
Saat ini Sinta bersama Ratna di kamar hotel yang sudah disiapkan oleh klien Mukid. Keduanya memilih mengobrol di dalam kamar setelah kekenyangan menikmati makanan yang enak-enak di hotel itu. Tentu saja Mukid membiarkan dua ibu hamil itu memesan makanan di hotel itu sepuas nya. Sedangkan Mukid masih fokus dengan obrolan serius bersama klien-klien nya di lobi hotel.
Setelah hampir satu jam berlalu, akhirnya Mukid selesai dengan urusannya bersama klien-klien nya dan menghasilkan kesepakatan bentuk kerja sama diantara kedua perusahaan besar.
Melinda yang mengetahui bahwasanya Mukid telah beristri tidak akan menyerah untuk mencoba mengambil hati CEO perusahaan ternama itu. Namun Mukid tetap tidak ambil pusing walaupun Melinda, putri konglomerat itu berusaha menarik perhatian Mukid.
Benar! Melinda adalah putri seorang konglomerat dari CEO perusahaan ternama bernama pak Gunawan. Dalam dunia bisnis pernikahan atau perjodohan bisnis itu sudah kerap terjadi. Sengaja pak Gunawan melibatkan putri nya dalam obrolan santai tapi serius itu ada maksud dan tujuan. Pak Gunawan ingin putri nya secepatnya melepaskan masa lajangnya karena usia nya sudah menginjak dewasa. Bahkan masuk kategori perawan tua karena Melinda kini usia nya sudah kepala empat. Ini lebih tua daripada Mukid yang masih terbilang muda dan masih berkepala tiga. Sedangkan pak Gunawan sendiri sudah berkepala enam. Makanya kepemimpinan perusahaan nya saat ini banyak dihandle oleh putrinya karena kesehatan nya mulai menurun.
Bentuk kerja sama diantara perusahaan itu akan benar-benar terjadi setelah proposal nanti dibuat dan bentuk-bentuk kerja sama itu sendiri akan ditandatangani bersama di hari kerja.
"Senang berkenalan dengan anda tuan Mukid! Setelah ini kita akan saling mendukung dan membantu dalam mengembangkan bisnis kita. Dan tentu saja kita akan lebih sering bertemu, tuan Mukid. Benar begitu, papi?" ucap Melinda. Mukid dan Pak Gunawan saling tatap dan melemparkan senyuman.
"Hahaha tentu saja dong! Tuan Mukid! Anda akan menjadi pria beruntung karena putriku sangat cerdas dalam mengelola dan mengembangkan perusahaan supaya lebih maju secara pesat. Apalagi kalau bisa menikahi putri saya," ucap pak Gunawan disertai tawa. Mukid menanggapi nya dengan candaan dan tidak serius.
"Benar! Nona Melinda memang sangat cerdas. Dari penyampaian bahasa nya saja sudah menunjukkan bahwasanya Nona Melinda sangat cerdas dan cekatan. Tipe wanita pekerja keras yang menjadi idola para pria-pria dewasa. Tapi sayang sekali saya sudah menikah, pak Gunawan. Seandainya saja saya masih lajang dan belum menikah, saya akan secepatnya melamar Nona Melinda supaya tidak kedahuan laki-laki manapun yang berusaha mendekati Nona Melinda," ucap Mukid tidak kalah pandainya memutar lidahnya.
Pak Gunawan, bendahara perusahaan dan asisten pribadinya terkekeh mendengar ucapan Mukid. Melinda terlihat memerah wajahnya dan hatinya penuh bunga warna-warni yang membuat dirinya terbang dan berangan-angan indah.
"Bukankah dalam kepercayaan dan keyakinan yang tuan Mukid anut memperbolehkan kalau anda bisa menikah lebih dari satu, tuan Mukid? Bahkan dua, tiga atau empat? Jadi boleh-boleh saja kalau anda sudah merasakan kecocokan demikian juga putri saya. Soal harta kami tidak mempermasalahkan nya. Kami sudah cukup bergelimang harta," Kata pak Gunawan serius. Mukid terkekeh mendengar nya. Kembali Mukid menanggapinya dengan gurauan dan candaan.
"Memiliki satu istri saja saya sudah kerepotan, tuan. Apalagi dua, tiga, atau empat. Bisa kurus kering badan saya Pak Gunawan," Sahut Mukid.
Kembali Pak Gunawan beserta orang-orang nya terkekeh saja.
__ADS_1
"Baiklah, tuan Mukid! Kami undur diri dulu. Kami ada acara keluarga setelah ini. Dan selamat menikmati weekend bersama pasangan spesial tuan Mukid," kata pak Gunawan sambil menjabat tangan Mukid. Demikian juga dengan Melinda beserta orang-orang pak Gunawan.
"Sayang sekali anda mengajak istri anda. Kalau tidak? Saya akan mengajak tuan Mukid untuk sekedar minum kopi bersama di kafe hotel ini," bisik Melinda sambil menjabat tangan Mukid begitu lama.
"Hahaha, maaf Nona! Sepertinya lain kali kita bisa ngopi bersama," sahut Mukid dengan kekehan nya.
"Akan aku tagih janji anda tuan Mukid," ucap Melinda tidak menyerah. Mukid kembali terkekeh mendengar nya.
****
Setelah selesai dengan urusannya bersama klien-klien nya, Mukid segera menuju kamar hotel. Di sana Sinta yang ditemani oleh Ratna menunggu kedatangan Mukid di kamar hotel.
Saat ini Sinta beserta Ratna sedang melihat drama Korea. Dua Ibu yang saat ini sedang hamil itu sama-sama meneteskan air mata karena larut dalam cerita drama Korea yang menguras air mata.
"Aku tidak akan memaafkan suamiku seperti tokoh dalam drama Korea itu. Aku pasti akan meninggalkan suami ku jika dia mengkhianati ku, hiks, hiks, hiks," sahut Sinta sambil mengusap air matanya yang deras membasahi pipi.
Di luar Mukid geregetan karena tidak juga dibukakan pintu nya. Padahal dirinya juga sudah menghubungi Sinta berkali-kali tapi tidak juga diangkat oleh Sinta.
"Sedang apa sih mereka? Dua Ibu hamil itu tadi sudah makan banyak. Apakah kekenyangan lalu tidur? Sampai tidak mendengar aku memencet bel," Gumam Mukid.
Sinta dan Ratna masih fokus dengan drama Korea itu. Sampai akhirnya Ratna melihat ponsel Sinta bergetar dan menyala terang.
"Sinta, seperti nya suami kamu menelpon deh," Kata Ratna sambil menunjukkan handphone Sinta.
__ADS_1
"Eh, benar!" sahut Sinta sambil berjalan mengambil handphone nya yang tergeletak di atas meja.
"Eh, mas Mukid di depan," Gumam Sinta. Sinta segera menuju pintu depan kamat hotel itu dan membukakan pintu nya.
"Mas Mukid! Kamu sudah selesai yah sayang?" ucap Sinta. Betapa wajah Mukid seperti kertas yang kusut karena diremas-remas. Sinta tiba-tiba saja menciut lalu menangis tiba-tiba.
"Gua, hua, hua aku tadi lihat drama Korea yang membuat aku sedih dan menangis. Sekarang aku harus lihat suamiku marah padaku, hiks hiks hiks," Kata Sinta. Mukid menyipitkan bola matanya.
"Eh?? Siapa yang marah?" sahut Mukid.
"Itu wajah mas Mukid jadi jelak banget saat aku buka pintu nya. Pasti kamu marah dengan ku kan gara-gara tidak aku bukakan pintu nya?" ucap Sinta. Mukid garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Cup, cup, cup sayang! Aku tidak marah kok! Ayo kita lihat drama Korea nya lagi! Atau kita lebih baik pulang saja ek rumah," kata Mukid.
"Tidak! Aku mau di sini sama Ratna. Kasihan Ratna saat ini di rumahnya ada istri pertama Candra. Dan suaminya sekarang lebih perhatian dengan istri pertamanya," Adu Sinta. Mukid melebarkan bola matanya menatap Istrinya. Sejak kapan istrinya itu menjadi secengeng ini dan sejak kapan jadi suka gosip?
Mukid menarik nafasnya dan menghembuskan nya pelan.
"Ya sudah, sayang! Ayo lihat drama Korea lagi dan temani Ratna. Aku akan buatkan susu ini hamil buat kamu," kata Mukid. Sinta langsung tersenyum.
"Heem! Tapi susu hamilnya rasa coklat Dua gelas yah, mas! Satu untuk aku dan satu lagi untuk Ratna," sahut Sinta.
Mukid kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Benar-benar ibu hamil satu ini," Pikir Mukid.