
Di kediaman rumah besar nenek Wati. Di kamar utama Sinta dan juga Mukid saat ini, kegaduhan terjadi. Pasangan suami istri itu akhirnya terjadi percekcokan yang hebat. Bahkan biasa nya Mukid tidak pernah berbuat kasar, kini tiba-tiba menjadi tidak terkontrol.
"Cukup! Jangan keras-keras Mas! Nanti nenek dan Bana mendengar keributan kita," Ucap Sinta akhirnya menyudahi percekcokan diantara mereka. Mukid menarik rambut lurus nya sendiri lantaran sangat kesal. Untuk beberapa saat keduanya sama-sama diam dan menundukkan kepalanya sedih.
Mukid berjalan mendekati Sinta. Diraihnya tubuh langsung itu dalam dekapan nya. Dari belakang Mukid memeluk Sinta penuh kelembutan. Tentu saja Mukid tidak ingin kehilangan wanita yang dicintainya selama ini. Melihat Sinta dekat dan bisa tertawa lepas dengan tuan Drajat Ajisaka membuat Mukid tiba-tiba merasakan sesak dadanya. Begitu lah yang dirasakan Mukid, apalagi Sinta seperti cuek dan tidak memperdulikan dirinya saat bersama dengan nyonya Cintya.
"Apakah kamu tidak merasa cemburu ketika aku dekat dan bahkan sangat dekat dengan nyonya Cintya, hem?" tanya Mukid sambil mencium puncak rambut Sinta yang wangi.
"Aku? Tidak! Mana ada aku cemburu, mas?" jawab Sinta. Tentu saja Sinta membohongi Mukid dan dirinya sendiri.
"Benarkah? Bahkan nyonya Cintya selalu saja menempelkan bagian dada nya itu ke dada bidangku. Apakah sedikitpun kamu tidak ada rasa cemburu itu, hem?" tanya Mukid lagi. Kembali Mukid mengingat kan Sinta soal kejadian tadi.
Sinta membalikkan tubuh nya hingga kini keduanya saling berhadap-hadapan. Kedua mata mereka saling pandang. Mukid kini mengecup ujung hidung Sinta.
"Maaf, aku tadi sudah berkata sangat kasar dengan kamu, sayang! Jujur aku sangat cemburu, Sinta! Kamu bisa dekat dan akrab dengan tuan Drajat Ajisaka. Apalagi kamu bisa tertawa lepas dengan tuan Drajat Ajisaka. Dan yang membuat aku semakin panas dan marah. Tuan Drajat Ajisaka nempelin kamu terus macam perangko," kata Mukid. Sinta tersenyum mendengar nya.
"Aku pikir kamu juga akan cemburu ketika aku juga terlihat sangat dekat dengan nyonya Cintya. Tapi apa? Kamu cuek saja dan tidak ada rasa cemburu sedikitpun, apalagi ketika nyonya Cintya benar-benar menempelkan tubuh nya sangat dekat kepada ku saat dansa," ucap Mukid. Sinta kini tiba-tiba terkekeh mendengar ucapan Mukid. Mukid menjadi mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Kenapa kamu malah tertawa sih?" tanya Mukid.
"Hahaha, tidak, tidak! Aku senang jika melihat kamu cemburu seperti itu, mas! Itu artinya kamu benar-benar sayang dengan aku bukan?" ucap Sinta.
"Kamu ini benar-benar yah! Tentu saja aku sangat sayang sekali dengan kamu, Sinta!" kata Mukid.
Tanpa banyak kata-kata lagi, Mukid segera meraih tengkuk Sinta dan mendekatkannya di bibirnya. Segera Mukid memainkan bibir mungil Sinta dengan ganas. Sinta yang kurang persiapan tentu saja menjadi ngos-ngosan. Adegan berikutnya adalah keduanya sama-sama melakukan kegiatan intens dan saling mengikis jarak, saling memberi dan menerima, saling mengisi dan menerima.
*****
"Sayang, pakai dulu daster nya. Aku tidak ingin Bana yang cerdas itu bertanya yang aneh lagi dengan aku saat jalan mengantarkan ke sekolah," ucap Mukid sambil memberikan daster warna kuning kepada Sinta. Sinta segera mengenakan nya setelah ia memakai bra dan ****** ********.
Mukid membuka pintu kamar itu yang sejak tadi Bana masih saja ribut membangun kan dirinya dan juga mommy nya. Pintu itu terbuka dan wajah Bana melihat ke dalam kamar mencari sosok mommy nya.
"Selamat pagi, Bana!" ucap Mukid. Dan ketika Bana melihat mommy nya dan mommy nya tersenyum menatap Bana.
"Selamat pagi sayang!" ucap Sinta ikutan menyapa Bana. Bana masih terlihat sangat kesal lantaran melihat keduanya belum mandi dan belum bersiap mengantarkan dirinya ke sekolah.
__ADS_1
"Siang, ayah Mukid! Siang, mommy! Hari ini siapa yang mengantarkan aku ke sekolah?" Jangan bilang kalau aku pagi ini diantar oleh driver ayah atau diantar asisten pribadi ayah Mukid, om Reno," Kata Bana dengan menyilangkan kedua tangannya.
Mukid dan Sinta saling pandang lalu keduanya tersenyum dengan Bana.
"Ayah boleh libur sehari saja kan, mengantarkan Bana ke sekolah? Hari ini biar om Reno yang jemput dan mengantarkan Bana ke sekolah. Bagaimana, sayang? Besok pagi, ayah antar Bana deh," ucap Mukid.
"Baiklah! Lagi pula sudah sangat siang jika aku harus menunggu ayah mandi dan bersiap-siap. Apalagi ayah belum lagi sarapan pagi lagi," Kata Bana akhirnya. Mukid kini bisa bernafas dengan lega.
"Terimakasih sayang! Kamu memang anak ayah dan mommy yang paling pengertian," sahut Mukid. Sinta ikut menimpali.
"Bana sayang! Setelah ini, mommy janji deh bakalan kasih adik bayi untuk Bana," Ucap Sinta. Bana menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
"Mommy! Mommy tidak bisa berjanji seperti itu. Yang bisa kasih adik bayi itu adalah Tuhan. Mommy tidak bisa mendapatkan adik bayi jika Tuhan tidak menghendaki," kata Bana. Sinta tiba-tiba saja jadi menguap mendengar perkataan Bana. Mukid terkekeh mendengar ucapan Bana.
"Baiklah, aku harus segera turun ke bawah sarapan pagi sambil menunggu jemputan dari om Reno untuk mengantarkan aku ke sekolah," Tambah Bana sambil menyalami ayahnya dan juga mommy nya sembari mencium punggung tangannya.
Setelah kepergian Bana, Mukid segera menutup kembali pintu kamarnya. Dan segera mengeksekusi Sinta yang masih berada di atas peraduan.
__ADS_1