia, setiap hari ia memberikan obat dengan dosis tinggi agar Aruhi melupakan Vendrik dan Ayaan. Benar saja Aruhi melupakan suami dan anaknya. Dia kini berada di genggam Nathan sebagai tahanan.
Di sisi lain, Vendrik mengalami luka parah, yang mengharuskan ia untuk operasi di bagian perut, untuk mengeluarkan beberapa peluru di tubuhnya. Insiden ledakan yang di buat Nathan membuat Vendrik berpikir Aruhi sudah tiada.
Kejadian itu membuat Vendrik terpukul atas kepergian Ruhi, di tengah keterpurukan Vendrik, tes yang ia lakukan beberapa minggu lalu pada Ayaan membuahkan hasil. Dimana Ayaan adalah anak dari Vendrik. Sarah dan Kiano sudah diamankan, karena Ayaan tak punya dendam pada Kiano, Vendrik mengangkatnya sebagai anak angkat. Bu Ambar yang mengetahui Ruhi meninggal menjadi buta, karena terlalu menangisi anaknya.
Kepergian Aruhi membuat dua keluarga tak berhasrat untuk bahagia, Vendrik terus berharap kepada Tuhan agar keajaiban datang pada keluarga kecil mereka.
Sepulu tahun sudah berlalu, dimana Ayaan dan Vendrik sering kali datang ke toko tempat mendiang istrinya. Semua terasa sama, yang membedakan hanyalah istrinya tak ada di disisinya.
Belum sempat Aruhi mengungkapkan kata cinta padanya, ia justru lebih dulu meninggalkannya.
"Cintaku, kembali lah padaku, aku akan menunggu sampai kapan pun. Karena aku hanya milikmu sepenuhnya," ucap Vendrik menangis kala mengingat istrinya.
__ADS_1
Bersambung.....