TEROBSESI ISTRI ORANG

TEROBSESI ISTRI ORANG
BAB 30


__ADS_3

Galuh sudah benar-benar merasakan tidak nyaman. Rasanya bagian-bagian sensitif nya seperti kesemutan. Galuh ingin melakukan sesuatu sendiri namun tangan dan kaki nya diikat. Betapa ini menjadikan penderitaan yang berkepanjangan yang Galuh rasakan. Dia benar-benar ingin menyalurkan hasrat nya. Siapapun dia sudah tidak perduli lagi, jika itu akan membuat dirinya sembuh dari cerita yang telah ia alami.


"Tolong! Tolong aku! Lepaskan aku! Uhh shhh ahhh tolong, siapapun di sana!" rintih Galuh.


"Siapapun kalian!! Tolong aku!!!" kini Galuh berteriak!"


Kini seorang laki-laki dewasa masuk di ruangan itu. Senyuman seringai tersungging di kedua sudut bibir nya. Melihat Galuh penuh tatapan minat.


Galuh menatap pria itu dengan harapan dan memohon.


"Tolong lepaskan ikatan kaki dan tangan aku!" pinta Galuh kepada pria dewasa itu. Pria itu menatap tubuh Galuh yang sudah tak berbalut kain lagi. Dia seperti binatang liar yang tak ada lagi rasa malu.


"Kamu minta tolong aku? Hah? Hahaha! Bahkan untuk hal yang bagi kamu tahu dan perbuatan nista, kamu meminta aku untuk menolong kamu dari penderitaan yang kamu rasakan? Apakah kamu ingat? Kamu sudah membuat aku melakukan hubungan dengan sesama jenis. Jika aku mengingat itu, rasanya aku sangat jijik dengan diriku sendiri. Sekarang kamu rasakan sendiri saat kamu butuh dan ingin menyalurkan hasrat kamu. Akhirnya kamu merengek meminta itu? Hahaha!"  ucap laki-laki itu yang tidak lain adalah tuan Drajat Aji Saka.


"Tolong lepas kan ikatan aku, tuan! Aku mohon! Aku sudah sangat tidak nyaman dan menderita!" ucap Galuh memohon. Matanya satu mengharap bekas kasihan pada tuan Drajat Aji Saka. Namun tuan Drajat Aji Saka tetap membiarkan Galuh dalam keadaan yang tidak bisa berbuat apa-apa selain rengekan nya yang keluar dari bibir nya.


"Apakah kamu sudah tidak bisa menahan lagi? Hem? Hahaha!" ucap tuan Drajat kini mulai mendekati Galuh.


Di tangan tuan Drajat Aji Saka kini ada botol air mineral. Serta merta tuan Drajat Aji Saka menyiramkan air mineral itu ke ujung kepala Galuh.


Byur.


Byur.


"Mungkin ini bisa mengurangi kamu dari rasa yang tidak nyaman. Aku tidak akan menyentuh kamu. Karena aku tidak minat dengan wanita seperti kamu!" ucap tuan Drajat Aji Saka.


Sebagian tubuh Galuh basah lantaran disiram air oleh tuan Drajat Aji Saka. Ucapan tuan Drajat Aji Saka tidak sesuai dengan apa yang dia rasakan. Sebenarnya tuan Drajat Aji Saka juga sudah menginginkan itu. Menyentuh dan memainkan keindahan di depan matanya. Namun tuan Drajat Aji Saka ingin menyiksa wanita di depannya.


Tok.


Tok.


Tok.


"Tuan! Ini aku Jho!" panggil asisten pribadi tuan Drajat Aji Saka.

__ADS_1


Suara pintu terdengar disertai panggilan dari Jho.


"Masuklah Jho!" ucap tuan Drajat Aji Saka. Jho membuka pintu itu dan ternyata tidak dalam keadaan dikunci oleh tuan Drajat Aji Saka. Mata Jho langsung tertuju pada Galuh. Kedua matanya menatap keindahan yang dimiliki oleh Galuh penuh minat.


"Ada apa? Cepat katakan!" tanya tuan Drajat Aji Saka.


"Di depan sudah menunggu tuan Mukid, Reno dan juga orang-orang nya," ucap Jho. Sesekali matanya melirik bagian indah milik Galuh yang membuat Jho menelan saliva nya sendiri.


"Baiklah! Aku akan segera kesana! Oh iya, lepaskan ikatan wanita ini dan kasih dia pakaian yang pantas. Jangan sampai tuan Mukid dan Jho melihat!" kata tuan Drajat Aji Saka.


"Siap tuan! Eh, em tapi tuan! Boleh kah aku sedikit saja...." ucap Jho yang sebenarnya sudah benar-benar ingin menikmati keindahan di depan mata nya.


"Terserah! Lakukan saja sesuka kamu sebelum mereka mengambil wanita ini dan akan aku jadikan barter dengan Mukid untuk adikku," kata tuan Drajat Aji Saka sambil berlalu dari ruangan itu.


Jho seperti mendapatkan durian runtuh. Benarkah, tuan nya memberikan ijin untuk menikmati keindahan di depan nya sebelum wanita itu menjadi barter kembali?


*****


Berdiri di ruang tengah Mukid, Reno dan juga orang-orang Mukid. Wajah Reno dan juga Mukid sudah tidak lagi bersahabat. Keduanya sudah menahan amarah dan sebenarnya ingin menghancurkan tempat itu. Namun orang-orang tuan Drajat Aji Saka juga tidak kalah berjaga di sana.


"Di mana Galuh! Cepat katakan!"  teriak Reno penuh emosi.


"Silahkan duduk dulu! Jangan emosi tuan!" sahut tuan Drajat Aji Saka.


"Kami tidak akan bisa tenang sebelum memastikan wanita itu dalam keadaan baik-baik saja!" ucap Reno. Reno benar-benar sudah mendidih kepalanya.


Jika bukan lantaran orang-orang tuan Drajat Aji Saka menahan dirinya, Reno sudah naik ke atas untuk mencari Galuh dan mengobrak-abrik tempat itu. Orang-orang tuan Drajat Aji Saka ternyata tiga kali lebih banyak dari orang-orang Mukid. Disamping itu persenjataan mereka juga lengkap.


"Tenang dulu tuan! Mari silahkan duduk!" ucap tuan Drajat Aji Saka. Mukid mengikuti ucapan tuan Drajat Aji Saka duduk di kursi sofa itu bersama tuan Drajat Aji Saka. Sedangkan Reno dan orang-orang nya masih siap siaga berdiri di ruangan itu. Reno akan memberontak mencari Galuh jika orang-orang tuan Drajat Aji Saka sedang lengah.


Kini tuan Drajat Aji Saka mengajak rundingan dengan Mukid.


"Cepat katakan, apa yang kamu inginkan tuan! Lepas kan sekretaris ku karena anda hanya bermasalah dengan aku," kata Mukid.


"Sabar tuan Mukid! Anda terlihat sangat tergesa-gesa sekali!" sahut tuan Drajat Aji Saka. Mukid semakin mendengus sebal.

__ADS_1


"Begini tuan Mukid! Saya menginginkan barter sekali lagi. Dan jangan ada lagi kecurangan diantara kita. Saya sudah melupakan yang kemarin. Sekarang saya benar-benar akan memegang janji saya," ucap tuan Drajat Aji Saka.


"Apa yang anda inginkan tuan Drajat! Apakah anda ingin meminta kembali dana itu setelah kami ambil?" tanya Mukid.


"Tidak, tidak! Itu terlalu kecil bagi saya! Uang saya banyak bahkan lebih banyak daripada itu! Saya sudah melupakan itu semua nya. Yang saya inginkan adalah diri tuan Mukid sendiri," kata tuan Drajat Aji Saka. Mukid menyipitkan bola matanya.


"Maksud tuan Drajat Aji Saka? Saya benar-benar tidak paham!" sahut tuan Mukid.


"Hahaha, bukankah saya sudah mengatakan dengan jelas? Apakah anda benar-benar tidak paham atau pura-pura tidak tahu atas permintaan barter ini?" kata tuan Drajat Aji Saka dengan tersenyum sinis.


"Maaf, tuan Drajat Aji Saka! Saya benar-benar tidak paham apa yang anda inginkan dari saya," kata Mukid.


"Baiklah, saya akan menjelaskan dengan bahasa yang jelas dan mudah untuk dimengerti. Saya menginginkan pertukaran wanita itu dengan anda tuan Mukid. Saya menginginkan anda mengganti kan Galuh. Dan yang saya inginkan adalah tuan Mukid mau menikah dengan adikku, Natali," kata tuan Drajat Aji Saka.


Kedua mata Mukid membulat dengan sempurna. Mukid menatap ke arah Reno dan orang-orang nya. Reno masih terlihat sangat kesal dan penuh kebencian dengan tuan Drajat Aji Saka.


"Apa? Bagaimana mungkin, tuan? Saya sudah menikah dan beristri. Bagaimana Mungkin  Saya menikahi adik tuan Drajat Aji Saka?" protes Mukd.


"Semua terserah anda tuan Mukid! Anda bisa memiliki istri lebih dari satu bukan? Bahkan Natali rela menjadi istri yang kedua karena dia sangat mencintai anda tuan Mukid. Bahkan jika anda mau menikah dengan Natali. Hotel dan resort Saya yang ada di kota H akan Saya berikan kepada Anda tuan Mukid. Apakah ini tidak menguntungkan anda menjadi adik ipar saya? Hahaha," ucap tuan Drajat Aji Saka.


Reno menatap tajam pada tuan nya, Mukid. Jika Mukid tidak menyanggupi barter itu nasib Galuh akan menjadi budak tuan Drajat Aji Saka seumur hidup. Dan ini akan membuat Reno semakin sakit hati dan merasa bersalah. Namun tuan Mukid juga dalam dilema karena tidak mungkin menyakiti Sinta, istrinya untuk kembali menikah dengan wanita lain.


"Jika anda tidak menyetujui ini semua, wanita itu tetap menjadi milik saya dan akan menjadi budak kami," kata tuan Drajat Aji Saka sambil melirik ke arah Reno.


"Kurang ajar, kamu Drajat! Dimana Galuh sekarang! Aku ingin melihat dia!" teriak Reno.


Mukid benar-benar tidak bisa berpikir lagi. Dia tidak mungkin membiarkan orang lain menderita dan menjadi tawanan tuan Drajat Aji Saka karena dirinya.


"Baik, baiklah! Aku menyetujui nya!" ucap Mukid akhirnya.


Reno segera berlari naik ke anak tangga mencari keberadaan Galuh. Orang-orang tuan Drajat Aji Saka berusaha menahannya, tapi tuan Drajat Aji Saka sudah memberikan kode untuk membiarkan Reno mencari Galuh.


"Biarkan saja dia! Kami sudah sepakat dengan barter ini," ucap tuan Drajat Aji kepada orang-orang nya.


Mukid menundukkan kepalanya lesu. Dia sudah tidak bisa memutuskan lagi dalam situasi yang membuat dirinya dilema dan susah untuk bernafas. Menyakiti Sinta? Itu bukan kehendaknya.

__ADS_1


__ADS_2