TEROBSESI ISTRI ORANG

TEROBSESI ISTRI ORANG
BAB 14


__ADS_3

Di rumah kediaman nenek Wati. Saat ini Mukid sedang rebahan bersama dengan Sinta sambil menonton film action romantis. Mukid dan Sinta saling bercengkrama. Sinta kalau sudah seperti ini menjadi sangat manja. Sampai akhir nya tontonan itu berakhir namun Sinta masih baper dengan tayangan yang sudah dilihat nya.


"Hahaha, cengeng sekali sih!" ucap Mukid seraya mengusap air mata yang jatuh di sudut mata Sinta.


"Habis kasihan sekali tokoh wanita nya. Masak harus di matiin sih? Seharusnya happy ending dong," protes Sinta.


"Ya sudah, bagaimana kalau kita selalu buat cerita hidup kita dengan happy ending. Setiap hari kita selalu happy," ucap Mukid. Sinta tersenyum lebar menunjukkan gigi nya yang putih berderet dengan rapi. 


"Tentu saja, mas! Pokoknya aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk kamu, mas!" kata Sinta. 


"Terimakasih, sayang! Aku pun ingin menjadi suami yang bertanggungjawab untuk istri dan anak-anak kita. Serta keluarga besar kita, sayang," Sahut Mukid. 


Kini Mukid mengajak Sinta ke balkon di luar kamarnya. Kini mereka duduk di sana dengan kursi rotan yang tertata apik dengan hiasan bunga-bunga angrek kesukaan Sinta. Keduanya saling tatap. Sinta tentu saja belum melupakan jika suaminya saat ini sedang menghadapi masalah serius di perusahaan nya. Sejak tadi Sinta memang menahan diri untuk tidak bertanya maupun mengungkit masalah itu setelah kepulangan Mukid dari kantor. Sinta tentu saja membiarkan Mukid rileks dan melupakan masalah kerjaan dan mengajaknya menonton film kesukaan Mukid. Ternyata cukup sukses membuat Mukid sedikit santai. Walaupun sekarang ini, Mukid kembali terlihat sedih dan kembali tegang. 


"Mas," ucap Sinta. Tentu saja Sinta takut untuk memulai membahas dan bertanya soal masalah keuangan di kantor nya. Mukid tersenyum menunjukkan manis nya senyuman itu pada istrinya. 


"Jangan khawatir, sayang! Kita akan menyelesaikan masalah ini bersama-sama. Dan aku dalam hal ini akan meminta bantuan dari kamu, Sinta sayang," kata Mukid. Sinta menyipitkan kedua bola matanya tidak percaya. 


"Aku mas? Apa yang bisa aku lakukan untuk membantu kamu, mas?" tanya Sinta penasaran. 


"Tenang, sayang! Nanti aku jelaskan rencana yang akan kita jalankan. Tentu saja semua ini atas ide Reno. Asal kamu bisa berakting saja, aku yakin seratus persen kita akan mudah mengetahui orang ini. Orang yang dengan sengaja menyusupkan anak buahnya di perusahaan kita selama dua tahun ini hanya untuk satu hal. Yaitu obsesi untuk mendapatkan kamu," terang Mukid. Sinta semakin tidak paham akan semua yang dibicarakan oleh Mukid. 

__ADS_1


"Maksudnya, mas? Ah, aku semakin tidak paham loh, mas! Kalau begitu aku ke dapur terlebih dahulu, bikin kopi hitam dan siapa tahu nenek Wati membuat cemilan sore ini," kata Sinta. 


"Baiklah! Itu lebih baik, sayang! Kita lebih baik mengobrol dengan kepala dingin dan santai. Tidak perlu tegang-tegang. Cukup bagian itu saja yang tegang," ucap Mukid. Sinta melotot matanya mendengar kalimat terakhir itu. Lalu kemudian menjulurkan lidahnya ke arah Mukid. Mukid yang melihat reaksi istrinya menjadi cekikikan. 


"Hahaha, bukankah kamu paling suka yang tegang-tegang dan keras seperti milikku, sayang?" tanya Mukid yang tidak membutuhkan jawaban pada Sinta. 


"Sudahlah, aku turun dulu mas!" sahut Sinta segera meninggalkan Mukid yang masih duduk di balkon kamarnya sambil menyalakan barang rokok dengan merk yang disukainya. 


*****


"Hallo, mommy!" sapa Bana dengan suara compreng nya saat Sinta sudah menuruni anak tangga yang terlihat oleh Bana yang saat ini sedang duduk di ruang makan. 


Di ruang makan ada nenek Wati yang ikut tersenyum melihat Sinta yang berjalan menuju ruang makan. 


"Ada puding coklat dengan vla susu, Sinta. Biasanya kamu menyukai nya bukan?" Tawar nenek Wati. 


"Wow, kebetulan sekali nenek buat puding coklat. Tapi sebentar, saya mau bikinkan kopi dulu buat ayahnya Bana," ucap Sinta. Bana mengerucut bibir nya. 


"No, mommy! Ayah Bana tetap ayah Radit. Makanya mommy cepetan bikin adik bayi, supaya ada yang manggil ayah Mukid selain aku," kata Bana. Sinta hanya menjulurkan lidahnya sambil melirik ke arah neneknya. Nenek Wati hanya menahan tawanya saja. 


"Lagi pula selama ini mommy bilang akan bikin adik bayi terus saat di kamar bersama ayah ganteng Mukid. Tapi apa? Sudah beberapa bulan tidak juga ada adik bayinya juga," omel Bana. Sinta yang sedang di dapur tidak jauh dari ruang makan itu hanya cekikikan saja. 

__ADS_1


"Nenek buyut! Tolong ajari mommy ku bikin adek bayi. Nenek buyut pasti lebih berpengalaman daripada mommy. Mommy dan ayah Mukid ini kurang pinter. Pagi, siang, sore, suka di kamar saja tapi gak jadi jadi juga adik bayinya. Sebenarnya apa yang dilakukan mommy dan ayah Mukid di dalam kamar sih, nenek buyut," ucap Bana. Sinta yang mendengar di ruang dapur hanya menutup mulutnya. 


"Astaga, anakku itu! Ingin rasanya aku gigit hidung nya," gumam Sinta. Sedangkan nenek Wati hanya cekikikan saja. 


"Semuanya atas kehendak Tuhan, sayang! Jika Tuhan belum menitipkan seorang bayi ke dalam perut mommy kamu, adik bayi itu tidak akan ada di dunia ini. Jadi, tugas Bana sekarang berdoa dengan rajin setelah beribadah. Supaya mommy dan ayah Mukid secepatnya memiliki adik bayi. Oke?" kata nenek Wati. Bana mulai manggut-manggut. 


"Oh, iya! Nenek buyut benar! Aku sampai lupa, kalau semua nya atas kehendak Tuhan Yang Maha Esa," ucap Bana sambil menepuk jidatnya sendiri. 


"Nah, dengerin tuh apa kata nenek buyut!" Sahut Sinta seraya membawa nampan yang berisi dua cangkir kopi dan juga dua puding vla di piring kecil. 


"Mommy, aku ikut ke atas!" kata Bana. 


"Jangan Bana! Biarkan mommy dan ayah Mukid membuat adik bayi. Kamu tidak boleh mengganggu mommy dan ayah Mukid untuk membuat adik bayi. Bukannya kamu ingin secepatnya memiliki adik bayi? Nak sekarang lebih baik, Bana siap-siap beribadah dan berdoa mendoakan mommy dan ayah Mukid, oke?" kata nenek Wati. Bana kembali duduk dan akhirnya mengikuti arahan nenek buyutnya. Sinta menjulurkan lidahnya ke arah nenek nya. 


"Nenek, aku ke atas yah! Kopi nya keburu  sudah ditunggu oleh mas Mukid," kata Sinta segera ngacir menuju anak tangga dan naik ke lantai atas. Sedangkan Bana kembali bingung. 


"Ayah Mukid mau ngopi, nenek buyut! Bukan mau bikin adek bayi. Masih sore ini, loh!" protes Bana. 


"Bagaimana kalau kita main sepeda-sepeda an di halaman depan sambil berdoa supaya mommy secepatnya hamil dan mendapatkan adik bayi," ajak nenek Wati. 


"Baiklah, nenek! Tapi main sepeda-sepeda an saja. Tidak perlu sambil berdoa," protes Bana. 

__ADS_1


"Iya, iya!" sahut nenek Wati sambil cekikikan. 


__ADS_2