Terjerat Pernikahan Dengan Pria Narsis

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Narsis
Bab 34: Pembukaan Yang Begitu Manis 21+


__ADS_3

WARNING!!!⚠️ Terdapat adegan yang mungkin mengganggu jadi bijaklah memilih bacaan. Disarankan adegan ini skip bagi pembaca di bawah umur. Selamat menunaikan ibadah puasa. Bagi umat muslim diseluruh daerah 🙏🙏


Balasan ciuman Vendrik membuat lidahku keras, ia terus melumuri bibir mungil ku seperti permen. Suasana malam yang begitu dingin mampu membuat hatiku terasa sejuk. "Vendrik!" panggil ku lirih, mencoba menghentikannya. Namun Vendrik enggan untuk melepaskan ku.


Nafasku terngeha-engah seperti berlari, membuat jantung hampir berdetak cepat, kala sentuhan lembut tangannya mulai menjelajahi satu persatu tubuhku. Baju piyama yang ku kenakan tersingkap pasti dari tangannya. Berkali-kali ku berseru memanggilnya. Ia tetap enggan mendengarkan ku.


Mata yang terpejam kembali ku buka, dengan hasrat seperti binatang buas ia merebahkan tubuhku. Tatapan ingin menerkam membuat perasaan familiar terlintas di benakku. Memercikan memori masa lalu yang enggan ku ingat.


Perlahan-lahan bibirnya yang lembut turun menelusuri tengku telingaku, suara erangan seperti hewan betina yang memadu kasih bersama pejantan keluar dari mulutku. Jujur sudah lama aku tidak merasakan hasrat panas dalam tubuhku sejak insiden tersebut. 


"Ven, apa kita akan melakukannya?" tanyaku lirih memegang kepalanya yang tengah turun menelusuri satu persatu tubuh ku. Vendrik terdiam, seolah-olah tindakannya sudah membuktikan bahwa ia sudah tak tahan dengan perasaannya. 

__ADS_1


Berkali-kali ia mencoba mengelitikku di antara sela-sela kecil yang berada di bawah perutku. Kini erangan yang ku tahan keluar beriringan dengan suara air yang mengalir. Terlihat garis senyum manis yang tergambar di ujung bibirnya. Berpadukan bulan sabit yang tak terlalu terang mampu membuat ketampanan Vendrik tergambar seperti lukisan, karena lampu led seperti kunang-kunang di antara rumput ilalang, begitulah suasananya. 


"Aruhi, apa aku boleh memasukimu?" ujarnya menghentikan tangan nakalnya. 


Dengan ekspresi kasihan, tentu aku tak bisa menghindar. Toh kami adalah pasangan suami istri. Wajah memerah seperti leci kerap kali ku tunjukan saat tubuhnya mengimpit ku. dengan malu-malu bak seperti kucing aku menganggukkan kepala.


Tongkat panjang yang keluar dari balik celana, perlahan-lahan menyakitku. "S-sakit, Ven!" pekik ku meringis.


"M-maaf Ruhi, aku terlalu bersemangat!" ujarnya kembali lirih dengan rasa bersalah. 


Vendrik menghentakan pinggulnya lembut, berkali-kali ia hentakan, hingga bibirku tergigit karena menahan sentuhan hangatnya. Malam itu tak berakhir baik, Vendrik terus menghujani ku dengan serangan yang beruntun. Seolah-olah ranjang adalah medan perang baginya.

__ADS_1


Keesokan paginya, suara kicauan pipit membangunkanku. Perlahan-lahan mata yang tertutup kembali kubuka, terlihat Vendrik tidur memunggungiku. Membuat diriku teringat akan masa lalu. 


Tubuh Vendrik menggeliat, dengan refleks aku mulai menarik selimut kembali berpura-pura tidur. Bisaku rasakan matanya memandangku yang tengah tertidur. Dahinya mulai mengkerut menatapku, perlahan-lahan matanya mulai turun menelusuri leher ku. Tubuhnya mulai maju, seolah-olah ia ingin mencium ku. 


"Ven, hari ini kan perpindahan Ayaan!" ujar ku mencoba mengalahnya.


Vendrik terkejut menatap ku. "Ah, i-iya!" ujarnya bingung. Lalu tersadar akan tindakannya. 


Susana canggung mulai tegang, saat aku mulai membahas apa yang ku dengar kemarin malam. "Ven, apa Ayaan baik-baik saja di rumah sakit?" tanyaku. 


Meskipun Ayaan sudah sembuh tapi dia membutuhkan beberapa perawatan ekstra, akibat pendarahan otak yang terjadi padanya. Hingga kami berdua memutuskan Ayaan akan tetap di rawat sepenuhnya. 

__ADS_1


Vendrik dengan cakap, langsung mengambil tindakan untuk melindungi Ayaan, ia dengan sigap menelepon asisten Neol dan beberapa bodyguard yang handal untuk mengawasi dan melindungi Ayaan. 


Bersambung.....


__ADS_2