
"Ratna! Tolong bukakan pintu nya dong sayang! Aku mau bicara! Aku kangen kamu sayang," ucap Candra.
Ratna kini berdiri di balik pintunya. Dia menangis sesenggukan. Sebenarnya dia sangat rindu dengan suaminya, Candra. Namun dia juga membencinya. Karena Candra terkadang sangat menyebalkan. Terkadang bisa lembut. Terkadang bisa menjadi kasar. Terkadang kaku dan galak sehingga Ratna sulit mengartikan sikap suaminya itu.
Dulu saat dirinya menjadi mahasiswa nya Candra, betapa Ratna sangat mengidolakan Candra. Candra begitu berkharisma dan terlihat berwibawa. Namun setelah mengenal lebih dekat dan dalam baru Ratna semakin tidak mengerti karakter Candra yang berubah-ubah. Namun sebagai seorang laki-laki dewasa, Candra tetap lah laki-laki normal yang ketika sudah melihat seorang wanita cantik, bohay dan terlihat seksi tetap saja jakunnya naik turun. Apalagi kalau pikiran nya sudah terkontaminasi dengan bau mesum dan suka melihat film dewasa yang semakin memiliki fantasi liar untuk mewujudkan nya.
Candra kembali memanggil Ratna dan mengetuk pintu utama apartemen itu. Namun Ratna masih berdiri mematung di balik pintu apartemen nya. Air matanya jatuh berderai. Selama kehamilannya ini Ratna benar-benar bawa perasaan dan mudah sekali termehek-mehek. Apalagi saat melihat suaminya bersama dengan istri pertama nya, hatinya sangat sedih dan pilu. Ratna merasakan rindu dengan suaminya. Namun dia juga tidak mau tersakiti lagi.
Apakah cinta seperti ini? Rela mengorbankan perasaan nya walaupun hatinya lara. Ratna perlahan membukakan pintu apartemen itu. Kini kedua netra antara Candra dan Ratna kini bertemu. Ratna tidak bisa menyembunyikan kepiluan nya dan bengkaknya matanya lantaran banyak menangis.
"Ratna! Ratna sayang! Terimakasih kamu sudah mau membukakan pintu untuk ku. Aku rindu kamu, Ratna! Aku tidak bisa kalau kamu pergi menjauh dariku," ucap Candra. Ucapan itu begitu manis sekali. Apakah mulut itu akan kembali berucap seperti itu ketika di sisi Candra ada Salma?
__ADS_1
Candra meraih tubuh tambun dan berisi Ratna. Perut nya semakin hari semakin membuncit. Mungkin setelah Sinta melahirkan, dia lah berikutnya. Ratna menangis sesenggukan. Dia begitu cengeng sekali. Anehnya Candra yang tidak pernah merendah dihadapan seorang wanita, bahkan istrinya kini menangis dan bersimpuh di kaki Ratna.
"Sayang! Maafkan aku sayang! Aku minta maaf! Kamu jangan menjauhi aku. Aku tidak bisa! Benar-benar tidak bisa. Seminggu ini aku tersiksa tidur sendirian. Kamu tahu? Itu tidak enak, Ratna," kata Candra. Ratna menyipitkan bola matanya.
"Memangnya di mana mbak Salma, mas?" tanya Ratna.
"Ratna sudah kembali ke kampung, saat kamu pulang ke apartemen kamu ini," jawab Candra. Ratna terdiam.
"Kita pulang yuk! Aku mau kamu pulang ke rumahku, Ratna," ajak Candra. Ratna diam dan belum menjawabnya.
"Tapi mas Candra! Aku ingin di sini saja! Kamu bisa kesini mendatangi aku jika kamu merindukan aku. Aku tidak mau kembali ke rumah kamu, mas," ucap Ratna.
__ADS_1
"Kenapa, sayang? Aku kan suami kamu! Rumahku rumah kamu juga. Kamu tidak betah lagi di rumahku, yah sayang!" ucap Candra.
Ratna tidak mau mengatakan alasannya. Namun saat ini dirinya benar-benar sudah tidak nyaman di rumah itu. Apalagi jika Salma di rumah itu.
"Sayang! Salma sudah kembali ke kampung sayang! Apa yang kamu pikirkan? Aku sendirian di rumah itu. Aku butuh kamu," desak Candra.
"Kita pulang ya? Yah, sayang?" desak Candra lagi. Ratna mengganguk pelan. Betapa Candra hatinya penuh kemenangan.
"Yes!" Candra tersenyum lega.
"Mari, aku bantu beresin pakaian kamu," ucap Candra. Ratna tanpa penolakan lagi membiarkan Candra memasukkan barang-barangnya di tas travel nya.
__ADS_1
Begitu mudah sekali Ratna dibujuk oleh Candra untuk kembali pulang. Begitu luluh Ratna kembali dalam pelukan suaminya itu. Padahal menjadi istri ke dua itu begitu menguras energi dan menekan ego. Dalam hati menangis pilu saat mengingat harus berbagi kasih dan suami. Namun siapa yang salah dalam hal ini. Ratna sudah terlanjur mencintai dosen itu. Dia begitu mengidolakan dosennya lebih dari artis manapun.
****