TEROBSESI ISTRI ORANG

TEROBSESI ISTRI ORANG
BAB 6


__ADS_3

Sinta nekat mendekati tempat duduk Mukid yang duduk diantara pria-pria dewasa pengusaha muda. Diantara mereka ada tuan Drajat Ajisaka yang masih menikmati obrolan dengan rekan-rekannya sambil menenggak gelas  kecil berisi wine. Tuan Drajat Ajisaka memperhatikan istri Mukid tersebut dengan tatapan penuh minat. Sorot matanya meneliti dari ujung sampai bawah penampilan Sinta. Sinta tidak memperdulikan orang-orang itu, yang ada hanya fokus mendekati suaminya.


"Mas Mukid!" ucap Sinta pelan sambil menoel lengan Mukid yang juga ikut menikmati minuman beralkohol itu. Mukid segera menoleh ke belakang ke arah Sinta.


"Oh iya sayang!" sahut Mukid. Mukid menatap bola mata Sinta dan memahami arti dan maksud Sinta mendekati dirinya. Mukid tersenyum lalu mulai pamit dengan tuan Drajat Ajisaka beserta rekan-rekannya yang duduk satu meja di sana.


"Maaf sebelumnya, tuan Drajat Ajisaka dan semuanya! Saya pamit dulu yah! Tampaknya istri tercinta saya sudah mengantuk. Mungkin lain kali saya bisa mengobrol kembali panjang lebar dengan kawan-kawan semuanya," ucap Mukid sambil menjabat tangan kepada semuanya satu persatu.


"Kenapa buru-buru sih, tuan Mukid? Padahal kita bisa minum-minum sampai pagi, loh. Dan istri anda kalau sudah mengantuk bisa tidur di kamar tamu. Rumah saya ini banyak kamar kosong kok," ucap tuan Drajat Ajisaka. Mukid tersenyum ramah dan didekat nya Sinta juga ikut berpamitan kepada nyonya Cintya beserta mama mama muda yang lainnya.


"Maaf, tuan Drajat Ajisaka! Mungkin lain waktu kita bisa ngopi bersama sambil mengobrol," kata Mukid akhirnya.


Mukid menggandeng Sinta keluar dari rumah yang baik istana itu. Mereka tetap bergandengan sampai masuk ke mobil mereka yang diparkirkan di depan rumah itu. Sinta masih memasang wajah yang dilipat. Bibirnya manyun ke depan.


"Biar aku saja yang nyetir, mas! Kamu tadi ikut minum bukan? Aku takut kamu mabok," ucap Sinta yang berusaha duduk di jok kemudi.


"Tidak sayang! Aku tidak mabok. Aku hanya minum dikit kok," Sahut Mukid.

__ADS_1


"Banyak atau sedikit, judulnya tetap kamu juga minum minuman beralkohol itu. Lagipula sejak kapan kamu minum minuman seperti itu sih?" Omel Sinta. Akhirnya Mukid menggeser  duduknya dan berpindah di samping tempat duduk kemudi. Sinta mulai menghidupkan mesin mobil itu dan mulai berjalan pelan.


"Sudah hampir jam dua belas malam. Semoga saja Bana sudah tidur dan tidak menunggu mommy dan ayahnya pulang. Anak itu sudah terbiasa menunggu orang tuanya tiba di rumah baru bisa tidur," kata Sinta. Mukid menoleh ke arah Sinta yang sedang nyetir dan menatap ke depan.


"Pelan-pelan saja, Sinta sayang!" kata Mukid. Sinta tersenyum kecut.


"Jangan khawatir, mas! Kamu harus percaya dengan aku kalau soal menyetir mobil. Kalau mengendarai kendaraan bermotor beroda dia, kamu bisa mengkhawatirkan aku dan tidak percaya dengan aku, mas," kata Sinta. Mukid tiba-tiba terkekeh mengingat Sinta sangat sering jatuh dari motor nya lantaran kurang pandai jika mengendarai roda dua itu.


"Kamu kenapa tertawa, mas? Kamu pasti ingat aku yang dulu yah! Selalu sering jatuh dari motor," ucap Sinta.


"Benar! Tapi gara-gara insiden kecil itu kita jadi mengenal satu dengan yang lain bukan?" sahut Mukid. Sinta menjulurkan lidah nya ke arah Mukid.


"Malam ini bisa tidak jika aku beristirahat?" tawar Sinta.


"No, sayang! Aku bahkan sudah menahan nya sejak dari kamu mengenakan gaun pesta itu. Betapa kamu terlihat menawan dan  sangat seksi," kata Mukid. Sinta hanya bisa menarik nafasnya dan membuangnya dengan kasar. Mukid hanya terkekeh melihat reaksi istrinya yang seperti sudah sangat muak ketika mengingat dirinya selalu meminta jatah setiap hari dan setiap waktu.


Setibanya di rumah, pasangan suami istri itu benar-benar melakukan ritual indahnya berharap dari pergumulan malam panjang itu mereka mendapatkan buah cinta nya seperti yang sangat diharapkan oleh Bana dan juga nenek Wati.

__ADS_1


*****


Di pagi hari di ruang kerja Mukid.


Di ruang kerja Mukid.


"Hem, jadi ini bentuk kerja sama yang ditawarkan oleh tuan Drajat Ajisaka? Ini sangat menguntungkan kita kah, Ren?" Tanya Mukid minta pendapat pada asisten pribadi nya.


"Dari proposal sudah dijelaskan pembagian keuntungan nya tuan. Ini cukup menguntungkan kita. Di tambah tuan Drajat Ajisaka akan memberikan modal kepada kita cukup besar untuk mengawali proyek yang akan direalisasikan," Jelas Reno, asisten pribadi Mukid dan juga salah satu pemegang keuangan di perusahaan selain tiga bendahara yang dipercaya oleh Mukid di perusahaan nya.


"Baiklah, buat janji besok siang dengan tuan Drajat Ajisaka. Sepertinya aku akan menyetujui kerja sama ini dengan nya," sahut Mukid tanpa ragu-ragu.


"Tapi tuan muda Mukid! Tuan Drajat Ajisaka ini menurut informasi, orangnya cukup licik. Apa sebaiknya kita menjauh dan tidak perlu bekerja sama dengan beliau. Lagipula masih banyak perusahaan kecil yang bisa bergabung dengan perusahaan kita," Kata Reno.


"Hem, itu hanya desas desus yang tidak bertanggung jawab. Aku sangat tertarik dengan isi perjanjian ini dan bentuk kerjasama nya. Ini benar-benar menguntungkan kita. Lagipula untuk proyek yang akan dibuat sepenuhnya modal dari pihak tuan Drajat Ajisaka. Kita hanya menjalankan proyeknya. Masalah keuntungan dan kerugian itu sendiri, kita tidak dirugikan sama sekali," Terang Mukid.


"Tetapi tetap saja gaji tenaga kerja semua atas tanggungjawab perusahaan kita, tuan! Jika terjadi sesuatu tetap perusahaan kita mendapatkan imbasnya. Apalagi pengelolaan dana untuk proyek, dari tuan Drajat Ajisaka sendiri. Soal kwalitas kita tidak bisa mengawasi nya," jelas Reno dengan pendapat nya.

__ADS_1


"Kita coba sekali ini dulu bekerjasama dengan perusahaan milik tuan Drajat Ajisaka. Anggap saja kita berspekulasi. Kalaupun di kemudian hari, tuan Drajat Ajisaka tidak bisa berkomitmen. Kita tidak perlu meneruskan kerjasama itu," kata Mukid.


"Baiklah, tuan Mukid!" sahut Reno.


__ADS_2