
Flash back of.
"Jadi Bu.... aku bayi yang ibu temukan, aku bukan anak kandung ibu, tapi aku anak kandung mama?" Tangisan Riyanti dari tadi tidak bisa dia hentikan,
entah perasaan apa yang dia rasakan, sedih, bahagia, entahlah.
"Iya sayang dan mama kamu sudah menjalani tes DNA waktu itu tanpa sepengetahuan kamu, ibu mengambil rambutmu. ibu mengusap lembut punggung Riyanti menenangkan.
Semua orang di ruangan menangis haru, tidak menyangka perpisahan berpuluh tahun Allah pertemukan kembali.
"Iya sayang kamu anak kandung mama, tapi kamu juga anak ibu, jadi sekarang kamu punya Mama, punya ibu, dan sebentar lagi kamu punya mami". mama tak kuasa menahan haru sudah 20 tahun kehilangan putri satu-satunya tanpa dia sangka akan menemukan.
Riyanti mengangguk sambil memeluk kedua perempuan yang sudah sangat berjasa dalam hidupnya.
"Dari awal mama liat kamu saat masih SMP di rumah Endita, mama sudah punya perasaan yang berbeda, tapi mama gak berani ngomong, takut mama kecewa, kamu mirip Abang mu Arwan, dan juga mirip papa mu, kalau Abang Al mirip mama". Mama terus memeluk dan mengusap lembut kepala Riyanti yang berbalut jilbab.
"Bagaimana awalnya mama bisa menyangka kalau aku anak kandung mama yang hilang". Riyanti penasaran.
"Waktu kamu lamaran, mama kebelet, pengen ke belakang, lalu ibu mu mengantarkan mama, di ruang keluarga mama melihat foto-foto bayi hingga foto mu setelah dewasa",
Mama menghela nafas dan melnjutkan ucapannya, semua yang hadir di situ hanya menyimak penasaran menunggu kelanjutan kisah yang Mama ceritakan
"Mama liat foto bayi di rumah mu sama persis dengan foto bayi mama yang hilang, bahkan kain pembungkus bayi sama persis dengan punya putri mama"
"Akhirnya satu hari setelahnya mama menemui ibu mu, untuk mengumpulkan bukti-bukti dan menguatkan dugaan mama, dan ibu mu sangat mendukung, ibu mu wanita yang sangat baik, tidak pernah menutupi identitas mu, setelah mama membawa bukti surat-surat keterangan lahir mu dari rumah sakit dan akte kelahiran, serta KTP dan Kartu keluarga kami yang namanya sama dengan nama gelang identitas yang kamu kenakan saat kamu di temukan ibu dan ayah mu"
"Singkat cerita akhirnya terbukti bahwa kamu anak kandung mama sayang, jadi besok kamu nikah yang jadi wali nikah mu Abang kandung mu sayang, Bang Alvin". Ucap mama dengan binar bahagia di wajahnya.
"Oh ya mama belum bertanya kesediaan mami dan papinya Ricko, serta Ricko, apakah masih mau melnjutkan pernikahan setelah tau kisah Riyanti yang sesungguhnya?"
Tanya mama.
"Pasti mbak indah, kami tetap akan melanjutkan pernikahan Riyanti dan Ricko besok. Riyanti adalah menantu idaman kami". papi Ricko mewakili anak dan istrinya menjawab pertanyaan mama Arwan dengan mantap.
"Alhamdulillah kalau begitu".
__ADS_1
akhirnya mereka semua berpamitan.
Arwan, Alvin dan semuanya memeluk Riyanti bergantian kecuali Ricko dan papi, Riyanti bersalaman dengan papi dan mencium punggung tangan calon mertuanya, papi mengusap sayang pucuk kepala calon menantunya.
"Aku juga mau peluk Riri bolehkan Arwan sama bang Al juga boleh peluk-peluk istri ku?" kata Ricko sambil merentangkan tangannya.
"Enak aja istri - istri, belum jadi istri masih calon, belum halal jangan ngarep Gue sama bang Al Sodara kandungnya Rick lu lupa ya" Arwan menarik kerah baju Ricko saat akan mendekat ke Riyanti.
"Tunggu besok kalau sudah halal silahkan, mau lu apain aja Adek gue silahkan, asal jangan bikin dia nangis, karena ada kami yang akan menghajar lu jika itu terjadi" Bang Alvin menatap tajam Ricko. Perkataan bang Alvin mendapat anggukan dan jempol menandakan setuju.
"Waduh banyak banget pendukung mu sayang" Ricko menatap Riyanti sambil mengedipkan sebelah matanya.
Blussss pipi putih Riyanti berubah menjadi merah.
Dipanggil sayang di depan banyak orang membuat Riyanti malu campur bahagia.
"Bismillah.. insya allah Gue gak akan buat adik kesayangan Abang Al menangis sedih, hanya akan ada kebahagian yang akan gue berikan" janji Ricko dengan mata berbinar penuh kejujuran.
***
"Masya Allah cantik banget lu Ri, kalau cantik gini kayak gak rela gue panggil lu Jojo". Goda Endita.
"Keluar aslinya, baru aja di puji udah narsis Sok kecakepan lu, padahal kagak". Sewot Erina.
"Hehe... Sirik aja kalian berdua". tawa Riyanti dan kedua sahabatnya pun ikut.
"Kami sayang banget sama lu Jo, kalau udah nikah jangan lupain kami ya, apa lagi jangan lupain aku yang jomblo akut ini". Kata Erina sambil memeluk sahabatnya.
"Ya gak akan lah, kalian kesayangan ku, aku jadi pengen nangis" Riyanti berusaha menahan lelehan air matanya.
"Saaayaanggg kalian" mereka bertiga berpelukan.
Riyanti yang selalu barbar dan agak tomboy mendapat peringatan dari sahabatnya untuk lebih hati-hati dan kalem saat berjalan mengenakan kebaya.
"Iya nih gimana cara jalan yang anggun ya Mak gue gak bisa jalan cantik kaya elu Er, sambil nyengir kuda Riyanti bertanya.
__ADS_1
Sambil berdiri dan mulai mempraktekkan cara jalan yang anggun
"Gini ya" mulai dengan kebiasaan nya awal pelan dan anggun akhirnya perlahan tangan kanannya mulai mengangkat kain yang di kenakan.
Kebiasaan Riyanti kalau jalan selalu cepat, kadang kalau pakai rok selalu aja roknya di angkat biar jalan bisa lebih cepat katanya, untungnya dia selalu menggunakan celana leging sebagai pelindung agar betisnya tak tampak.
"Kalem bestie lu mau nikah, Bukan masuk kejuaraan atau mau ngelawan preman" kekeh Erina.
"Haha ... Sakit perut gue ketawa liat lu jalan Jo, di awal aja lu anggun jadi Riyanti, hanya beberapa detik setelahnya kembali lu kembali jadi Jojo"
"Aduh perut gue keram" Endita meringis sambil memegang perut buncitnya.
"En... En... Lu kenapa, gue panggilan bang Arwan ya", Panik Erina dan Riyanti.
"Cepat Er Panggilin bang Arwan" Riyanti sangat panik sambil memegang Endita membawanya untuk duduk di sofa.
"Jangan gua gak pa-pa biasa emang kadang-kadang kram gimana gak kram mereka desak-desakan kali di dalam, ikut bahagia liat aunty nya mau nikah" Endita membaringkan badannya di sofa sambil terus mengelus perut buncitnya.
"Mereka? maksud lu? ". Tanya keduanya bersamaan.
"Ada yang gak beres ini, mulai pintar ya lu rahasia-rahasiaan. Kata Riyanti mengepalkan tinju kanannya sambil memukulkan tinjunya ke telapak tangan kiri.
"Sello bestie... lu mau nikah bukan mau ngadepin preman jadi tangan turunin jangan main tinju ya Nanti ada saatnya gue ceritain ok bestie" Senyum Endita sambil menatap kedua sahabatnya.
"JANJI !" Kata-kata penuh penekanan dan pandangan membunuh dari kedua sahabatnya membuat Endita bergidik ngeri.
"Iya .. iya, sekarang fokus ke nikahnya Jojo dulu kali Mak" ucap Endita
Yang hanya di jawab anggukan oleh sahabatnya.
"Eh ... Lu bilang kata nikah, Jadi Deg degan gue mak". Suasana menjelang ijab kabul di kamar Riyanti di temani dua sahabat baiknya.
"Ucap Bismillah Tarik nafas Bestie... lalu hembuskan perlahan". Saran Endita.
Bersambung...
__ADS_1
Yang bikin deg degan nanti ya episode-episode selanjutnya.
makasih sudah mampir.