
Candra mengoleskan minyak kayu putih itu di pelipis Ratna. Minyak kayu putih itu sedikit dioleskan nya di bawah hidung Ratna. Dengan kepanikan itu Candra membuat sadar Ratna dari pingsannya. Tentu saja Salma yang melihat suaminya memperhatikan Ratna dengan tulus itu menjadi iri dan cemburu.
Kini mata Ratna menerjab-nerjab lalu membuka mata. Dia mulai melihat Candra dan Salma secara bergantian. Candra serta merta memeluk Ratna hingga kepala Ratna berada di dada bidang Candra.
"Kamu sudah sadar, sayang? Maaf, maafkan aku!" ucap lirih Candra. Ratna meneteskan air matanya. Dada nya terasa sesak ketika mengingat perlakuan Candra terhadap dirinya.
Salma melebar matanya dengan sempurna ketika melihat Candra bersikap merendahkan dirinya seperti itu. Seumur hidupnya selama menjadi istrinya sangat jarang sekali Candra bersikap seperti itu. Meminta maaf sulit diucapkan Candra. Mungkin terakhir kali yang didengar Salma saat Candra meminta maaf dengan dirinya ketika dirinya melakukan perselingkuhan itu dengan Ratna.
"Apakah masih sakit? Tidak ada masalah bukan dengan kandungan kamu?" tanya Candra penuh kekhawatiran. Ratna menggelengkan kepalanya. Candra kini mengusap perut Ratna yang mulai membuncit itu. Kini Candra berujar pada orok yang masih berada di dalam rahim Ratna.
"Maafkan ayah, nak! Ayah kilaf!" ucap Candra. Candra kini mengusap lembut perut itu. Ratna melihat wajah suaminya yang benar-benar penuh penyesalan.
"Kita periksa ke dokter yah, sayang!" ucap lembut Candra pada Ratna. Salma yang mendengar nya sontak jadi merasakan cemburu itu.
"Tidak, mas! Aku tidak apa-apa kok!" sahut Ratna.
"Mas, biar aku buatkan teh panas dulu buat dik Ratna yah, mas!" ucap Salma.
"Iya, Salma! Buatkan minuman hangat untuk Ratna," Sahut Candra. Candra masih mendekap tubuh Ratna. Rasanya dia benar-benar menyesal telah menghukum Ratna dengan menguncinya di dalam kamar mandi.
"Baik mas! Aku juga akan buatkan kopi untuk mas Candra juga," kata Salma. Salma menarik nafas lega. Rasanya jika harus melihat adegan mesra suaminya dengan istri keduanya jantung nya rasanya ingin meledak. Cemburu itu begitu besar.
Salma didapur membuatkan dua minuman untuk Ratna dan juga Candra. Namun dia juga tidak habis akal. Teh manis hangat untuk Ratna kini diberinya obat tidur. Malam ini dirinya ingin menguasai kembali suaminya, Candra. Rasanya tidak rela jika dirinya harus tidur terpisah dengan suaminya. Kopi untuk suaminya dia berikan sedikit obat kuat.
Benar! Salma sudah menyiapkan segala sesuatu nya untuk bersenang-senang ketika pergi menjumpai suaminya di kota Malang. Tinggal dua hari lagi dia harus kembali ke kampung untuk bekerja. Namun setelah nanti Salma akan berpikir untuk lebih dekat lagi dengan suaminya dengan mengurus kepindahan nya di kota Malang. Salma ingin bekerja mengajar di kota Malang. Bagi Salma itu akan mudah karena segala sesuatu nya akan ia urus dan selesai kan dengan cepat.
"Kopi hitam untuk mas Candra. Dan teh manis hangat untuk madu ku," ucap Salma sambil tersenyum lebar.
"Kamu harus banyak beristirahat, dik Ratna! Biar aku yang menggantikan tugas kamu. Setelah dua hari nanti aku titip suamiku. Tapi aku tidak akan lama, kok! Aku akan kembali untuk pindah ke kota Malang ini. Tentu saja untuk merebut kembali suamiku. Dan aku ingin hanya akulah wanita dan istri Candra satu-satu nya. Kamu tidak akan lama lagi akan tercampakkan oleh Candra dengan sendirinya, hehehehe," gumam Salma.
Kini Salma berjalan menghampiri Candra yang masih memeluk Ratna. Ratna kini sudah kembali tersenyum dengan Candra. Betapa pandai Candra mengambil hati istrinya itu.
"Mas, ini kopi kamu dan ini teh manis hangat untuk Ratna," ucap Salma.
__ADS_1
"Ayo kamu duduk dulu, sayang! Diminum dulu teh manis nya. Mumpung masih hangat," kata Candra penuh kelembutan.
"Ayo dik diminum teh manis nya," Sahut Salma.
"Terimakasih banyak, mbak Salma! Ini aku mau minum teh manis nya," Kata Ratna sambil duduk dengan benar. Candra penuh perhatian mengambilkan minuman itu kepada Ratna. Ratna tersenyum menatap Candra.
"Terimakasih, mas!" ucap lirih Ratna.
"Ayo diminum dan habiskan teh nya," Kata Candra.
*****
Kediamam rumah Sinta dan Mukid.
Setibanya di rumah, Bana mengajak Mukid berenang bersama. Padahal Mukid sudah memiliki rencana kalau sudah sampai di rumah, dia akan menggempur Sinta. Namun akhirnya Mukid hanya bisa pasrah dan mengikuti kemauan anak tirinya itu.
Di kolam renang itu kini Mukid dan Bana sedang berenang di sana. Sedangkan Sinta duduk di kursi santai sambil menyaksikan keseruan suami dan putra nya berenang bersama. Memang Bana belum dibilang mahir dalam berenang.
"Mommy, ayo turun dan berenang bersama dengan kami!" teriak Bana.
"Mommy bohong! Bana ayo kita paksa mommy supaya ikut berenang," kata Mukid mencoba mempengaruhi Bana.
"Tapi nanti kalau benar-benar adik bayi di dalam perut mommy masuk angin kan kasihan, ayah," ucap Bana.
"Tidak! Itu tidak benar, Bana! Ayo kita sama-sama dekatin mommy yang lagi duduk," ajak Mukid.
Bana dan Mukid berenang dan mendekati Sinta yang duduk di kursi santai. Kedua laki-laki beda generasi itu, kini naik ke atas. Bana berusaha membujuk mommy nya. Namun Sinta segera mengerti apa maksud Bana mendekati dirinya.
"Bana, putra mommy! Jangan coba-coba membujuk mommy, yah sayang! Mommy benar-benar lagi tidak mau berenang," kata Sinta. Bana akhirnya melihat ke arah ayah nya.
"Mommy tidak mau, ayah! Ya sudahlah! Tenang kali ini kita sudahi saja. Aku tutup dengan bacaan alhamdulillah," ucap Bana. Lalu berjalan melenggang meninggalkan mommy dan ayahnya. Mukid tersenyum lebar melihat tingkah anaknya itu.
Mukid duduk di sebelah Sinta. Dan matanya mulai terpejam.
__ADS_1
"Pasti kamu sedang teringat masa lalu kan, mas?" ucap Sinta.
"Hem?" tanya Mukid membuka matanya melihat ke arah Sinta.
"Masa lalu saat berenang bersama mama ku. Di kolam renang ini juga kan, saat kalian mengunjungi aku yang masih kuliah. Aku lihat semuanya, kamu dengan mama berenang di dalam kolam ini. Lalu berpelukan dan berciuman," kata Sinta.
"Sayang! Bukankah kita sudah sepakat tidak membicarakan masa lalu bukan? Sekarang aku tanya kepada kamu, sayang. Di tempat ini, di kolam renang ini, apakah kamu juga pernah berenang bersama dengan Radit kamu yang super tampan itu? Kalian bersama saling canda di dalam kolam lalu berpelukan dan berciuman?" Mukid balas mengungkit masa lalu Sinta.
"Eh?? Emmm? Mas Mukid!" gumam Sinta.
"Ayo, ikut denganku!" ajak Mukid. Sinta menuruti apa kata suaminya.
Mukid mengajak Sinta turun ke dalam kolam renang itu. Keduanya kini sudah masuk ke dalam kolam. Keduanya saling berpandangan dan berhadapan. Sorot mata keduanya kini beradu.
"Sekarang kita mulai! Aku tidak ingin kamu terbayang-bayang masa lalu dengan mas Radit kamu. Demikian juga dengan aku. Ayo kita buat kisah baru yang indah. Di sini, di dalam kolam ini," ucap Mukid.
"Mas Mukid! Maafkan aku!" ucap Sinta.
"Aku juga minta maaf sayang! Bagaimana pun masa lalu biarlah terkubur bersama kenangan itu. Kita sekarang sudah bersama. Kita harus fokus dengan kebahagiaan kita, sayang," ucap Mukid. Sinta kini melingkarkan kedua tangannya ke leher Mukid. Demikian Mukid kini memeluk pinggang Sinta yang semakin melebar karena perutnya mulai membuncit.
"Tidak perduli seberapa kejam masa lalu mempermainkan kita. Kita harus berdamai. Masa depan kita yang penuh kebahagiaan karena kita saling memaafkan, bukan mendendam. Karena kamu telah memaafkan aku, maka kamu menerima aku kembali. Akhirnya kita kembali bersatu. Walaupun aku pernah menyakiti kamu saat itu," Kata Mukid.
Sinta tersenyum. Namun kedua matanya mulai berkaca. Mukid semakin merapatkan tubuh nya dengan Sinta. Hingga keduanya mengikis jarak.
"Mas Mukid!" gumam Sinta.
"Hem?? Ada apa sayang? Kamu mau kalau kita akan melakukan nya di sini?" tantang Mukid.
"Itu tidak mungkin kita lakukan! Kamu ingin Bana dan nenek Wati serta para pembantu di rumah ini melihat kita gituan?" sahut Sinta.
"Kalau begitu, ayo kita kembali ke kamar! Kamu tahu, bagian bawahku sudah membengkak," bisik Mukid. Sinta terkekeh mendengar nya.
Mukid menuntun Sinta kembali naik ke atas. Dengan senyuman yang sulit diartikan Mukid membimbing Sinta menuju anak tangga menuju kamar utama mereka. Tentu saja keduanya bertemu dengan nenek Wati yang duduk menemani Bana yang sedang makan. Setelah melakukan aktivitas renang tentu saja Bana akan menjadi lapar. Namun berbeda dengan Mukid. Lapar yang dirasakan oleh Mukid bukanlah lapar yang hanya sekedar untuk mengisi perut nya. Namun Mukid harus menuntaskan nya bersama istrinya di atas peraduan.
__ADS_1
Tentu saja nenek Wati sudah sangat paham dengan pasangan muda itu.Sehingga saat Bana mengajak mommy dan ayahnya makan bersama, nenek Wati berkata pada Bana kalau mommy dan ayahnya mandi dan berganti pakaian dulu. Bukankah pakaian keduanya basah.
"Mommy tadi sewaktu aku ajak berenang tidak mau. Giliran dengan ayah, Mommy nurut saja," omel Bana dengan cemberut.