TEROBSESI ISTRI ORANG

TEROBSESI ISTRI ORANG
BAB 8


__ADS_3

Acara makan malam itu terjadi. Di kafe yang cukup elegan dan mewah, kini sudah ada empat orang dengan usia dewasa. Keempat orang itu adalah dua pasangan suami istri yang saat ini sedang menikmati kebersamaan dalam acara penuh keramahan dan keakraban. Mereka adalah tuan Drajat Ajisaka bersama istrinya yaitu nyonya Cintya dan ada pasangan terhot di novel ini yaitu tuan Mukid dan Sinta.


Sinta terlihat sangat anggun malam ini dengan mengenakan gaun malam yang elegan dan tertutup. Namun begitu lekukan indah tubuh Sinta terlihat sangat seksi dan menempel jika mengenakan gaun itu. Mukid selalu dibuat tidak berkedip melihat istrinya yang semakin hari semakin segar dan mempesona dirinya.


"Jangan memandang ku seperti itu, mas! Nanti kamu tidak bisa mengendalikan diri mu lagi.


Saat ini kita sedang makan malam bersama tuan Drajat Ajisaka dan juga nyonya Cintya. Apakah kamu akan menarik aku ke toilet itu jika sudah diujung, hem?" bisik Sinta pelan ke telinga Mukid saat pasangan suami istri, tuan Drajat Ajisaka dan juga nyonya Cintya masih berdiri di dekat kasir berbicara sebentar dengan koleganya saat tidak sengaja bertemu di kafe itu.


Nyonya Cintya tidak kalah cantiknya. Dengan gaun malam yang cukup seksi dan sedikit terbuka memperlihatkan belahan dada nya yang sedikit menantang badai, membuat mata pria- pria akan langsung tertuju pada bagian belahan yang mengoda dan membuat menetes air liurnya. Tuan Drajat Ajisaka terlihat menggandeng istrinya berjalan mendekat ke meja duduk yang sudah ada pasangan spektakuler Mukid dan Sinta.


Keempat nya tanpa banyak basa-basi sudah mulai menikmati makan malam itu disertai obrolan serius seputar kerja sama diantara kedua belah pihak. Kedua wanita sebagai pendamping mereka hanya mendengar pembicaraan serius itu. Sesekali menyesap minuman yang sudah tersaji di atas meja. Berbagai jenis hidangan berkelas sudah tertata rapi di atas meja. Mereka menikmati nya dengan cara makan yang cukup elegan.


Tatapan penuh minat terlihat jelas dari mata tuan Drajat Ajisaka kepada Sinta. Tentu saja Sinta merasakan risih karena nya. Apalagi Mukid sudah terlihat sangat geram ketika istrinya seperti ditelanjangi oleh tuan Drajat Ajisaka dari tatapan nya. Padahal gaun malam itu lebih tertutup dari pada gaun malam yang dikenakan oleh istrinya, nyonya Cintya.


Obrolan santai mulai riuh diantara mereka. Suasana yang awalnya serius kini sudah mulai penuh keakraban. Apalagi nyonya Cintya tipe wanita yang ramai dan mudah bergaul daripada Sinta yang orangnya banyak diam kalau belum mengenal dekat dengan seseorang.


******


"Bagaimana kalau kita bertukar pasangan untuk berdansa malam ini?" tanya tuan Drajat Ajisaka. Cintya dan juga Sinta saling pandang lalu menatap wajah suami mereka masing-masing.


Apakah yang ada dalam pikiran tuan Drajat Ajisaka? Sedangkan dia sudah memiliki pasangan sendiri. Kenapa seperti masih saja ingin memiliki sesuatu yang dimiliki orang lain. Cukup lama Mukid tidak menjawabnya. Mukid juga melihat Cintya dan istrinya sendiri, Sinta secara bersamaan.


"Bagaimana tuan Mukid! Ini hanya sekedar dansa saja kok! Tidak lebih dari itu," Jelas tuan Drajat Ajisaka.


"Oke, mari tuan Mukid! Kita akan berdansa bersama. Anggap saja kita saudara," potong nyonya Cintya seraya berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Mukid. Mukid berdiri dan menyambut uluran tangan Cintya sebelum matanya menatap Sinta seolah meminta persetujuan. Sinta hanya tersenyum saja. Tidak bisa menahannya.


Sebenarnya Sinta tidak suka jika Mukid menerima uluran tangan nyonya Cintya untuk berdansa. Bahkan keduanya kini sudah saling dekat dan jarak mereka hanya sejengkal. Cintya bahkan mengarahkan tangan mukid untuk memeluk pinggangnya. Sedangkan kedua tangan Cintya melingkar di kedua pundak Mukid. Posisi yang jelas-jelas sangat intim dan bahkan kedua pasang mata mereka saling beradu pandang.


Kini giliran Sinta yang mendapatkan ajakan berdansa oleh tuan Drajat Ajisaka. Dengan terpaksa Sinta menerima ajakan Dansa dari tuan Drajat Ajisaka. Sinta sekilas melirik suaminya, Mukid yang sudah mulai mengikuti gerakan nyonya Cintya dalam irama musik dansa yang slow.

__ADS_1


Tuan Drajat tiba-tiba meraih pinggang Sinta dan merapatkan tubuh itu dalam badannya yang kekar. Sinta melebarkan matanya lantaran terkejut dengan tindakan tuan Drajat Ajisaka yang kedua tangannya sudah berada di lingkaran pinggangnya. Sinta sedikit memundurkan bagian dadanya supaya tidak terlalu dekat dengan dada bidang milik tuan Drajat Ajisaka. Memang tuan Drajat Ajisaka tipe laki-laki yang bersih. Tentu saja tubuh nya sangat wangi maskulin. Siapapun wanita yang mendapatkan perhatian nya tidak akan sanggup menolaknya lantaran tuan Drajat Ajisaka memiliki wajah yang cukup tampan diatas rata-rata dan juga memiliki badan yang kekar atletis. Senyum menyeringai kini keluar dari sudut bibir tuan Drajat Ajisaka. Kedua nya saling tatap dan sudah tidak mengindahkan pasangan aslinya.


"Jangan gugup! Kita fokus berdansa berdua saja malam ini. Biarkan malam ini suami kamu menikmati fantasi indahnya bersama dengan istriku dengan berdansa berdua. Aku yakin istriku, Cintya bisa menyenangkan suami kamu," ucap tuan Drajat Ajisaka. Tentu saja Sinta yang mendengar nya sangat terkejut dengan ucapan tuan Drajat Ajisaka itu. Hanya mata yang kembali melebar dan wajah terlihat gugup yang kini dihasilkan dari Sinta. Tuan Drajat Ajisaka semakin mengajak Sinta mengikuti langkah kakinya untuk berdansa.


"Apakah di dalam otak pria ini hanya kesenangan semata? Apakah tidak menjaga perasaan hati pasangan nya?" pikir Sinta.


Dalam iringan musik dansa itu, tuan Drajat Ajisaka menikmati kedekatan nya dengan Sinta. Walaupun Sinta sering kali mencondongkan badannya ke belakang namun saat itulah sering kali tuan Drajat Ajisaka selalu menarik tubuh mungilnya.


"Lihatlah suami kamu, tuan Mukid! Bahkan terlihat sangat menikmati dansa dengan istriku. Pasti wangi badan istriku membuat tuan Mukid menjadi terbawa dalam magnet gejolak laki-laki nya. Apalagi payudara istriku yang cukup besar sudah sangat menempel di dada bidang suami kamu. Itu akan membuat pikiran tuan Mukid semakin bertreveling ke hasrat seksual nya sebagai seorang pria, hehehe,"ucap tuan Drajat Ajisaka.


Sesaat Sinta menoleh ke arah pasangan itu antara suaminya dengan nyonya Cintya. Sinta mulai terbakar cemburu nya saat Cintya tangannya semakin bergelayut di leher Mukid. Ditambah dia tangan Mukid saat ini berada di atas pinggul Cintya yang montok. Sinta semakin panas, apalagi Cintya melirik ke arahnya dan tersenyum kepada Sinta, seolah-olah suaminya ingin direbutnya.


Saat Sinta sudah mulai panas dalam kecemburuan nya, tuan Drajat Ajisaka menarik tubuh nya hingga lebih dekat dengan badan kekar tuan Drajat Ajisaka. Kini bagian dada yang berukuran 36D itu tentu saja jadi ikut menempel di dada bidang tuan Drajat Ajisaka. Tuan Drajat Ajisaka tersenyum menyeringai.


"Rasanya sangat lembut sekali milik kamu, Sinta!" bisik tuan Drajat Ajisaka. Sinta melotot tajam matanya.


"Tuan Drajat Ajisaka! Jangan terlalu dekat!" ucap Sinta mulai panik. Apalagi Sinta semakin mencium bau nafas tuan Drajat Ajisaka yang ciri khas pria perokok. Jantung Sinta tiba-tiba berdebar hebat lantaran takut dan panik. Juga jarak antara tubuh mereka seperti sudah terkikis jarak.


"Sedang apa mereka?" tanya Sinta tiba-tiba. Tuan Drajat Ajisaka spontan terkekeh dibuat nya.


"Hahaha, apakah kamu mulai cemburu ketika suami kamu mulai akrab dengan istriku?" Tanya tuan Drajat Ajisaka menggoda.


"Dan apakah tuan Drajat Ajisaka tidak merasakan cemburu itu dengan nyonya Cintya ketika bersama dengan pria lain? Apakah tuan Drajat Ajisaka tidak benar-benar mencintai istri tuan?" Sinta membalikkan pertanyaan yang diajukan oleh tuan Drajat Ajisaka.


Tuan Drajat Ajisaka terkekeh dan menatap ke dua bola mata Sinta. Kini salah satu tangannya mulai menyentuh pipi Sinta yang lembut. Sinta berusaha menepis tangan tuan Drajat Ajisaka. Namun kali ini sengaja Sinta membiarkan supaya Mukid bisa melihat nya dan cemburu. Lalu menjauhkan dari tuan Drajat Ajisaka. Sinta mulai berakting membalas kelakuan Mukid yang seperti kata tuan Drajat Ajisaka benar-benar menikmati dansa malam ini dengan nyonya Cintya.


"Kamu tahu, Sinta sayang? Sejak Cintya berkhianat dengan ku dan berselingkuh dengan driver, laki-laki b@ngsat itu, aku sudah kecewa dan sakit hati dengan Cintya. Walaupun aku memaafkan Cintya dan rumah tangga kami seperti dilihat orang terlihat harmonis dan baik-baik saja. Aku sudah merasakan hambarnya hubungan ku dengan istriku,"cerita Sinta. Sinta menyimak cerita tuan Drajat Ajisaka sangat serius.


"Sejak saat itu, aku sangat jarang berhubungan intim dengan Cintya. Bahkan hampir tidak pernah. Itu karena aku sudah sangat kecewa. Dan bayangan Cintya sudah di sentuh dan bercinta dengan laki-laki kurang ajar yang merupakan driver keluarga kami itu, masih ada di kepalaku. Aku sulit melupakan nya," Cerita tuan Drajat Ajisaka. Tiba-tiba Sinta mulai bersimpati dengan cerita tuan Drajat Ajisaka. Ternyata ini alasannya, kenapa tuan Drajat Ajisaka mulai tidak memperdulikan perasaan istrinya.

__ADS_1


"Sejak itu lah, aku mulai mencari kesenangan ku sendiri!" akhir kalimatnya tuan Drajat Ajisaka berkata seperti itu.


"Hem, kenapa anda sendiri yang menghancurkan hidup anda tuan Drajat Ajisaka? Apakah itu jalan pilihan yang benar karena anda merasa kecewa dengan istri anda, anda mulai menikmati kebebasan itu dengan bergonta-ganti wanita? Apakah anda merasakan kebahagiaan dan ketenangan itu?" sahut Sinta.


"Entahlah! Untuk saat ini aku cukup menikmati gaya hidup penuh kebebasan ini," Ucap tuan Drajat Ajisaka.


Sinta mendorong pelan dada lebar dan kekar milik tuan Drajat Ajisaka. Tuan Drajat Ajisaka semakin mempererat dekapan tangannya.


"Tuan Drajat! Tolong lepaskan! Bagaimana kalau kita istirahat, duduk dan minum dulu, tuan Drajat Ajisaka," kata Sinta berusaha menolak secara halus. Tuan Drajat Ajisaka tertawa renyah.


"Oke, baiklah! Ayo kita duduk di kursi sudut itu," kata tuan Drajat Ajisaka seraya melangkah ke meja yang terletak di sudut ruangan itu dengan minim cahaya lampu nya.


Mukid kini menatap Sinta yang sudah menghentikan dansa nya bersama tuan Drajat Ajisaka.


"Ayo Mukid! Kita minum dulu seperti mereka! Apakah kamu mau wine atau sejenisnya?" Kata nyonya Cinta yang segera menarik tangan Mukid menjauh dari suaminya, tuan Drajat Ajisaka ke meja lain.


"No, no, nyonya! Juz buah lebih baik aku minum saat ini," ucap Mukid menolak nya.


"Loh kok juz sih? Bukannya tadi kamu sudah banyak minum juz itu saat makan? Ayolah, sekali kali saja, supaya lebih panas nanti kita dansa lagi," kata nyonya Cintya memaksa.


Pandangan Mukid kini tertuju pada Sinta yang tidak lagi menengoknya. Bahkan Sinta terlihat asyik mendengar cerita tuan Drajat Ajisaka. Entah apa yang mereka bicarakan. Namun ada senyuman yang hadir diantara sudut bibir Sinta saat duduk mengobrol sambil minum bersama tuan Drajat Ajisaka. Tuan Drajat Ajisaka lebih terlihat sangat lepas tertawa nya ketika duduk berhadapan dengan Sinta.


Nyonya Cintya melihat bola mata Mukid yang memperhatikan istrinya itu.


"Hai, apakah kamu mulai cemburu dengan mereka? Ayolah, Mukid! Kita nikmati saja malam ini berdua. Jangan hiraukan mereka," kata nyonya Cintya mengagetkan Mukid.


"Apa? Tentu saja aku sangat cemburu melihat kedekatan istriku dengan tuan Drajat Ajisaka. Ini tidak bisa dibiarkan!" Ucap Mukid sambil berdiri lalu berjalan mendekati Sinta yang masih duduk bersama dengan tuan Drajat Ajisaka.


Nyonya Cinta menarik nafasnya dengan kasar. Tentu saja dirinya sangat kecewa dengan sikap Mukid yang masih memperhatikan istrinya.

__ADS_1


"Apakah aku kurang cantik? Apakah aku kurang seksi, hah? Bahkan dada milik istrinya lebih besar dari aku. Aku yakin aku lebih pandai dalam bermain di ranjang," pikir Cintya dengan rasa sebal melihat dua laki-laki dewasa itu seperti berusaha merebut hati Sinta.


__ADS_2