
Mukid mau tidak mau akhirnya mengajak Sinta menemui klien nya di suatu tempat. Sepanjang perjalanan Sinta tidak henti-hentinya ngemil makanan ringan. Mukid sesekali melirik istrinya yang tidak berhenti makan itu. Namun Mukid tersenyum melihat Sinta yang suka makan dibandingkan sebelum Sinta sedang hamil. Tiba-tiba saja saat Mukid melihat heran pada Sinta yang tidak diam dari mengunyah, Sinta menangkap Mukid menatap dirinya.
"Kenapa? Tidak boleh aku makan terus?" tanya Sinta yang sewot. Entah kenapa ibu hamil itu sekarang ini lebih sensitif dan mudah tersinggung. Mukid jadi menggaruk kepalanya sendiri yang tidak gatal lantaran bingung.
"Tidak sayang! Masih ada snack nya? Nanti mampir ke supermarket kalau habis, yah!?" sahut Mukid. Sinta tersenyum menunjukkan gigi putih nya yang berderet dengan rapi.
"He em, mas! Aku sekarang bawaannya suka ngemil jajanan anak-anak, mas!" kata Sinta sambil menunjukkan sikap manjanya pada Mukid.
"Iya, sayang! Nanti kita beli jajanan yang kamu mau dan banyak yah, sayang! Bila perlu kita beli se toko nya," ucap Mukid.
Mukid merasa senang, kalau kehamilan Sinta dia bisa mendampingi. Jika dulu Sinta berkata jujur dengan dirinya kalau Sinta hamil mengandung anaknya, mungkin Mukid akan memperjuangkan Sinta dan juga bayi yang dikandungnya. Namun kenyataan nya Sinta lebih memilih diam dan menyembunyikan kehamilan nya karena Mukid telah menjadi ayah tirinya dan menikah dengan mama nya. Akhirnya Sinta memilih nekat menggugurkan kandungan nya itu. Suatu kesalahan dan dosa besar yang harus ditanggung Mukid serta Sinta dari kesalahan di masa lalu.
Tidak terasa kedua mata Mukid berkaca-kaca mengingat kejadian masa lalu yang suram. Namun Mukid bisa berbuat apa? Sedangkan Sinta saat itu menyembunyikan kebenarannya dari dirinya. Sinta lebih memilih kebahagiaan mama nya daripada dirinya sendiri.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Sinta yang menangkap wajah Mukid berubah menjadi sedih.
"Tidak ada, sayang!" sahut Mukid yang harus menyembunyikan penyebab apa yang membuat dirinya kembali sedih. Mukid tidak ingin mood ibu hamil di sampingnya itu akan kembali buruk.
"Oh, iya sayang! Sekarang turun kalau mau belanja makanan ringan! Di depan sana klien ku menunggu di hotel itu! Jadi kamu jangan sampai merasakan bosan jika nanti aku tinggal ngobrol bertemu dengan klien-klien ku," ucap Mukid sambil menghentikan mobilnya dan masuk ke parkiran supermarket.
"Oke, mas!" sahut Sinta. Sinta turun dari mobil itu diikuti oleh Mukid.
Di supermarket itu, Sinta mengambil banyak jajanan yang dia inginkan. Mukid, ikut memasukkan juga beberapa jajanan yang dia inginkan.
"Ayo, mas! Ini sudah banyak kok mas!" kata Sinta sambil menggandeng tangan Mukid ke arah kasir supermarket. Mukid menarik dompet di saku celananya dan menyerahkan nya pada Sinta.
"Uang bulanan kemarin masih ada kok, mas! Ini gak usah, pakai duitku ini saja," tolak Sinta sambil menyerahkan kembali dompet pemberian Mukid. Kasir supermarket itu tersenyum melihat pasangan suami istri itu yang terlihat romantis.
"Berapa mbak semuanya?" tanya Mukid.
"Semuanya 350 ribu pak! Ada member nya?" jawab mbak kasir di supermarket itu. Mukid dengan cepat memberikan kartu debit card dan kartu member di supermarket itu. Sinta menatap Mukid semakin terpesona dengan suaminya itu.
__ADS_1
"Ini pak," kata kasir itu seraya menyerahkan dua kartu milik Mukid setelah selesai melakukan transaksi.
"Terimakasih, mbak!" ucap Mukid dan Sinta ikut tersenyum saja. Sinta sengaja menggandeng tangan Mukid supaya Mukid tidak dilihat terus menerus dengan kasir supermarket itu.
Keduanya masuk di dalam mobil setelah Mukid membukakan pintu samping untuk Sinta bak seorang putri. Mukid melirik ke samping dah melihat Sinta tiba-tiba cemberut bibir nya.
"Ada apa sayang? Sudah dimakan lagi jajanan nya!" kata Mukid.
"Aku sebel banget dengan kasir tadi,loh mas!" kata Sinta.
"Hem, ada apa rupanya?" sahut Mukid.
"Dia lihatin kamu terus sampai tidak berkedip gitu," kata Sinta. Sontak saja Mukid terkekeh dibuatnya.
"Kamu senang yah, dilihat terus menerus sama kasir muda dan cantik itu, mas? Atau jangan-jangan kamu tebar pesona yah, mas?" tuduh Sinta. Mukid menahan tawanya lalu kini mengerutkan dahinya mendengar ucapan istrinya yang lagi hamil itu.
"Ya sudah! Lain kali kalau aku keluar rumah, aku pakai masker saja yah sayang!? Supaya wajah tampang tidak dinikmati wanita-wanita di luar. Bagaimana?" kata Mukid. Sinta masih saja cemberut.
"Sudah, jangan cemberut dong! Ayo dimakan lagi jajanan nya," kata Mukid seraya meraih satu pergelangan tangan Sinta dan mencium punggung tangannya.
Mobil sudah memasuki area parkir di gedung tinggi dan bertingkat. Klien Mukid. Mendadak merubah lokasi pertemuan dengan Mukid di penginapan nya. Kini Mukid membuka pintu mobilnya dan memutar kembali untuk membukakan pintu samping di mana Sinta duduk.
"Mari, nyonya Mukid! Silahkan turun, klien-klien anda sudah menunggu di ruang loby," ucap Mukid. Sinta kembali tersenyum lebar melihat Mukid memperlakukan dirinya seperti tuan putri. Sinta kembali menggandeng tangan Mukid mengikuti langkah Mukid masuk ke gedung bertingkat dan megah itu.
*****
Di kediaman rumah tuan Drajat Aji Saka.
"Aku masih bimbang, apakah aku bisa membahagiakanmu setelah menikahi kamu nanti,"ucap Jho kepada Natali.
" Kenapa, sayang? Apakah kamu mulai ragu menikahi aku, Jho?" sahut Natali dengan melebar bola matanya dengan sempurna.
__ADS_1
"Bukan seperti itu, sayang! Aku bukanlah orang yang kaya! Dibandingkan dengan harta yang dimiliki oleh keluarga kamu, aku tidak ada apa-apa, Natali!" jelas Jho.
"Itu tidak menjadi masalah, sayang! Yang paling utama, kamu bisa membuat senang dan membahagiakan aku. Itu sudah sangat cukup," kata Natali. Kini Natali duduk dengan manja di atas kedua paha Jho. Tangannya merangkul di leher Jho. Aroma tubuh Natali kembali menyeruak di hidung Jho. Sangat wangi dan menggoda.
"Sebenarnya apa yang kamu suka dari aku, Natali? Sehingga kamu meminta aku untuk menikahi kamu?" tanya Jho sambil menarik hidung panjang Natali.
Natali tersenyum melihat wajah Jho yang begitu dekat dengan wajahnya.
"Apakah kamu tidak tahu, Jho? Atau sebenarnya kamu pura-pura tidak tahu?" Sahut Natali.
"Aku tidak tahu, sayang! Katakan apa yang paling kamu sukai dari aku? Kulit aku saja hitam tidak seputih dan semulus kulit kamu. Wajahku juga terbilang pas-passan tidak setampan tuan Drajat Aji Saka, kakak kamu itu. Lalu apa yang istimewa dari aku?" kata Jho. Natali tersenyum lebar.
"Kamu tanya yah?" sahut Natali sambil terkekeh. Jho mencebikkan bibirnya.
"Hem, kamu tanya tanyak yah, sayang?" kembali Natali tersenyum nakal. Jho mengerutkan dahinya menunggu jawaban dari Natali.
*****
Sementara di tempat lain, Reno saat ini berada di rumah Galuh. Reno sedang duduk santai menikmati kopi dan kue yang dihidangkan oleh Galuh. Namun karena ada suara notifikasi pesan masuk, Reno segera membuka handphone nya.
"Reno, kamu harus ke apartemen ku! Kalau tidak aku akan nekat bunuh diri!" Ancam Husna.
Isi pesan chat WA dari Husna. Reno membulat matanya karena terkejut bukan main. Reno tidak mungkin membiarkan Husna berbuat nekat seperti itu. Memang setelah Husna diputuskan secara sepihak oleh Reno, Husna terus menerus menghubungi Reno melalui pesan chat, pesan suara juga menelpon Reno. Tapi Reno tidak membalas dan juga menerima panggilan masuk dari Husna. Tapi sekarang dengan isi pesan chat seperti itu apakah Reno harus berdiam diri saja?
"Ada apa Reno?" tanya Galuh. Reno menunjukkan isi pesan dari Husna kepada Galuh. Galuh menarik nafasnya dan menghempaskan nya pelan.
"Ya sudah, tunggu apa lagi? Kalau terjadi apa-apa dengan Husna itu semua gara-gara kamu, Reno!" kata Galuh.
"Maaf, Galuh! Aku harus ke apartemen Husna dulu! Aku takut kalau Husna nekat melakukan itu," ucap Reno.
"Oke, oke, silahkan saja! Walaupun aku tahu itu hanyalah trik murahan dari Husna saja supaya kamu secepatnya datang ke apartemen nya," Sahut Galuh dengan sebal. Reno menatap tidak suka dengan Galuh. Akhirnya Reno meninggalkan rumah Galuh setelah mencium pipi kanan dan kiri milik Galuh dengan paksa. Sedangkan Galuh cemberut menunjukkan manyun bibirnya.
__ADS_1