
Arwan sedang gelisah di ruangannya. Berkali-kali ia melirik jam tangannya, jam 3 lewat tapi Endita belum muncul juga. Arwan mencoba menelfon tapi tidak ada jawaban.
Akhirnya memutuskan keluar untuk menjemput istri tercintanya.
Ada perasaan khawatir takut terjadi sesuatu dengan belahan jiwanya, penyesalan juga dia rasakan, harusnya jam 2 tadi dia jemput Endita kesekolah, tapi Endita menolak karena para sahabat nya mau mengantar Endita ke rumah sakit. Akhirnya Arwan menyetujuinya.
"Mila, aku keluar sebentar ya, kalau ada gadis SMA namanya Endita yang nyariin aku, suruh masuk aja. Arwan berpesan kepada asistennya. 'Mila' Panggilan akrab Arwan ke Seorang suster berhijab usia nya lebih muda sedikit dari arwan, Suster Mila, baik, ramah, sopan.
Suster Mila bukan hanya suster andalan bagi Arwan, tapi juga bisa teman yang baik, teman curhat bagi Arwan selain dokter Radha dan dokter Briyan.
Kalau tidak ada orang lain maka Suster Mila dan Arwan bicaranya pun santai. Layaknya seorang sahabat dekat.
"Siapa tuh Endita, lagi hobby daun mudah ya pak dokter? Sambil terkekeh menaik turunkan alisnya.
"Kepo aja, nanti kamu juga akan tau. kata Arwan.
"Bos ku ini bisa juga tersipu-sipu malu, bahagia nyebutnya nama siapa tadi... ???? sambil mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuknya.
"Oh ya Endita, jiwa kepo ku meronta Dok siapakah gadis yg bikin bos ku ini yang beku ini jadi cair ???
"Kita tunggu saja pemirsa, kelanjutan kisah ini, Mila berkata seperti seorang presenter.
"Udah ah kelamaan di sini gak jadi pergi aku nanti.
"Iya iya, segera bawa kan aku adik ipar yang cantik. suster Mila berkata sambil mengibaskan tangannya mengusir Arwan.
Begitulah keseruan mereka. Saat di luar jam dinas mereka jadi seperti adik kakak beradik yang selalu saling bercanda.
Tapi saat jam kerja, akan bersifat profesional layaknya seorang dokter dan suster.
Arwan rencana akan turun menunggu Endita di lobby lantai dasar Rumah sakit, khawatir Endita bingung mencari ruangannya
Belum sampai di lift, mendengar suara agak gaduh di depan resepsionis.
__ADS_1
Arwan melihat dari balik tiang, Endita dan dokter Nining sedang berbincang, lebih tepatnya Endita lebih banyak jadi pendengar sedangkan dokter Nining lebih aktif bicara.
Arwan sengaja mengintip dari balik tiang besar.
"Gue mau liat apa yang akan My Queen Lakuin pada Nining, yang agak ganjen itu.
"Ngapain lu Ar, ngintip- ngintip gak jelas Kayak mau nyolong aja, dokter Radha tiba-tiba muncul sambil menepuk bahu dokter Arwan.
"Gila lu Mak!! kaget gue, Tuh liat bini gue lagi ngadepin Nining. Gue mau liat bagaimana cara dia ngadepin si Nining.
"Mampus lu Ar, Nining kan naksir lu, sejak lu belum nikah, gimana kalau dia bilang yang aneh-aneh ke bini lu, dan bini lu percaya. Bakalan ada perang dunia nih kayaknya. Bisa jadi tidur di kamar tamu lu Ar. Radha berkata sambil cengengesan.
"Bini gue gak kayak gitu, kita liat saja. Dia bukan gadis manja yang gampang nangis dan percaya dengan apa kata orang. Arwan berkata dengan yakin.
"Ngapain Kalian melipir sembunyi di belakang tiang? Sebuah suara mengagetkan keduanya
"Sayang, bikin kaget aja, kata Radha melihat yang datang adalah Briyan suaminya.
"Kita liat saja kak Bry kalau sudah genting baru aku muncul. Arwan mau memastikan apakah Endita bisa menghadapi Nining
"Tapi saran gue jangan lu yang muncul, biar gue atau Radha aja. khawatir nya nanti lu gak bisa ngontrol, dan membeberkan jati diri lu sebenarnya. Belum waktunya Ar. Dokter Briyan memberi saran.
"Siap kak Bry. Arwan berkata sambil mengacungkan jempolnya.
Nining menarik tangan Endita menjauhi meja resepsionis kearah yang agak sepi agar tidak menganggu.
Sekarang Endita dan Nining lebih dekat kearah persembunyian Arwan, Radha, dan Briyan. Namun Naning dan Endita tidak melihat ketiganya yang bersembunyi di balik pilar besar.
"Iya tadi pagi gue nyamperin dokter Arwan di rumahnya, lalu dia nyuruh gue kesini sambil bawa ini, sambil mengangkat menunjukkan kantong pelastik berisikan buah yang dia beli di supermaket tadi sebelum kerumah sakit.
"Dasar gadis ingusan centil, ganjen, gatel, masih kecil udah berani nyamperin kerumah ayang gue lu ya. kata Dokter Naning, sambil berusaha menyerang Endita, Dengan mendorong tubuh Endita dengan keras. Endita yang dapat serangan mendadak kaget tidak menyangka. Tubuhnya terhuyung sedikit kebelakang.
"Mau nyogok Dokter Arwan dengan buah, lu cuma mau nyogok buah, gue aja mau nyerahin tubuh gue dia kagak mau. Elu hanya dengan buah, gak mungkin bisa lah Nining semakin kesal.
__ADS_1
"Astaga nih ulet bulu, enak aja mau nyerahin tubuhnya untuk laki gue. andaikan di luar rumah sakit udah gue bejek-bejek nih orang. astaghfirullah... sabar En sabar... suara hati Endita emosi namun berusaha menenangkan sendiri hatinya.
"Ulet bulu gini, harus di basmi, gue bukan istri lemah yang hanya bisa nangis meraung-raung saat ketemu dengan calon pelakor kayak lu. ya ulet bulu harus di basmi. Lu bisa Endita semangat, batinnya memberi semangat.
"Emang masalah ya kalau gue nyamperin dokter Arwan?
"Apakah anda adalah istri, kekasih, pacar, saudara atau apanya dokter Arwan, sampai melarang saya bertemu dengan dokter Arwan. Endita merubah gaya bicaranya lebih formal tetap lembut namun menusuk.
"Saat ini memang saya belum menjadi istrinya tapi saya pastikan dengan kecantikan, kemolekan tubuh dan kecerdasaan, saya bisa membuat dokter Arwan jatuh dalam pelukan saya, rela atau pun terpaksa.
"Saya akan berikan apa pun milik saya untuk dia, bahkan saya rela serahkan tubuh saya, dan kamu gadis ingusan. Jangan coba-coba dekati dia kata Nining yang juga ikut-ikutan menggunakan gaya bahasa formal.
"Wuek, kata Arwan di balik pilar besar itu menirukan orang menyukai muntah, sesexi- **** nya Nining, gue lebih milih Endita lah. enak aja biang mau nyerahin tubuhnya ke gue, emang gue mau. Arwan mulai emosi, dan akan keluar dari persembunyiannya.
"Jangan elu Ar, biar gue saja, tapi tunggu. liat Endita tetap tenang, walau pun dari sorot matanya gue liat sudah jengkel banget. Radha menahan Arwan agar tidak keluar dari persembunyiannya
"Bu dokter yang cantik, dengar ya, biar anda melarang saya menemui dokter Arwan, tapi kalau saya menginginkan menemuinya, ada masalah buat anda, baiklah Bu dokter saya mau keruangan dokter Arwan dulu.
"Enak aja. kalau gue bilang gak boleh ya gak boleh. mencengkram sangat keras pergelangan tangan Endita. sebenarnya Endita dengan mudah melepaskan tapi dia biarkan saja.
"Ada saatnya melawan dengan kekerasan ada saatnya lawan dengan cantik. batin Endita.
"Mak Sono jemput Endita gue khawatir Endita hilang kesabaran dan menggunakan jurusnya buat membungkam mulut ember Nining. Arwan sudah muak dengan sikap Nining
"Ya sudah sana lu balik ruangan lu, gue sama laki gue nyamperin bini lu.
Arwan hanya mengangguk.
BERSAMBUNG
Maaf ya... Aku gak bisa bikin konflik terlalu berat, karena gak kuat dadaku sesak kalau terlalu berat konfliknya.
Tapi tetap ada konflik. Like dan komen ya. makasih
__ADS_1