TEROBSESI ISTRI ORANG

TEROBSESI ISTRI ORANG
BAB 51


__ADS_3

Semakin hari perusahaan tuan Drajat Aji Saka mengalami kemerosotan dan kerugian. Semenjak terjadinya kebakaran di gudang penyimpanan barang itu pasokan barang dan produksi yang dihasilkan menurun. Hal itu menimbulkan tingkat kepercayaan konsumen untuk membeli barang menurun. Sehingga dari bulan ke bulan salah satu perusahaan tuan Drajat Aji terancam gulung tikar. Namun ini hanya satu perusahaan nya saja. Kalau di bilang miskin, kekayaan tuan Drajat Aji Saka jauh dari kata miskin atau melarat. 


Pesta besar besaran pernikahan antara Jho dengan Natali sudah berlangsung. Kini keduanya sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Jho dipercaya memegang salah satu perusahaan konstruksi yang bersaing dengan perusahaan konstruksi milik Mukid. Sedangkan perusahaan rokok milik tuan Drajat Aji Saka masih dihandle nya. Perusahaan ini bersaing dengan perusahaan milik Sinta dan nenek Wati. 


Setelah resepsi besar-besaran dan mewah antara Natali dengan Jho, kini kedua nya sedang berbulan madu di pulau dewata. Keduanya menikmati pemandangan lautan di pulau itu. 


Keduanya bebas melakukan apa saja di tempat terbuka. Apalagi saat ini di belakang hotel mereka adalah lautan. Ketika di malam hari keduanya mencari suasana yang berbeda sambil bercengkrama manja. 


Di bawah sinar bulan yang mengintip malu-malu di balik awan. Natali dan Jho saling berpelukan. Natali sedang berbikini ria. Sedangkan Jho hanya bercelana pendek saja. Kedua bibir merah saling menyatu dan saling bertukar saliva. Kedua nya benar-benar mengikis jarak. Mereka tidak perduli jika ada orang yang diam-diam memperhatikan mereka saat melakukan adegan dewasa. Bagi Natali dan Jho ke-dua nya benar-benar bebas menikmati bulan madu mereka di pulau itu. 


Di hamparan pasir putih dipinggir pantai. Dengan dibentangkan kain tipis untuk alas tiduran keduanya. Mereka mulai menikmati kenikmatan surga dunia di alam terbuka. Sejauh mata memandang, ada dua orang yang menikmati adegan itu. Kedua nya sampai menelan ludahnya sendiri melihat betapa hot nya pasangan suami istri itu. Rasanya ingin bergabung, namun itu sangat tidak pantas. Akhirnya dua orang itu hanya bisa melihat namun tidak bisa menikmati nya. 


*****


Ratna masih merajuk di apartemen nya. Dia belum mau kembali menjumpai suaminya. Sudah satu minggu ini mereka berpisah ranjang. Namun hari ini kembali Candra menjumpai Ratna di. Apartemen nya. Satu minggu ini Salma belum ke Malang dan konon kabarnya sedang mengurus perpindahan nya ke kota Malang. Jadi dalam satu minggu ini Candra tidur sendiri di rumahnya tanpa melakukan aktifitas olah raga malam lagi. 


*****


Mukid hari ini bekerja ke kantor. Dan kembali Sinta rewel dan merengek kembali ikut bersamanya di kantor. Di dalam ruangan kerja itu Mukid berusaha fokus dengan kerjaan nya walaupun berkali-kali istrinya selalu bikin ulah dan mencari perhatian dengan nya. 


Ibu hamil yang kira-kira 3 bukan lagi melahirkan itu masih saja suka ngemil jajanan. Badannya sudah mulai tambun dan dada nya semakin montok. Itu membuat gemas Mukid setiap tidur di samping Sinta di waktu malamnya. 


Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar, Reno masuk dan memberitahu bahwa Melisa datang ingin menjumpai Mukid. 


"Apakah kamu tidak bisa menjumpai non Melisa, Reno! Aku sedang sibuk sekali. Lihatlah tumpukan di atas meja itu. Semua harus aku periksa dan tanda tangani hari ini. Belum tuan putri yang duduk di sudut ruangan itu sudah cemberut minta disayang sama suaminya," Alasan Mukid. Reno diam namun setelahnya menjulurkan lidahnya pada Mukid. 

__ADS_1


"Bilang saja tuan muda malas menjumpai nona Melinda," kata Reno. 


"Nah, itu kamu tahu! Kamu saja Reno! Siapa tahu dia mau menjadikan kamu suaminya. Tampaknya dia sudah sangat butuh kehangatan dan belaian dari seorang laki-laki dewasa," ucap Mukid. 


"Lalu mau dikemanakan Galuh, tuan muda?" tanya Reno. 


"Kamu yang peling paham kan soal bagi-bagi kasih sayang seperti itu," sahut Mukid terkekeh. 


"Belum lagi Husna masih saja meneror saya, tuan muda! Dia masih bersikeras tidak mau diputuskan oleh aku," keluh Reno. 


"Hebat sekali kamu! Mereka sudah benar-benar kecanduan oleh rayuan dan manisnya bibir kamu, Reno! Hahah," kata Mukid. 


Tiba-tiba Sinta datang mendekat dan mencuri dengar percakapan keduanya. 


"Takut kalau kamu cemburu lalu marah dengan aku. Terus nanti malam aku tidak bisa dapat mainan ku," bisik Mukid. Sinta terkekeh dengan sikap Mukid yang tiba-tiba jadi suami takut istri dan dia berubah jadi sangat manja. 


"Jadi? Non Melinda nya saya suruh kemari kah, tuan?" tanya Reno kembali menegaskan. 


"Ya sudah tidak apa-apa! Suruh dia masuk ke ruangan ku. Dan jangan lupa, siapkan dua cangkir kopi untuk aku dan Melinda. Eh em, satu lagi juz mangga dengan sedikit es untuk istriku tersayang," kata Mukid. 


"Siap tuan!" sahut Reno. 


"Tunggu Reno! Tolong pesanan Aku bakso dong! Dua porsi yah, Reno," sambung Sinta. Mukid menyipitkan bola matanya mendengar Sinta kembali ingin makan bakso. Padahal baru saja dia menghabiskan nasi soto nya yang dibeli di kantin di kantor itu. 


"Kenapa sih, sayang? Kok lihatnya begitu? Tidak boleh yah kalau aku makan lagi? Ini bukan aku saja loh yang makan. Tapi buat anak kita di dalam perut," kata Sinta dengan cemberut bibirnya. 

__ADS_1


"Eh tidak tidak dong! Justru aku sangat senang kamu doyan makan dan selera makan," ucap Mukid. 


"Ya sudah, Reno! Jangan lupa bakso nya tiga porsi," tambah Mukid. 


"Siap, tuan muda!"


Tidak berapa lama kemudian, Suara ketukan pintu ruangan Mukid kembali terdengar. Melinda masuk ke ruangan nya setelah diantar oleh Reno. Setelah itu Reno menyiapkan pesanan yang diminta oleh Mukid dan juga Sinta. 


"Selamat siang, tuan Mukid!" sapa Melinda sambil menjabat tangan Mukid dengan erat. Salaman itu cukup lama sampai Sinta berdehem memberikan kode pada Mukid untuk melepaskan jabatan tangan itu. 


"Selamat siang, nona Melinda! Silahkan duduk! Ada yang bisa saya bantu, nona?" tanya Mukid.


 Sinta mengamati penampilan Melinda dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sinta tiba-tiba menjadi minder karena badannya tidak lagi seseksi badan Melinda. Sinta sekarang gendut dan perut nya membuncit. Di mana-mana serba membengkak. Dari bagian dada, pinggul bahkan perut nya. Pipi nya pun tidak kalah cubby nya. Sehingga wajahnya kini menjadi bulat.


"Oh iya, non Melinda! Sebelum kita mengobrol panjang lebar, ini kenalkan istri saya yang sedang hamil anak kami. Dia Sinta bidadari syurga ku. Sinta sayang, kemari sayang!" kata Mukid. Mukid tahu kalau dia tidak memperkenalkan Sinta pada Melinda dan merasa dicuekin oleh Mukid, nanti Sinta bisa cemberut dan ngambek sepanjang hari. Bahkan dampaknya nanti malam Mukid hanya mendapatkan pinggul Sinta saja. 


"Oh, ini istri tuan Mukid! Gendut yah?" ucap Melinda meremehkan. Sontak saja Sinta menjadi cemberut. Namun cepat-cepat Mukid merangkul Sinta. 


"Istri saya sedang hamil, nona! Jadi tidak apa kalau gendut yang penting anak di dalam perut nya sehat. Nanti setelah melahirkan anak kami, Sinta pasti semakin cantik lagi," ucap Mukid sambil mengusap punggung Sinta. 


Sialnya, Sinta lagi kurang mood emosinya tidak stabil. Serta merta Sinta mendorong badan Melinda dan mendorong nya hingga keluar dari ruangan Mukid. 


"Kamu siapa? Tidak ada sopannya sama sekali! Lebih baik keluar sebelum aku makan," ucap Sinta. Melinda benar-benar terkejut dan terdiam. 


Mukid melongo melihat sikap bar-bar istrinya. Tentu saja terkejut. Ini kali pertama, Sinta berbuat kasar pada seseorang. Dan itu dilakukan tanpa menunjukkan kelemahan nya sebagai seorang wanita yang hanya bisa menangis saja. 

__ADS_1


__ADS_2