
Ratna akhirnya tahu kalau Candra sebenarnya sudah memiliki keluarga kecil di kampung halamannya. Ratna tentu saja sangat sedih dan kecewa atas kebohongan yang dilakukan oleh Candra terhadap dirinya.
"Sinta, aku harus bagaimana? Sedangkan aku sudah berbadan dua," kata Ratna yang saat ini meminta pendapat pada Sinta. Ratna saat ini sedang kedatangan sahabatnya Sinta. Sinta sengaja mendatangi Ratna di rumahnya lantaran Ratna sedang tidak enak badan karena ngidam.
"Aku minta maaf Sinta! Aku tadi menghubungi kamu kembali ketika sudah sampai di hotel. Pasti kamu sangat kecewa dengan aku yah, lantaran kamu seharusnya menemui. laki-laki itu untuk menyelesaikan semua urusan," ucap Ratna.
Ada raut sedih dalam diri Sinta saat mengingat hal ini. Padahal hari ini dia harus bertemu dengan tuan Drajat. Namun tiba-tiba saja Ratna menelpon nya untuk kembali ke rumahnya lantaran Ratna mengalami rasa sakit yang hebat di perutnya.
"Tidak apa-apa Ratna! Semoga semuanya baik-baik saja dan semua masalah secepatnya bisa terselesaikan. Oke?" Sahut Sinta.
"Kata bang Candra, lusa dirinya akan kembali ke Malang. Kita akan menikah secara agama dulu," kata Ratna.
"Kenapa nikah agama dulu? Lebih baik segera daftar ke kua walaupun kalian mengadakan pesta nya belakang," protes Sinta.
"Sinta, kamu tahu? Ternyata selama ini bang Candra telah membohongi aku. Bang Candra ternyata sudah memiliki istri. Aku mengetahui nya lantaran saat aku menghubungi Candra, seorang wanita yang mengangkat nya. Lalu wanita itu langsung menebak nama ku. Wanita itu mengetahui namaku, Sinta," Cerita Ratna. Sinta menyimak cerita Ratna dengan serius.
"Lalu?" tanya Sinta masih sabar menantikan lanjutan cerita Ratna.
"Sinta, aku benar-benar merasa bersalah dalam hal ini. Aku tidak menyangka jika sudah menyakiti hati seorang istri dan dia adalah wanita hebat istri dari bang Candra. Bahkan istri bang Candra sudah memiliki dua anak. Lalu aku harus bagaimana, Sinta? Sedangkan aku sudah terlanjur hamil dan mengandung anak dari bang Candra. Kami berpacaran sudah cukup lama. Namun entah kenapa kami akhirnya tidak bisa mengendalikan diri untuk melakukan hubungan badan," cerita Ratna.
Sinta masih terdiam dan belum berbicara.
"Bang Candra sudah meminta ijin kepada istrinya untuk menikahi aku. Tapi bang Candra belum bisa menikahi aku sah secara hukum," lanjut Ratna.
"Ya sudahlah, Ratna! Nasi sudah menjadi bubur. Kamu terima dulu rencana bang Candra untuk menikahi kamu secara agama. Manatahu setelah itu akan berkelanjutan dan istrinya benar-benar mau memberikan ijin kepada kamu dan bang Candra menikah secara hukum dan agama. Bagaimana menurut kamu sendiri, Ratna? Aku tidak bisa memberikan solusi yang lebih baik dari ini. Karena aku sendiri saat ini juga sedang menghadapi masalah," kata Sinta.
"Eh, astaga! Handphone ku mati Ratna. Boleh aku pinjam charging gak?" tambah Sinta.
"Heem Sinta! Sebentar aku ambilkan dulu!" kata Ratna.
*****
"Mas Mukid sudah melakukan panggilan kemari sampai beberapa kali. Dia pasti sudah sangat mengkhawatirkan aku, Ratna," ucap Sinta khawatir.
"Jangan khawatir, Sinta! Aku sudah mengirimkan pesan chat pada suami kamu. Sebentar lagi mas Mukid akan menjemput kamu kemari," kata Ratna.
"Oh, syukur lah! Terimakasih banyak Ratna!" tanya Sinta.
"Sebenarnya ketika kamu sudah berada di hotel itu, suami kamu sudah menghubungi aku. Tapi ketika aku kembali menyuruh kamu kemari lagi, aku tidak menyampaikan lagi ke suami kamu jika kamu sudah berada di rumahku lagi," jelas Ratna.
"Tidak apa-apa! Yang penting mas Mukid saat ini sudah mengetahui kalau aku ada di rumah kamu," ucap Sinta.
*****
Salma menangis kecewa ketika Candra berkata jujur kepada nya. Selama ini Candra telah mengkhianati Salma selama di merantau di kota malang.
__ADS_1
"Karena kamu sudah menghamili wanita itu, mas. Kamu harus bertanggungjawab mas!" Kata Salma.
"Bagaimana dengan kamu, Salma?" Tanya Candra.
"Kamu bisa menceraikan aku, bang!" Sahut Salma.
"Tidak! Aku tidak ingin menceraikan kamu, Salma! Bagaimana dengan anak-anak kita kalau kita bercerai?" Kata Candra. Kini terlihat jelas kalau laki-laki di depannya ini sangat egois.
"Apakah kamu ingin serakah memiliki dua istri, bang?" Tanya Salma.
"Tidak sayang! Ijinkan aku menikahi Ratna namun secara agama. Ratna sudah mengandung anakku, Salma. Apakah kamu tega jika Ratna hamil tanpa ada yang bertanggung jawab karena sudah berbadan dua?" ucap Candra menyudutkan Salma.
Sebagai seorang wanita yang pernah merasakan hamil atau mengandung tentu saja akan menjadi sedih jika melihat seorang wanita hamil tanpa suami. Bahkan wanita itu hamil karena ulah dari suaminya.
"Kenapa kamu mengkhianati aku, bang? Aku selama ini sudah mempercayai kamu dan tanpa ada keraguan. Tapi kenapa kamu membuat aku kecewa, bang? Kenapa, bang?" ucap Salma.
"Maaf, Salma! Aku khilaf!" ucap Candra.
"Khilaf, bang? Kamu bilang khilaf? Sedangkan kamu selalu melakukan nya berulang-ulang kali dengan Ratna. Dan bahkan kamu telah membohongi Ratna. Kamu mengaku kalau kamu laki-laki yang belum menikah," ucap Salma yang mengungkapkan emosinya.
Candra meraih tubuh Salma erat dari belakang. Betapa tangis Salma semakin terisak-isak.
"Maafkan aku, Salma! Maafkan aku! Tolong, jangan pergi dariku. Aku mau kita tetap menjadi suami istri sampai nenek kakek dan membesarkan anak-anak kita," ucap Candra seraya mendekatkan erat Salma.
Candra memutar badan Salma hingga kini mereka saling berhadapan. Kedua tangan Candra kini merangkum kedua pipi Salma. Dan mengusap lembut air matanya.
"Maafkan aku, sayang! Aku benar-benar khilaf dan tidak sadar menyebut namanya. Aku kacau, Salma. Karena Ratna saat ini telah hamil. Aku harus bertanggung jawab," kata Candra.
Cukup lama Salma menatap kedua netra Candra yang mengiba.
"Baiklah! Aku ijinkan kamu menikah dengan Ratna. Tidak hanya menikah secara agama saja, melainkan secara hukum. Akulah yang akan menikahkan kamu dengan Ratna. Aku ikut bersama kamu di kota Malang," ucap Salma.
"Salma! Tapi kenapa, sayang? Jangan lakukan itu! Aku takut kamu sakit hati ketika melihat aku menikah lagi," sahut Candra.
"Aku akan lebih sakit hati lagi jika kamu menyakiti wanita itu karena akuaku. Sekarang jawab pertanyaan ku satu ini. Apakah kamu benar-benar menyayangi Ratna?" ucap Salma.
Candra diam tidak berani menjawabnya. Tentu saja Candra takut jika jawab nya akan membuat sakit hati Salma.
"Jawab bang!??" Teriak Salma.
"Eh, emmm aku aku menyayangi Salma!" sahut Candra.
"Jawab saja bang! Jawab bang!" Ucap Salma lagi.
"Aku menyayangi kamu Salma! Dan juga aku menyayangi Ratna. Maaf! Maafkan aku!" Kata Candra.
__ADS_1
Kembali Candra meraih tubuh mungil Salma dan mendekapnya erat. Tangis itu semakin deras. Namun Salma sudah bertekad ingin menikahkan suaminya dengan Ratna. Iya, wanita yang sudah dibohongi oleh suaminya yang mengaku masih bujang.
*****
Reno mengantarkan pulang Galuh di apartemen nya. Sedangkan Mukid segera meluncur ke rumah Ratna setelah Ratna mengirimkan pesan chat di ponsel nya bahwa Sinta saat ini berada di rumahnya. Saat sampai di depan bangunan tingkat dan tinggi menjulang, Reno menghentikan mobilnya. Galuh membuka sabuk pengaman yang ia kenakan.
"Perlu diantar sampai ke pintu apartemen kamu?" tanya Reno sambil tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya. Galuh tersenyum sangat manis menanggapi tawaran Reno.
"Tidak usah! Aku bisa sendiri dan sangat berani," jawab Galuh terkekeh. Namun ketika Galuh turun dari mobil itu. Reno terlihat membuka sabuk pengaman nya dan segera keluar dari mobilnya. Serta merta, Reno menyusul langkah lebar Galuh yang terlihat berjalan cepat.
Malam sudah semakin larut. Galuh yang diikuti Reno segera berjalan ke arah lift. Tidak ada penjaga lift di sana. Galuh dan Reno kini sudah berada di dalam lift hanya berdua saja. Kedua mata mereka saling bertemu dan sama-sama melemparkan senyuman. Entah apa artinya senyuman diantara mereka. Yang jelas hati mereka lah yang sama-sama tahu.
Saat pintu lift itu terbuka dan berhenti sesuai nomer yang ditekan oleh Galuh, keduanya melangkah keluar bersama. Reno tetap mengikuti Galuh dari belakang seolah memberikan kesempatan Galuh untuk berjalan lebih dahulu. Hingga Galuh berhenti di apartemen dengan nomor miliknya, ia segera mengeluarkan kartu elektronik dan menempelkannya di samping pintu. Handle itu dibuka oleh Galuh.
"Ayo masuk! Tidak mungkin kan, kamu langsung kembali pulang tanpa masuk dan sekedar minum kopi dahulu!?" ucap Galuh sambil tersenyum ramah. Tanpa bicara Reno mengikuti langkah Galuh yang masuk ke apartemen miliknya.
Sepatu nya dilepaskan dan terlihat kedua kaki nya sudah bertelanjang tanpa alas kaki. Galuh menawarkan kopi untuk Reno.
"Duduklah! Sebentar aku buatkan kopi untuk kamu!" ucap Galuh seraya melepaskan blezer yang ia kenakan hingga menyisakan kemeja tanpa lengan. Reno memperhatikan Galuh seraya naik turun jakunnya. Apalagi rok yang dipakai Galuh sangat mini dan di atas lutut.
"Apakah kamu sering memasukkan pria di dalam apartemen kamu?" Kata Reno dengan suara keras.
"Tidak ada! Kamu pria yang pertama yang masuk ke apartemen ku," Sahut Galuh. Reno tersenyum lebar.
*****
"Minumlah! Jangan sampai dingin kopinya!" ucap Galuh sambil duduk di depan Reno setelah meletakkan kopi untuk Reno. Reno memperhatikan paha putih dan mulus milik Galuh. Seraya menyeruput kopinya, Galuh menatap lekat dan tanpa berkedip bola mata Galuh.
"Kenapa? Kenapa melihat ku seperti itu?" tanya Galuh.
"Kamu cantik! Sangat cantik sekali," jawab Reno. Galuh menarik nafasnya dan membuangnya dengan kasar.
"Kamu ada maksud apa, memuji aku, Reno?" tanya Galuh.
"Tidak ada! Oh iya, apakah kamu benar-benar mencintai tuan muda Mukid?" tanya Reno. Galuh menarik nafasnya. Kembali membuangnya dengan kasar. Kini kepalanya disandarkan di kursi sofa.
"Cantik dan seksi pun tidak menjamin cintaku diterima dan dibalas oleh pak Mukid! Bahkan aku sudah berupaya menarik perhatian pak Mukid. Namun aku baru sadar, dari sorot mata pak Mukid, beliau benar-benar sangat menyayangi istrinya. Rasanya sakit cinta bertepuk sebelah tangan," ucap Galuh.
"Ya sudahlah! Masih ada aku bukan? Aku tidak kalah tampan daripada tuan muda Mukid," ucap Reno. Galuh terkekeh mendengar nya.
"Tapi aku sudah menganggap kamu seperti sahabat, Reno!" Sahut Galuh.
"Sahabat bisa berubah menjadi kekasih atau pacar, bukan?" Kata Reno seraya mengedipkan bola matanya ke arah Galuh.
*****
__ADS_1