
"Selamat pagi pak!?" sapa Galuh pada Mukid saat Mukid baru tiba di kantor nya. Mukid melihat Galuh sekilas lalu menyipitkan bola matanya.
"Kamu sudah sehat, Galuh?" tanya Mukid.
"Saya sudah lebih baik, pak! Maaf selama satu minggu saya tidak masuk ke kantor," ucap Galuh.
"Tidak apa! Itu tidak menjadi masalah! Yang terpenting sekarang kamu sudah sehat dan jauh lebih baik. Oh iya, dimana Reno?" kata Mukid lalu masuk ke dalam ruangannya diikuti Galuh dengan membawakan tas Mukid.
"Reno sedang bersama nona Melinda di lokasi proyek, pak!" jawab Galuh.
"Pagi ini?" sahut Mukid.
"Ini sudah jam sepuluh pak! Mereka sengaja lebih awal pergi ke lokasi proyek untuk memastikan kinerja tenaga dari karyawan kita. Apakah mereka disiplin waktu atau mereka hanya terlihat rajin saat ada pimpinan mereka yang memantaunya," Jelas Galuh.
"Hem, begitu yah! Jadi Melinda yang terjun langsung dalam proyek ini? Aku pikir pak Gunawan sendiri lah yang mengawasi proyek kerja sama ini. Ternyata putri nya yang aktif sekarang," kata Mukid.
"Benar, pak!" Sahut Galuh.
"Kamu sendiri ada perlu apa menjumpai aku? Apa ada yang penting lagi?" ucap Mukid. Galuh menggaruk dahinya lantaran Mukid masih saja seperti menjaga jarak dengan dirinya. Padahal Mukid tahu kalau saat ini dirinya sudah menjadi kekasih Reno. Namun Mukid tidak melupakan kalau dulu Galuh juga menyukai dirinya.
"Tidak ada yang serius pak. Namun hanya mengingatkan nanti jam dua siang ada acara meeting bersama dengan para pemegang saham di perusahaan termasuk non Melinda," jelas Galuh.
"Jam dua siang? Aku tidak bisa Galuh. Kamu cancel saja jadwalnya dan diubah lusa saja. Hari ini aku sudah janji dengan Sinta istriku. Oh iya, aku nanti pulang lebih cepat, Galuh. Tiga jam dari sekarang aku harus pulang. Oke? Sampaikan pada Reno untuk meng-handle semuanya di kantor," jelas Mukid.
"Baik Pak! Akan saya ubah jadwal meeting nya," sahut Galuh.
"Oke, kalau sudah tidak ada yang lain kamu boleh kembali ke ruang kerja kamu. Aku harus segera memeriksa semua berkas-berkas laporan ini," kata Mukid.
"Baik Pak! Saya permisi!" ucap Galuh.
"Hem," sahut Mukid.
Namun sebelum Galuh keluar dari pintu ruangan kerja Mukid, Galuh kembali berkata.
"Hem, oh iya Pak Mukid! Sepertinya Pak Mukid harus kembali berhati-hati dengan non Melinda," ucap Galuh. Mukid menyipitkan bola matanya melihat ke arah Melinda.
"Kenapa?" tanya Mukid.
"Sepertinya dia ingin mendekati Pak Mukid," kata Galuh.
"Maksud kamu? Kamu tidak perlu basa-basi Galuh. Katakan secara jelas saja, apa yang kamu ketahui mengenai Melinda," ucap Mukid.
"Eh, em? Dia dia.. Dia.. " kata Galuh masih tetap tidak sanggup untuk menyampaikan praduga nya.
"Dia menyukai aku? Seperti kamu dulu? Itu maksud kamu kan?" ucap Mukid. Galuh tiba-tiba menjadi gugup.
__ADS_1
"Kamu jangan khawatir, Galuh! Pria seperti aku selalu saja ada wanita-wanita yang berusaha mendekati dan menggangu ku. Tapi beruntung, aku laki-laki yang memiliki prinsip dalam suatu hubungan selalu menjaga kesetiaan. Kecuali saat khilaf, hehehe," ucap Mukid disertai dengan candaan.
"Hehehe maaf Pak! Saya hanya khawatir saja dengan Pak Mukid kalau nanti nona Melinda ada maksud tersembunyi dalam kerjasama perusahaan kita dengan perusahaan yang dipegang nya," ucap Galuh.
"Oke, terimakasih kamu sudah mengingatkan aku, Galuh! Kamu boleh kembali Galuh," kata Mukid. Galuh akhirnya benar-benar keluar meninggalkan ruangan itu.
Mukid menarik nafasnya lalu menghembuskan nya secara pelan.
"Haduh waktu ku terpotong gara-gara membicarakan hal yang tidak berfaedah bersama Galuh. Namun benar juga apa yang dikatakan Galuh. Nyatanya saat kemarin pertemuan dengan pak Gunawan, dengan terang-terangan seperti meminta aku menikahi putri nya walaupun menjadi istri yang kedua. Itu benar-benar gila! Sinta sudah cukup membuatku bahagia. Kenapa aku harus tambah lagi?" gumam Mukid.
*****
Mukid meninggalkan ruangan nya setelah jam menunjukkan waktu istirahat makan siang. Dia segera menjemput Bana di sekolah yang pulang nya di jam istirahat di kantor nya.
Setibanya di sekolah Bana, Bana sudah menunggu di pos penjaga sekolah. Mukid menghentikan mobilnya dan membunyikan klaksonnya. Bana yang hafal mobil ayahnya segera berlari mendatangi mobil Mukid.
"Ayah," ucap Bana setelah membuka pintu mobil itu dan duduk di dekat Mukid.
"Maaf, ayah terlambat! Bana nungguin lama yah, sayang!" kata Mukid.
"Hampir setengah jam, Bana nungguin ayah. Tapi tidak apa-apa kok! Ada penjaga sekolah yang menemani Bana," ucap Bana.
"Oke, kalau begitu untuk menebus kesalahan ayah, nanti ayah belikan es krim buat Bana deh. Bagaimana?" rayu Mukid.
"Hem, sebenarnya Bana tidak suka di sogok. Tetapi kalau ayah memaksa, Bana dengan senang hati menerima nya," ucap Bana. Mukid terkekeh mendengar putra nya yang semakin hari semakin pandai bicara. Mukid mengusap kepala Bana dengan salah satu tangannya sedangkan tangan satu nya memegang stir mobilnya.
"Iya, tapi nanti Bana ganti baju dulu dan makan siang. Oke?" ucap Mukid.
"Bana sudah makan siang, Ayah!" Sahut Bana.
"Berarti ayah yang belum," kata Mukid. Bana terkekeh mendengar nya.
*****
Kembali di kantor. Reno bersama Melinda masuk ke ruang meeting untuk membahas tentang proyek yang tadi ia pantau secara langsung di lokasi. Mereka serius berbincang-bincang hingga Galuh masuk ke ruangan itu.
"Siang Pak Reno, siang nona Melinda," sapa Galuh setelah masuk ke ruangan itu.
"Iya, Galuh! Ada apa?" tanya Reno.
"Meeting siang nanti jam dua, kata Pak Mukid diundur lusa karena Pak Mukid ada urusan keluarga," jelas Galuh. Melinda menyipitkan bola matanya lalu menatap Galuh dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Hem, tuan muda selalu seenaknya sendiri merubah jadwal. Dan ini mendadak pula," batin Reno.
"Oke, kalau begitu! Segera kamu umumkan informasi ini pada anggota meeting siang nanti kalau jadwal meeting diundur," sahut Reno.
__ADS_1
"Baik Pak Reno!" Kata Galuh.
"Hem, tunggu dulu! Boleh kah saya meminta kopi?" Ucap Melinda.
"Kopi yah? Baik sebentar akan saya sampai kan ke OB untuk membuatkan dan mengantarkan kopi untuk nona Melinda," kata Galuh.
"Kenapa harus OB? Aku ingin kamu yang bikin. Aku yakin kamu pasti bisa membuatkan kopi yang enak bukan?" ucap Melinda. Galuh melihat ke arah Reno. Reno memberikan kode pada Galuh untuk segera membuatkan kopi yang dipinta Melinda. Supaya Melinda tidak ribut mempermasalahkan soal kopi.
"Hem, baiklah non Melinda! Sebentar lagi kopinya akan saya antar kemari," ucap Galuh.
Galuh melenggang meninggalkan ruangan meeting itu hingga kini menyisakan Reno dan juga Melinda. Kembali kedua nya masuk ke obrolan mengenai proyek yang digarap.
****
Sementara itu Galuh merasakan dongkol bukan main dengan sikap Melinda terhadap dirinya. Dia ingin mengerjai Melinda dengan memberikan kopi itu dengan rasa asin.
"Rasain kamu! Memangnya aku OB di kantor ini? Biar saja aku beri garam saja di kopi ini. Biar tahu rasa dia!" gumam Galuh sambil mengaduk kopi dengan rasa asin itu.
Galuh melenggang masuk ke ruangan meeting di mana di sana masih ada Reno dan juga Melinda serius berbincang-bincang. Namun yang terlihat saat ini Melinda begitu dekat dengan Reno dalam berbicara. Hal itu membuat Galuh cemburu melihat nya.
"Nona Melinda, ini kopi yang diminta oleh nona," ucap Galuh sambil meletakkan secangkir kopi itu di atas meja di depan Melinda.
"Oke, kamu boleh pergi!" ucap Melinda cuek saja.
Galuh dengan cemberut meninggalkan ruangan itu. Sedangkan sikap Reno seperti cuek dengan kehadiran Galuh.
"Ih nyebelin deh! Reno cuek banget dengan aku kalau sedang ngobrol dengan Melinda si wanita genit itu," gumam Galuh dengan bibir cemberut dan kembali ke tempat duduk kerja nya.
*****
Melinda meminum secangkir kopi buatan Galuh. Namun setelah sedikit menyeruput nya, Melinda langsung berlari ke wastafel untuk membuang kopi yang sudah masuk ke mulutnya. Reno mengikuti Melinda di belakang nya.
"Ada apa nona? Apakah ada yang salah dengan kopi buatan Galuh?" tanya Reno.
"Kamu tanya? Kamu bertanya-tanya? Kamu lihat sendiri bukan? Panggil sekarang juga wanita tadi! Pokoknya aku tidak mau tahu!" ucap Melinda yang marah. Dia merasa disepelekan oleh Galuh dengan memberikan kopi dengan rasa asin itu.
"Tenang nona Melinda! Lupakan dan maafkan kesalahan Galuh tadi. Bagaimana kalau kita ngopi bareng di Starbucks saja. Bagaimana?" ucap Reno berusaha membujuk Melinda.
"Kalau bukan kamu yang meminta maaf, aku tidak akan memaafkan wanita tadi. Dia sudah kurang ajar sekali dengan aku. Berani-beraninya kopi ini di kasih garam bukan gula," ucap Melinda.
"Mari nona Melinda! Kita akan melanjutkan mengobrol kita di kafe sambil ngopi bersama," kata Reno.
"Baik lah," sahut Melinda sambil menyambar tas miliknya lalu berjalan beriringan dengan Reno meninggalkan ruangan itu.
Melinda melenggang meninggalkan kantor itu bersama Reno. Kembali desas desus dan ghibah terjadi. Karyawan yang melihat Reno berjalan dengan Melinda menjadi berpikir kalau Reno yang dikenal sebagai pria Casanova itu kini sedang dekat dengan Melinda. Gosip itu terdengar juga ditelinga Galuh di ruang kerja nya.
__ADS_1
"Huh, selalu saja seperti ini kalau ada barang baru. Reno Reno! Awas saja nanti kalau datang menjumpai aku ke apartemen!" gumam Galuh penuh kecemburuan.