TEROBSESI ISTRI ORANG

TEROBSESI ISTRI ORANG
BAB 53


__ADS_3

Melinda sangat emosi diusir dari ruang kerja Mukid oleh Sinta. Dalam hatinya penuh dendam. Kini dalam pikirannya diselimuti rencana-rencana jahat. Awalnya dia tidak memiliki pikiran untuk menyingkirkan istri Mukid. Namun karena sikap Sinta yang kurang bersahabat dengan dirinya membuat Melinda jadi dipenuhi otak jahat dan berusaha menyingkirkan Sinta. 


"Sialan! Seumur hidupku aku tidak pernah mendapatkan perlakuan kasar dan penghinaan seperti ini pada seseorang. Bahkan dia bukan siapa-siapa dalam kehidupan ku. Apa gak dia untuk mengusirku di ruangan itu. Bikin malu saja," gumam Melinda. 


Melinda menghubungi seseorang untuk merencanakan niat jahatnya. 


"Ingat! Kau harus pastikan racun itu termakan oleh wanita itu! Jangan lupa! Aku ingin dia mati bersama bayi yang masih berada dalam kandungan nya," ucap Melinda memberikan perintah pada seseorang. 


Setelah sambungan telepon itu terputus, Melinda segera keluar meninggalkan perusahaan itu. Dengan hati yang masih diliputi rasa kesal dan amarah, Melinda menjalankan mobilnya dengan cepat. 


*****


Di ruangan kantor Mukid, Mukid berusaha membuat Sinta tenang dan tidak uring-uringan. Dari belakang Mukid memeluk Sinta hingga istrinya itu kembali nyaman. 


"Sayang! Lain kali kamu jangan gegabah mengusir orang sembarangan seperti itu yah! Dalam dunia bisnis dan orang yang berduit, mereka akan melakukan berbagai cara untuk melancarkan dendamnya. Kamu tahu bukan? Tuan Drajat Aji Saka saja berusaha menghancurkan aku ketika dia menilai akulah penyebab semua yang menimpa adiknya. Padahal Natali stress lantaran perbuatan pacarnya beserta teman-temannya. Aku hanya laki-laki yang dulu dicintai Natali namun aku tidak membalas cinta nya," kata Mukid menjelaskan pada Sinta. 


"Dan kamu tahu? Nona Melinda itu orang tuanya bergelimang harta. Dia bisa melakukan segala cara untuk melenyapkan seseorang jika orang menyinggung nya. Dan kamu tadi mengusir Melinda, sama saja mencari musuh dengan Melinda," tambah Mukid lagi. 


"Hem, aku tidak perduli mas Mukid! Dia dengan terang-terangan mendekati kamu dan mencoba merayu kamu. Kamu lihat saja mas! Ada aku duduk di sini saja dia berani seperti itu, apalagi tidak ada aku," ucap Sinta. 


"Aku maklumin kalau kamu cemburu dengan Melinda. Tapi yang penting suami kamu ini tidak menanggapi nya, sayang! Sekarang kalau sudah seperti ini, kita harus waspada. Pasti setelah ini akan ada kejadian yang akan mencelakai kamu," praduga Mukid. 


Sinta menyipitkan bola matanya menatap Mukid. 


"Aku tidak akan takut, mas! Selagi ada kamu di dekat aku, aku akan menghadapi semuanya," sahut Sinta. 


"Dan aku tidak akan membiarkan wanita yang aku cintai dan sayangi akan disakiti oleh orang lain. Apalagi saat ini kamu sedang mengandung anakku, anak kita. Sekarang aku dan kamu harus lebih waspada lagi sayang," ucap Mukid. 


"Terimakasih, mas! Kamu tahu mas? Aku tidak akan membiarkan orang lain merebut kamu dari aku. Karena aku sangat menyayangi kamu, mas!" kata Sinta. Mukid tersenyum lebar. Betapa kali ini Sinta mengungkapkan isi hatinya. 


"Demikian juga hal nya aku, sayang! Aku juga tidak akan membiarkan kamu direbut oleh laki-laki mana pun. Biar kamu saat ini gempa dan gemuk, aku tetap sayang. Bahkan makin sayang sama kamu," sahut Mukid. Mata Sinta membulat dengan sempurna. 


"Apa kamu bilang, mas? Aku gemuk? Aku gemoy? Jadi sekarang aku jelek, mas?" kata Sinta. Mukid garuk-garuk kepalanya. 


"Haduh serba salah kan? Tidak sayang! Kamu tetap cantik walaupun saat ini mengandung dan hamil anak kita. Bener kok! Ciuss! Sumpah!" kata Mukid sambil menunjukkan dua jari nya. 


*****


Kembali pintu itu diketuk seseorang. Padahal Mukid dan Sinta sudah bersiap kembali pulang. 


"Galuh! Ada apa?" tanya Mukid. Terlihat Galuh membawa paper bag ditangannya. 


"Ada paketan untuk bu Sinta!" ucap Galuh. Mukid dan Sinta menyipitkan bola matanya. 


"Untuk aku? Dari siapa?" tanya Sinta. 


"Katanya dari nenek nya bu Sinta," jawab Galuh. Sinta melihat paper bag yang tadi di bawa oleh Galuh. 

__ADS_1


"Ini puding coklat vla kesukaan ku! Tumben nenek mengirimkan nya kemari. Biasanya nenek menyiapkan nya di rumah. Seperti aku akan tidur di kantor ini saja," ucap Sinta. 


Sinta mengambil satu kotak puding coklat dengan vla susu itu. Sinta sudah mulai tergiur untuk memakannya. Ketika Sinta sudah mengambil satu sendok puding coklat itu dan hendak memasukkan nya ke dalam mulut, Mukid mencegah nya. 


"Tunggu, sayang! Jangan di makan!" ucap Mukid. Sinta melotot bola matanya seperti marah dengan Mukid. 


"Kenapa sih, mas? Dari tadi kamu selalu bikin aku emosi loh, mas," Protes Sinta. Galuh yang masih di ruangan itu melihat pertikaian Mukid dan Sinta. 


Mukid kembali memeluk Sinta untuk membuat tenang dan tidak lagi marah-marah. 


"Sayang! Baru saja tadi aku bicara bukan? Kita harus hati-hati dan waspada. Siapa tahu puding itu bukan dari nenek Wati. Melainkan dari orang-orang suruhan Melinda yang ingin mencelakai kamu dan bayi kita, sayang," ucap Mukid. Sinta mengernyitkan dahinya seperti membenarkan ucapan suaminya. 


"Galuh, coba kamu cari kucing atau tikus di kantor ini. Minta bantuan Reno atau satpam di kantor ini. Kita harus pastikan puding coklat itu tidak beracun dan aman," perintah Mukid. 


"Siap, pak! Saya permisi pak!" ucap Galuh lalu keluar dari ruangan itu. 


"Sinta sayang, sekarang kamu hubungi nenek dan pastikan apakah nenek hari ini membuat puding coklat kesukaan kamu apa tidak. Tapi tanya saja pelan-pelan dan jangan sampai nenek khawatir. Oke?" ucap Mukid. 


"Eh, iya mas! Baik aku akan menghubungi nenek Wati," sahut Sinta. 


Sinta menghubungi nenek Wati dan menanyakan sesuatu hal yang dikatakan Mukid. Betapa Sinta seketika menjadi gemetaran mendengar jawaban dari nenek Wati kalau hari ini nenek Wati tidak membuat puding coklat kesukaan Sinta. Melainkan nenek Wati membuatkan rujak buah untuk Sinta dan juga dibagi-bagi kan ke tetangga. 


"Mas Mukid! Nenek Wati tidak buat itu puding coklat vla kesukaan ku. Dan tentu saja nenek Wati juga tidak mengirimkan puding  coklat itu ke kantor ini. Jadi siapa yang kasih itu ke aku, mas?" tanya Sinta. 


"Sayang! Kamu yang tenang yah, sayang! Ada aku di sini! Nanti kita buktikan dulu, apakah aman puding coklat itu? Jika tidak aman, kita akan mencari pelakunya," kata Mukid sambil memeluk erat istrinya. 


"Tuan Mukid! Ini tikus yang tuan minta," Kata Reno. 


"Reno! Ini puding pastikan kasih masuk  ke mulut tikus itu!" perintah Mukid. 


"Sekarang tuan?" tanya Reno. 


"Sekarang, Reno! Sepertinya ada yang mau mencelakai istriku dengan mengirimkan puding ini dan di dalam nya sudah ada racun,"tebak Mukid. 


"Bagaimana anda bisa yakin tuan?" sahut Reno. 


"Ini hanya dugaan ku saja! Tapi kebenarannya akan terbukti setelah kita tahu reaksi tikus itu setelah memakan puding coklat itu," ucap Mukid. 


Reno segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Mukid. Reno memasukkan puding coklat itu ke dalam mulut tikus itu. Semua yang berada di ruangan itu menunggu reaksi nya. Mukid tetap memeluk erat Sinta yang sudah gemetaran. Reno dan Galuh pun dengan sabar menunggu reaksi tikus itu setelah memakan puding coklat dari pengirim yang belum jelas. 


"Tuan muda, lihat!" teriak Reno. Tiba-tiba saja Sinta menjadi sock dan tidak lama Sinta pingsan di pelukan Mukid. 


"Jadi benar dugaan ku, Reno! Tikus itu telah mati. Dan puding coklat ini beracun. Seseorang telah merencanakan untuk membunuh Sinta," ucap Mukid sambil menahan amarah yang meluap. 


"Saya segera mencari pelakunya, tuan! Anda jangan khawatir!" kata Reno berjanji. 


*****

__ADS_1


Mukid membawa pulang Sinta ke kediaman rumah utama mereka. Setelah sadar dari pingsannya, Sinta masih shock dengan apa yang menimpanya. Dia benar-benar tidak menyangkanya kalau ada seseorang yang akan mencelakai dirinya serta bayinya. Jika Mukid tadi tidak mencegahnya memakan puding coklat vla yang dikirimkan seseorang untuk nya, Sinta dan bayinya akan mengalami keracunan. Bahkan yang lebih buruk lagi Sinta dan juga bayinya akan meninggal dunia. 


Sinta saat ini ditemani oleh Galuh di kamar itu. Mereka merahasiakan kejadian hari ini pada nenek Wati dan juga Bana. Saat ini Mukid mulai bertindak mencari seseorang yang ingin mencelakai istrinya. Dugaan dan tebakannya begitu kuat. Mukid saat ini menjumpai Melinda di rumah kediaman nya. 


Mukid bertindak sendiri untuk menyelesaikan masalah ini. Semua yang dilakukan oleh Melinda pasti karena sakit hati lantaran sikap istrinya yang mengusir dirinya di kantor tadi siang. 


Kini mereka sudah bertemu dan saling tatap. Tanpa merasa salah, Melinda tersenyum ramah dengan kedatangan Mukid. 


"Selamat malam, dealing! Aku tidak menyangka jika kamu datang lebih cepat dari yang aku duga. Bagaimana kalau kita malam ini minum bersama dan bersenang-senang dulu, tuan Mukid? Saya sangat menyukai laki-laki dewasa yang agresif di jika di atas ranjang," ucap Melinda dengan senyuman manis nya. 


"Aku tidak akan berbasa-basi lagi, nona! Aku datang kemari hanya untuk mengingatkan kembali pada anda. Jangan sekali-kali menyakiti dan mencelakai istri saya. Karena kalau tidak? Aku tidak akan segan-segan menyeret anda ke penjara," ucap Mukid penuh ancaman. 


"Oh you, apa maksud anda? Menyakiti dan mencelakai istri anda? Kau sungguh tidak mengerti. Bahkan seharian ini saya sibuk dengan pedicure, manicure, spa dan juga perawatan wajah. Jadi mana ada waktu untuk mencelakai orang, apalagi istri anda tuan Mukid," ucap Melinda. 


"Ayolah, tuan! Saya punya wine dan kita lebih baik minum-minum dulu dan berbicara santai. Anda tidak perlu tegang seperti ini. Cukup bagian tertentu saja yang tegang. Itu yang aku sukai, uhhh," ucap Melinda dengan membusungkan dada nya. Sepertinya Melinda ingin menunjukkan punyanya lebih menggoda dan menantang. 


"Sekali lagi saya peringatkan kembali, nona! Sekali lagi anda mencoba meracuni atau ingin berbuat kriminal dengan keluarga saya, aku sendiri yang akan membalas nya," kata Mukid. 


Mukid segera berlalu tanpa mengindahkan teriakan dan panggilan dari Melinda. 


"Tuan Mukid! Tunggu dulu! Jangan buru-buru pulang!" teriak Melinda yang berusaha menahan lengan Mukid supaya tidak pulang dari rumah nya. Namun Mukid menepis tangan Melinda yang mencoba menarik tangannya. 


"Ih menyebalkan!" gerutu Melinda. 


"Semakin kamu menolak aku, semakin aku berambisi untuk mendapatkan kamu, Mukid!" gumam Melinda. 


Melinda kembali menyalakan video dewasa dan melihat adegan-adegan yang membuat dirinya terangsang. Melinda kini mulai bermain solo dengan alat-alat yang lengkap. Usianya yang sudah matang ditambah Melinda belum memiliki pasangan, sering kali Melinda melakukan kegiatan itu sendiri. Dengan alat-alat lengkap yang dibelinya, Melinda sudah mendapatkan kepuasan di sana. 


"Ah, Mukid! Seandainya saja dia mau aku ajak menjadi partner kegiatan malam ini, alat-alat ini akan libur malam ini," gumam Melinda sambil membayangkan wajah laki-laki yang baru saja mendatanginya. 


"Wanita itu tidak memakan puding coklat itu! Dia belum mati rupanya. Seperti nya aku harus menggunakan cara lainnya untuk membuat Mukid hidup sendiri tanpa wanita itu," gumam Melinda sambil aktif melakukan kegiatan solo nya. 


*****


Mukid bertemu dengan Reno di luar. Mukid akan memberikan tugas pada anak-anak buahnya untuk menjaga keamanan istrinya. Segala sesuatu kemungkinan bisa saja terjadi. Orang seperti Melinda adalah Wanita yang penuh ambisi dan nekat jika apa yang menjadi keinginan nya belum tercapai. 


"Reno! Pastikan orang-orang kita lebih waspada lagi. Tolong amati pergerakan orang-orang Melinda. Jangan sampai mereka bisa menyentuh istriku. Apalagi menyakiti nya," kata Mukid. 


"Baik tuan muda!" ucap Reno. 


"Apakah kita perlu menyampaikan hal ini pada pak Gunawan? Saya rasa, pak Gunawan bisa menasihati putri nya supaya tidak membuat gara-gara dan menyinggung kita," ucap Reno. 


"Apa menurut kamu, ini berhasil?" Sahut Mukid. 


"Akan saya coba, tuan!" Jawab Reno. 


"Lakukan apa saja yang menurut kamu bisa menghalau tindakan nekat Melinda," perintah Mukid. 

__ADS_1


"Baik tuan!" sahut Reno. 


__ADS_2