
"Apa? Bendahara tiga telah melarikan uang perusahaan?" tanya Mukid yang saat ini masih di atas tempat tidur nya dengan Sinta yang membenamkan kepala nya di bawah ketiaknya dengan manja.
Keduanya tentu saja masih polos belum mandi dan berpakaian setelah melakukan sarapan pagi nya. Karena sudah sangat panik dan terkejut, Mukid duduk diikuti oleh Sinta. Mata Sinta ikut melebar lantaran mengkhawatirkan kejadian yang bikin spot jantung itu.
"Benar, tuan muda Mukid! Bahkan orang ini diketahui sudah melarikan diri, tuan," jelas orang di seberang sana yang tidak lain adalah Reno sang asisten pribadi Mukid yang juga merangkap sebagai bendahara satu serta dipercaya Mukid memegang keuangan dan aset milik Mukid yang lain seperti hotel and resort di puncak dan pusat kota.
"Apakah masih ada alokasi gaji karyawan tiga bulan untuk ke depan masih aman, Reno? Ini yang paling terpenting supaya kondisi tetap aman terkendali dan tidak ada hal serta kejadian yang tidak kita inginkan diintern perusahaan. Walaupun kita harus memutar otak untuk menyelesaikan masalah keuangan kita di perusahaan," tanya Mukid sudah mulai ketar-ketir.
"Justru itu lah tuan Mukid! Kondisi keuangan kita sudah kacau lantaran bendahara ketiga di perusahaan sudah menarik dana gaji karyawan selama beberapa bulan ke depan. Bahkan nilainya sudah nol saldonya di rekening khusus itu," terang Reno.
"Appa? Bukankah aku belum menandatangani surat kuasa penarikan dana untuk karyawan, Reno? Kenapa orang ini bisa menguras saldo di rekening khusus itu?"sahut Mukid.
"Tapi data yang diberikan oleh pihak bank tertera ada bukti surat kuasa dari tuan Mukid. Bahkan di sana jelas-jelas sudah ada tanda tangan tuan Mukid," Kata Reno.
"Biadap!!! Jelas-jelas orang ini sudah memanipulasi data. Baiklah, segera aku ke kantor, Reno. Pastikan masalah ini jangan sampai bocor ke semua Divisi yang lain. Ini akan menimbulkan keresahan dan masalah baru. Kita harus mencari jalan solusi dari masalah ini. Jika perlu, kita harus menjual aset penting milik pribadi," kata Mukid.
"Soal menjual aset milik tuan muda Mukid seperti hotel and resort tidak semudah membalikkan telapak tangan, tuan muda. Dan jika kita mencari pinjaman ke pihak bank lagi, ini akan menimbulkan kebangkrutan perusahaan kita, karena keuntungan tidak seimbang dengan pengeluaran," jelas Reno.
"Oke, kita lanjutkan nanti di kantor saja Reno. Sebentar lagi kita akan bertemu dan membicarakan masalah ini," Sahut Mukid lalu meletakkan handphone nya.
Sinta diam menatap raut wajah Mukid yang panik dan khawatir. Mukid meraih tubuh mungil Sinta dan memeluknya.
"Kenapa kamu ikut khawatir, sayang! Yakinlah, semuanya ini bisa diatasi. Oke?" ucap Mukid. Sinta mengusap dada lebar Mukid yang masih bertelanjang dada.
"Baiklah! Aku akan berusaha yakin dan percaya dengan kemampuan suami ku dalam menyelesaikan masalah besar ini. Tapi jika kamu butuh bantuan, aku akan bicara semua ini kepada nenek Wati beserta anggota keluarga besar untuk memberikan pinjaman modal. Bagaimana?" ucap Sinta. Mukid tersenyum lebar walaupun dia masih menyembunyikan kebingungan nya untuk menyelesaikan masalah perusahaan itu.
"No, no sayang! Jangan! Masalah ini jangan sampai keluarga nenek tahu yah! Lagi pula jika mereka memberikan pinjaman modal ke perusahaan ini, nilainya belum cukup untuk memenuhi semuanya. Lebih baik aku bicara kan masalah ini dulu dengan Reno dan juga keluarga besar ku dulu yah," kata Mukid.
"Kamu yakin kan, mas? Yakin bisa menyelesaikan masalah ini?" tanya Sinta memastikan.
__ADS_1
"Mudah-mudahan, sayang! Doakan semuanya lancar dan suamimu ini menemukan jalan penyelesaian nya," kata Mukid.
"Cepat atau lambat, orang yang membawa kabur uang perusahaan segera ditangkap oleh pihak berwajib," tambah Mukid.
Mukid segera menyambar tubuh mungil Sinta dan membawanya masuk ke kamar mandi. Dalam situasi itu Sinta tidak ingin menambah stress suami nya. Sinta tidak akan menolak jika Mukid kembali mengukungnya dalam melampiaskan hasratnya lagi. Kembali di kamar mandi yang lebar itu Mukid melancarkan aksinya menabur benih-benih nya ke rahim Sinta.
Setiap lenguham yang saling bersahutan seolah melampiaskan beban pikiran yang menghimpit Mukid dalam permasalahan yang terjadi di perusahaan. Sinta harus paham akan semua ini.
Setelah semua nya usai, keduanya benar-benar membersihkan diri dan setelah nya Mukid bersiap pergi ke perusahaan.
"Aku ikut ke kantor yah, mas!" ucap Sinta dengan memohon.
"No, no, no sayang! Percaya dan serahkan semua nya pada suami kamu ini. Oke? Tugas kamu di rumah mendoakan suami kamu yang kece badai ini bisa menyelesaikan semua masalah dan diberikan kelancaran dan kemudahan untuk segala urusan kita," ucap Mukid. Sinta diam, namun sebenarnya ingin mengikuti suaminya.
"Aamin! Baiklah kalau begitu," Sahut Sinta.
*****
"Apakah kau yakin, Jho? Jika perusahaan milik tuan Mukid sedang di ujung tanduk?" tanya tuan Drajat Ajisaka memastikan.
"Benar tuan muda Drajat Ajisaka! Orang kita yang menyusup di perusahaan tuan Mukid sudah berhasil melarikan uang perusahaan itu. Saya sudah memastikan orang kita aman dan tidak akan mudah ditemukan serta ditangkap oleh pihak berwajib," Jelas Jho. Senyuman seringai tersungging diantara kedua sudut bibir tuan Drajat Ajisaka. Kini tawanya mulai meledak memenuhi ruangan nya.
"Hahahaha, hahahaha, rasanya sangat senang sekali mendengar berita yang menggembirakan ini. Jho, panggil Imelda ke ruanganku!" kata tuan Drajat Ajisaka.
"Imelda yah, tuan?" tanya Jho memastikan. Tuan Drajat Ajisaka menyipitkan bola matanya.
"Iya, Imelda sekretaris ku yang bohay!" Jelas tuan Drajat Ajisaka.
"Tapi tuan! Tadi nona Imelda sudah memberitahu kepada saya lebih dahulu saat tiba tadi pagi. Kalau dirinya sedang halangan atau menstruasi. Saat ini Imelda sedang merasakan sakit perut nya lantaran datang bulan. Jadi, nona Imelda sudah memesan kepada saya jika tuan Drajat Ajisaka menginginkan nya, dia tidak bisa datang ke ruangan tuan Drajat Ajisaka," Jelas Jho panjang lebar namun penuh ke hati-hatian.
__ADS_1
"Hem, kalau begitu panggil Vini. Dan pastikan dia tidak palang merah," kata tuan Drajat Ajisaka dengan merapikan kembali rambutnya.
"Baik, tuan muda Drajat Ajisaka! Saya permisi!" Sahut Jho dengan menunduk hormat.
"Tunggu, Jho!" Ucap tuan Drajat Ajisaka kembali sebelum Jho keluar dari pintu ruangannya.
"Iya, tuan!" Sahut Jho.
"Aku ingin kopi hitam dan beberapa makanan ringan. Jangan lupa bawa ke ruangan ku, tidak pakai lama," perintah tuan Drajat Ajisaka.
"Siap, tuan Drajat Ajisaka! Segera dipenuhi permintaan tuan Drajat Ajisaka," sahut Jho.
Tuan Drajat Ajisaka kini berdiri di depan cermin di ruangan kerja nya. Dengan tersenyum menatap pantulan bayangan dirinya.
"Aku tampan dan tidak kalah juga dengan tuan Mukid! Aku yakin bisa merebutnya. Hahaha. Sinta! Semakin sulit aku dapat kan aku semakin sangat penasaran untuk merebutnya," Gumam tuan Drajat Ajisaka sambil merapikan penampilan nya.
********
Di ruang kerja Mukid. Duduk di depan meja kerja Mukid, ada Galuh dan juga Reno sedang berbicara serius masalah perusahaan.
"Reno, apakah sudah ada kabar pihak berwajib menemukan keberadaan laki-laki bangsat itu yang sudah melarikan uang perusahaan?" tanya Mukid.
"Dari pihak berwajib sampai saat ini tidak menemukan keberadaan Ciko, tuan muda! Sepertinya di balik kejahatan dan tindakan nekat Ciko ada dalang yang kuat melindungi Ciko. Orang tersebut memang sudah merencanakan kehancuran perusahaan ini dengan mengirim Ciko di perusahaan ini. Selama tiga tahun ini, Ciko sangat tertutup dengan tim. Dan sedikit demi sedikit banyak kelemahan dan data perusahaan bocor," terang Rico. Mukid menyipitkan bola matanya.
"Siapa yang bermain-main dengan perusahaan ini, hah?" tanya Mukid mulai panik.
"Ini hanya dugaan tuan! Mungkin saja ada dendam masa lalu dari kepemimpinan dari ayahanda, tuan muda Mukid. Lebih baik tuan muda bicarakan hal ini dengan ayahanda," kata Reno.
"Ayahanda? Jangan, Reno! Masalah ini ayahanda lebih baik jangan tahu. Kesehatan nya kurang memungkinkan untuk menerima masalah dan keluhan dari aku. Kita harus memikirkan jalan keluar dari masalah ini saja, Reno," kata Mukid.
__ADS_1
Mukid menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar.