
"Itu mbak En tadi sore, dimakan sama Mas Arwan. Emang kenapa mbak En? itu kan masih ada buah potong yang lain.
"Tapi aku maunya buah nanas Mang.
"ABAAAAANG... Endita berteriak sangat nyaring, membuat seisi rumah kaget, terlebih bi Inah dan Mang Ujang yang ada di dekat Endita. mereka tidak mengerti apa sebenarnya yang terjadi....
Arwan lalu bergegas berlari meninggalkan ruang keluarga menuju kamarnya di lantai dua.
Arwan sengaja menjahili Endita, memang tadi saat sore hari di taman belakang Arwan mengambil Nanas milik Endita yang sudah di potong-potong dan di simpan dalam lemari Es, tapi Arwan hanya memakan satu iris buah tersebut karena Arwan memang tidak terlalu menyukainya. pada saat Arwan makan se iris nanas tersebut mang Ujang lewat, mang Ujang menyangka buah nanas tersebut sudah habis. ternyata Arwan lagi-lagi berulah. Arwan tidak menghabiskan, hanya memindahkan dari mangkok merah kesayangan Endita ke wadah tertutup lain, agar Endita tidak melihatnya, tujuan Arwan seperti biasa hanya ingin menggoda gadis kecil itu.
"Abang Mana Bun, tanya Endita saat tiba di ruang kelurga.
"Baru saja ke kamarnya. kalian ini apaan sih, Endita kamu teriak-teriak kayak di hutan, Abang kamu, lari kencang kayak orang kesurupan.
Lalu Endita menceritakan kejadian di dapur masalah buah nanas potong nya yang raib, ulah si Abang.
setelah itu Endita Berlari menuju kamar Arwan di lantai dua di samping kamarnya.
"Endita ... Arwan bener-bener tuh anak, sebentar berantem, sebentar lagi baikan. Ayah hanya bisa geleng-geleng kepala gemas, melihat kelakuan kedua Anak-Anak tersebut.
Tapi keseruan mereka berdua lah yang membuat rumah besar itu menjadi ramai.
door... door... door
"ABANG... dengan suara lantang Endita menggedor pinta kamar Arwan. Bukain gak, kalau kagak di bukain aku gak mau ngomong sama Abang.
"Kalau Endita beneran gak mau ngomong sama aku, wah gak seru nih, gak ada yang bisa aku goda. batin Arwan
"Iya... iya... Abang bukain.
"Kenapa malam-malam main gedor-gedor kamar orang. kata Arwan, walau sebenarnya Arwan sudah tau ini pasti masalah Nanas. tapi di sengaja ingin menggoda "cicak cantik" kesayangannya.
"Abang, mana nanas punya ku yang ada di mangkok merah dalam kulkas?
"Disini.. kata Arwan sambil menunjuk perutnya.
"itukan punya ku Abang...Endita mulai cemberut, sambil menghentak-hentakkan kakinya kelantai dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
karena Arwan takut kalau Endita akan beneran nangis, Arwan lalu jongkok di depan Endita.
" Sini sambil menepuk punggungnya. cepetan, mau nanas gak ?
__ADS_1
"Endita lalu nemplok lagi ke punggung Abang kesayangannya.
mereka berjalan menuruni tangga menuju dapur, di ruang keluarga Ayah dan bunda yang melihat kejadian itu hanya tersenyum.
"Kalian itu ya, sebentar berantem, sebentar baikan. bunda berkata sambil geleng-geleng kepala.
Arwan hanya nyengir saja berlalu menuju dapur dengan Endita masih nemplok di punggungnya.
" Nih buah kesukaan kamu. Arwan menyodorkan wadah tertutup kepada Endita.
Endita membukanya dan senyum merekah di bibirnya.
"Inikan Buah Nanas aku Bang, kok masih ada.
"Tadi aku hanya pindahin aja tempatnya, sengaja mau godain kamu.
"Maaf ya, My Queen.
Dengan mulut penuh buah Endita mengangguk.
Begitulah keseruan mereka. saling menjahili, tapi saling sangat menyayangi.
******
Setelah Shalat dhuhur.
Ketiga dokter muda Cantik dan tampan, Istirahat makan siang di kantin depan puskesmas tempat Arwan, Radha, dan Jenny bertugas. Ketiganya berkumpul dalam satu meja. Jenny sekarang sudah tidak pernah menggoda Arwan lagi. Dia mencoba move on.
Radha mengurus pindahnya ke ibukota. karena dua bulan lagi akan menikah dan Dokter Bryan memintanya untuk buka praktek di kliniknya Bryan saja.
Waktu makan siang itu Jenny murung, tidak banyak bicara.
"We, lu kenapa kok dari tadi bengong aja. Radha menepuk bahu sahabatnya.
"Akhir pekan ini, gue di suruh balik sama nyokap bokap. karena sampe sekarang gue gak punya calon jadi gue harus nurut dengan jodoh yang sudah mereka siapkan. dan jika sudah nikah, gue harus tinggal di ibukota.
"Yang gue takut kalau jodohnya Tua, gendut, botak, mampus dah masa iya gue yang masih muda dan cantik gini harus di jodohin, kayak kagak laku aja. Jenny mulai menitikkan air mata.
"Ra, Ar Gue kabur aja kali ya, atau bunuh diri?
akh.. bingung... sambil mengacak acak rambutnya sendiri.
__ADS_1
"Gila lu mau kabur apalagi bunuh diri, lu kira bunuh diri gampang, kayak kagak punya iman lu Jen, kalau kabur, apa lu gak kasian sama orang tua lu, pasti sedih anak sayu-satunya hilang Arwan berkomentar.
"Bener tuh kata Arwan. gimana kalau lu pulang aja, kenalan dulu sama orang yang mau di jodohin ke elu, lu bicara baik-baik sama orang tua dan calon lu, kalau cocok lanjut kalau kagak ya mundur gimana ? Radha ikut memberi saran sambil mengusap punggung sahabat nya memberi kekuatan.
Jenny hanya mengangguk.
Tak lama makanan pesanan Meraka pun datang.
saat menyantap makanan, Ponsel Arwan berdering.
dret... dret...dret...
"Assalamualaikum Halo bang Al, kok tumben nelfon siang-siang biasa juga sore atau malam.
"Waalaikumsalam... Gue galau nih Ar, mamanya nyuruh gue segera nikah, tapi gue kan belum punya calon. trus karena gue belum punya calon, mama mau ngenalin gue, atau lebih tepatnya menjodohkan gue dengan anak sahabat nya.
"Trus kalau anak sahabat mama itu, ganjen, centil, manja, matre, kejam, arkh.... entahlah frustasi gue Ar.. kata Alvin dari seberang sana.
"Haa... Apa bang, Abang mau di jodohin... Arwan setengah berteriak, membuat yang ada di kantin itu memandang kearah Arwan. Arwan yang di tatap hanya nyengir kuda, sambil menyatukan kedua tangannya di depan dada isyarat meminta maaf.
"Abang ikutin aja dulu, ketemu sama gadis itu, kalau cocok lanjut kalau tidak ya mundur. makanya bang udah tua cepetan dong nikahnya. Abang ku kan ganteng banyak gadis yang antri, pilih aja salah satu bang.
"Abang masih ingat Jenny kakak tingkat ku di kampus, nasib Abang kok sama ya, sama-sama mau di jodohin, dasar kalian berdua jomblo kagak laku, hahaha.
"Enak aja lu, ngatian Abang kagak laku.
"Abang ingat lah, gadis cantik yang selalu main kerumah kan. kalau dia jodohnya Abang gak bakalan nolak lah hahaha. mereka tertawa bersama.
"Ya udah Ar, kamu akhir pekan ini pulang ya, temani Abang dan mama ketemu sama keluarga gadis itu
"Insya Allah siap Abang. Salam sama Mama. Assalamualaikum Arwan menutup pembicaraan via telfon.
"Waalaikumsalam, sampaikan salam hormat ku ke Ayah dan bunda, juga salam kangen sama Cicak cantik lu. .
mereka berdua lalu memutus panggilan.
Arwan menyimpan kembali ponselnya dan melanjutkan makan.
Bersambung ....
Bagaiman Kisah Jenny selanjutnya.
__ADS_1
Apakah jodoh untuk Jenny dan Alfin sesuai dengan kriteria mereka atau sebaliknya ...
tunggu kelanjutannya. jangan lupa komen dan jempolnya. terimakasih