
Masih di balkon luar kamar Mukid dan juga Sinta.
"Jadi, kamu menggunakan aku sebagai umpan, mas? Ini sama artinya kamu seperti menjual aku pada tuan Drajat Aji Saka, mas!" protes Sinta dengan suara ngegas. Mukid menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tentu saja dirinya menjadi binggung jika istrinya ini sudah tersinggung lantaran menjadi barter.
"Ya sudahlah, kalau kamu tidak mau membantu aku. Lupakan saja! Anggap saja semua yang aku sampaikan tadi tidak kamu dengar," ucap Mukid. Mukid segera meninggalkan Sinta yang masih membuang wajahnya enggan menatap dirinya. Mukid berjalan gontai keluar dari kamarnya tanpa Sinta menyadari nya.
Sinta menyipitkan bola matanya lalu menatap suaminya jengah. Tiba-tiba saja dirinya merasa tidak dihargai oleh suaminya. Dirinya di jadikan alat barter dengan dana yang dijanjikan oleh tuan Drajat Aji Saka, sama artinya Mukid telah menjual tubuh nya dalam satu malam kepada tuan Drajat Aji Saka. Waalaikum Mukid dengan Reno sudah merencanakan siasat supaya Sinta tidak benar-benar jatuh dalam pelukan tuan Drajat Aji Saka. Namun apakah siasat dan rencana itu bisa dipastikan seratus persen berhasil? Jika tidak? Dirinya benar-benar jatuh di dalam pelukan tuan Drajat Aji Saka. Dan lebih parahnya, Sinta akan melayani sepanjang malam bersama laki-laki lain yang bukan suaminya.
"Mas Mukid! Tunggu! Aku belum selesai bicara!" Teriak Sinta penuh kemarahan ketika Mukid tiba-tiba sudah pergi dari balkon luar kamar itu dan tidak berada di dalam kamarnya.
"Di mana mantan ayah tiriku itu, hahh!" gumam Sinta. Sinta akhirnya mencari Mukid di lantai bawah.
"Awas saja, kalau nanti masuk kembali ke dalam kamar. Akan aku bikin tidak bisa berjalan dan berbaring saja di atas kasur," Ancam Sinta geram.
*******
Mukid sudah berada di dalam kamar Bana. Saat ini Bana sedang menginjak- injak badan Mukid yang sudah tengkurap. Bana sangat bersemangat berdiri di atas badan ayah tiri nya itu.
"Ayah Mukid, pasti kecapekan yah bikin adik bayi untuk aku," ucap Bana dengan suara cempreng nya. Mukid yang mendengar ucapan Bana tersenyum menahan tawa nya.
"Ayah capek dengan kerjaan kantor. Makanya Bana cepat besar supaya bisa bantu ayah mengurus perusahaan. Oke?" kata Mukid mengalihkan pembicaraan. Entah apa isi di dalam pikiran Bana saat ini. Jika sudah ketemu dengan ayah dan mommy nya pembahasan nya selalu saja soal adik bayi.
"Oke, ayah Mukid! Aku akan menjadi pengusaha sukses seperti ayah dan nenek buyut," kata Bana bersemangat.
"Aamin! Sayang naik dikit di daerah belikat ayah. Di sana rasanya pegal," ucap Mukid. Bana segera menggeser kakinya ke atas di daerah tulang belikat Mukid.
__ADS_1
Sinta sudah berdiri di ambang pintu kamar Bana. Tatapan matanya melihat ayah dan anakĀ itu sedang sangat akrab. Sinta tidak ingin mengganggu keduanya. Bana melihat mommy nya sudah berada di dalam kamar nya segera melebar matanya. Sebelum Bana berteriak menyapa mommy nya yang mendatanginya, mommy nya sudah memberikan kode jari telunjuk nya menutup mulutnya yang menyuruh Bana tidak berisik.
Sinta kini mendekat ke punggung suaminya, Mukid dan menggantikan posisi Bana yang sedari tadi menginjak-injak tubuh Mukid. Bana ikut diam dan menahan tawa nya dengan prilaku mommy nya.
"Bana, sayang! Kok kamu menjadi berat sekali sih sayang! Sesak dada ayah," ucap Mukid. Sinta semakin menekan badan Mukid yang tengkurap itu. Sampai akhirnya Mukid merasakan sesak.
"Ahhh sayang! Berat, sudah cukup Bana sayang!" ucap Mukid.
Suara tawa Bana lepas memenuhi kamarnya. Mukid baru menyadari kalau yang saat ini menimpa tubuh nya adalah Sinta.
"Ih, sayang!" kata Mukid.
"Hehehe," tawa Sinta.
"Hahaha hahah, mommy jahat yah, ayah?" ucap Bana.
"Maaf ayah, mommy! Silahkan kembali ke kamar ayah dan mommy sendiri! Bana sudah mengantuk, besok sekolah dan harus berangkat lebih pagi. Oke?" usir Bana kepada Mukid dan Sinta. Mukid dan Sinta saling pandang dan tersenyum.
"Mana ciuman buat mommy?" tanya Sinta sambil menunjukkan pipi nya yang siap dicium oleh Bana.
Bana dan Mukid akhirnya sama-sama mencium pipi Sinta Masing-masing kanan dan kiri secara bersamaan.
"I love you, mommy!" ucap Bana.
"I love you to, sayang!" sahut Sinta.
__ADS_1
"Selamat malam, Bana sayang!" ucap Mukid seraya mengajak Sinta keluar dari kamar Bana. Bana sudah berbaring dan menarik selimut tebalnya.
"Selamat malam ayah Mukid! Selamat berjuang bikin adik bayi untuk Bana," ucap Bana sambil menutupi wajahnya dengan selimut.
Sinta memutar bola matanya jengah mendengar kalimat akhir dari putranya.
"Nah, putra kamu saja secara tidak langsung menyuruh aku berjuang malam ini untuk membuat adik bayi lagi," Bisik Mukid kepada Sinta.
"???? " Sinta diam menaiki anak tangga bersama dengan Mukid.
*****
"Aku sudah memutuskan, mas! Aku mau membantu kamu menyelesaikan masalah perusahaan. Baiklah, aku mau dijadikan barter untuk mendapatkan kembali uang kamu yang di bawa kabur orangnya tuan Drajat Aji Saka," ucap Sinta setelah mereka sama-sama berbaring di atas tempat tidur sambil berpelukan.
"Kamu yakin, sayang? Jika kamu merasakan tidak yakin dengan rencana Reno, kamu jangan memaksakan diri menyanggupi usul ini. Dengarkan saja suara hati kamu saja sayang. Aku juga tidak ingin terjadi apa-apa dengan kamu. Seujung kuku pun, sebenarnya aku tidak akan rela kamu disentuh oleh tuan Drajat Aji Saka," ucap Mukid.
Sinta kini menatap wajah tampan suaminya.
"Apakah kamu sangat cemburu mas?" tanya Sinta.
"Tentu saja, sayang! Jelas-jelas kamu adalah istriku, tetapi tuan Drajat Aji Saka sudah berani terang-terangan meminta aku untuk tidur dengan kamu satu malam. Apa dia sudah gila dan tidak waras?" Sejak lama rupanya tuan Drajat Aji Saka selalu memperhatikan kamu, sayang!" kata Mukid.
"Bagaimana kamu mengetahui hal ini, mas?" tanya Sinta.
"Bahkan dia sudah menyusupkan orang nya dan mendapatkan posisi yang bagus di perusahaan ku. Dan anehnya aku dan Reno tidak merasakan kecurigaan itu. Benar-benar pintar, tuan Drajat Aji Saka itu! Dia melakukan ini demi apa? Demi menghancurkan aku, kamu dan rumah tangga kita," tuduh Mukid.
__ADS_1
"Aku rasa, tuan Drajat Aji Saka hanya terobsesi saja dengan barang milik orang lain yang menggiurkan matanya. Dan barang itu adalah aku, mas!" Sahut Mukid. Mukid melebarkan matanya.
Dengan segera Mukid menghujani bibir Sinta dengan ciuman liarnya. Tanpa memberikan ruang untuk menolak bagi Sinta, Mukid sudah berada di atas tubuh Sinta. Mukid kini mulai di atas tubuh Sinta dan menghujaninya dengan ciuman. Tangannya sudah bergerilya kemana-mana mencari dua gundukan yang menjadi mainan favoritnya jika sudah melakukan kegiatan intens suami istri.