TEROBSESI ISTRI ORANG

TEROBSESI ISTRI ORANG
BAB 29


__ADS_3

Sinta menatap benda pipih itu. Rasanya tidak percaya kalau garis Dua berwarna merah itu terlihat di sana.


"Aku hamil! Benarkah?" gumam Sinta masih belum percaya dengan semua yang telah dilihat nya.


Sinta meletakkan alat tes kehamilan itu di atas meja. Sinta berencana akan membuat kejutan kepada Mukid, setelah suaminya pulang menyelesaikan semua urusan nya. Namun bagaimana pun juga Sinta sangat mengkhawatirkan suami nya. Tuan Drajad Aji Saka tidak bisa dianggap remeh dalam urusan menggertak orang. 


Sinta mondar-mandir dan gelisah di dalam kamarnya. Sebelum Mukid, suaminya kembali ia pasti akan tetap merasakan kekhawatiran yang membuat nya tidak bisa tidur dengan nyenyak. 


Tok. 


Tok. 


Tok. 


Sampai akhirnya ketukan pintu kamarnya terdengar disertai suara cempreng Bana yang membuat Sinta tersentak. 


"Mommy!" ucap Bana yang masuk ke kamar Sinta setelah mengetuk pintu itu. Bana celingak-celinguk kemarin ayah tiri nya. 


"Hem, ada apa sayang?" tanya Sinta. 


"Mommy, ayah Mukid di mana?" tanya Bana. Saat Mukid pergi bersama Reno tadi, Bana di dalam kamar. Mukid dan Sinta sengaja menyembunyikan masalah besar itu pada Bana. Bagaimana pun, Bana selalu cerdas dalam membaca situasi. 


"Ayah Mukid? Hem, tadi ada sedikit urusan dengan om Reno bertemu klien. Kamu kenapa mencari ayah Mukid, sayang?" ucap Sinta. 


"Tidak ada yang penting kok, mom! Cuma tumben saja, biasanya kalau sudah malam begini ayah Mukid minta tolong aku untuk menginjak-injak badan ayah Mukid," ucap Bana. 


"Oh, gitu! Bagaimana kalau Bana mijit kaki mommy saja. Bagaimana? Selain dapat pahala, nanti mommy juga akan kasih tambahan uang jajan Bana," ucap Sinta. 


"Hem, baiklah! Kalau begitu mommy tidur saja, biar aku mijit kaki mommy," sahut Bana. Namun sebelum Sinta merebahkan tubuh nya di atas tempat tidur nya, Sinta tiba-tiba merasakan mual di perut nya. Dengan cepat-cepat Sinta lari ke dalam kamar mandi. Bana menjadi khawatir dan ikut panik. 


Huek. 


Huek. 

__ADS_1


Huek. 


Beberapa kali Sinta muntah mengeluarkan semua isi perut nya. Makanan yang sudah ia makan tadi akhirnya keluar semuanya. Bana yang di luar kamar menjadi ikut panik. 


"Ada apa dengan mommy? Kenapa mommy tiba-tiba muntah-muntah? Apakah mommy sakit? Ayah Mukid sedang tidak di rumah lagi. Lebih baik aku turun saja memberitahu nenek buyut. Siapa tahu, nenek buyut bisa membantu mommy yang sedang mengalami sakit," gumam Bana. 


"Mommy! Aku turun ke bawah dulu mom! Aku akan panggil kan nenek buyut. Siapa tahu nenek buyut bisa bantu menyembuhkan mommy," teriak Bana di dekat pintu kamar mandi. 


"Heem, sayang! Tolong mommy bikinkan teh hangat juga yah, sayang!" Ucap Sinta yang kini sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang pucat dan lemas. Sinta segera berbaring di atas tempat tidur nya dan menyambar minyak kayu putih untuk dioleskan di perut dan pelipisnya sendiri. 


"Oke, mommy tunggu sebentar yah! Aku akan segera kembali bersama nenek buyut kemari," sahut Bana segera keluar dan melangkah menuju lantai bawah. 


Sinta merasakan tidak enak badannya. Pikiran nya juga masih tidak menentu memikirkan Mukid yang sedang menyelesaikan masalah. Tentu saja Sinta ikut kepikiran. 


"Semoga mas Mukid, Reno, dan juga anak buah mas Mukid bisa menolong dan menyelamatkan Galuh," gumam Sinta. 


*****


"Nenek kok malah tersenyum sih? Nenek senang yah kalau mommy sakit?" tuduh Bana. 


"Tidak dong! Mommy kamu muntah-muntah itu bisa jadi sebentar lagi kamu akan mendapatkan adik bayi. Bukankah selama ini kamu selalu berdoa dan mengharapkan mommy kamu cepat hamil supaya kamu bisa memiliki adik bayi?" Jelas nenek Wati. Mata Bana berbinar. Bana yang mendengar itu semuanya menjadi senang. 


"Benarkah, nek? Mommy hamil dan di dalam perut mommy sudah ada adik bayi?" tanya Bana mempertegas lagi. 


"Iya, semoga saja benar dugaan nenek!" sahut Nenek Wati. 


"Ya sudah! Aku akan membuatkan mommy teh panas dulu. Mommy muntah-muntah tadi. Pasti lapar juga kan? Kasihan adik bayi di dalam perut mommy kalau kelaparan," kata Bana. Nenek Wati tersenyum. 


"Benar! Mommy kamu harus makan juga! Biar nenek yang siapkan makanan juga buat mommy kamu! Perut nya harus diisi juga setelah terkuras habis keluar," kata nenek Wati. 


"Oke, nenek! Aku buatin teh panas buat mommy, nenek yang siapkan makanan buat mommy!" ucap Bana penuh semangat. 


*****

__ADS_1


Di dalam kamar Sinta. 


Bana dengan penuh perhatian memijit kaki mommy nya. Bahkan dengan penuh kelembutan memberikan minyak kayu putih di kedua telapak kaki Sinta. Nenek Wati yang melihat Bana sangat perhatian dengan Sinta menjadi sangat senang. 


"Sudah cukup, Bana! Mommy sudah tidak apa-apa kok! Sudah larut malam, Bana harus bobok dan istirahat! Oke?" kata Sinta. 


"Iya, Bana! Ayo nenek antar sampai di kamar kamu!" sahut nenek Wati. 


"Tidak mau! Bana tidur di sini saja! Kasihan mommy di kamar sendiri. Ayah Mukid belum pulang sedangkan mommy masih sakit kan?" protes Bana. Nenek Wati dan Sinta saling pandang. 


"Ya sudah! Sekarang Bana tidurlah di sebelah mommy! Bana istirahat dan bobok yah, sayang!" ucap Sinta. 


"Heem!" sahut Bana. 


"Ya sudah, kalau begitu nenek kembali ke kamar dulu yah Sinta, Bana! Oh iya, Sinta jangan lupa besok pagi kita periksa ke dokter untuk memastikan usia kehamilan kamu. Supaya dokter juga akan memberikan vitamin dan obat untuk menghilangkan rasa mual," kata nenek Wati. 


"Baik nenek!" sahut Sinta. 


"Oh, iya! Satu lagi kamu harus istirahat dan tidur juga. Mukid dan Reno pasti baik-baik saja. Jangan berpikiran yang Tidak-tidak," kata nenek Wati. 


"Baik nenek!" sahut Sinta. 


"Mommy, dengerin nenek buyut! Ayo kita tidur dan istirahat! Selamat malam nenek, selamat mimpi indah!" kata Bana. 


"Selamat bobok Bana! Selamat mimpi indah dan jangan lupa berdoa yah!" Sahut nenek Wati setelah nya melangkah keluar meninggalkan kamar Sinta. Sedangkan Bana ikut masuk ke dalam selimut mommy nya. Tangannya mulai mengusap perut mommy nya. Sinta tersenyum melihat Bana. 


"Kamu kalau seperti itu mirip sekali dengan ayah kamu, ayah Radit sayang!" batin Sinta. 


"Ya Tuhanku, lindungi lah ayah dan ibuku. Ampuni lah keduanya dan kasihilah mereka seperti mereka mengasihi aku dari dalam perut mommy sampai sudah besar ini. Ya Tuhan ku, lindungi ayah Mukid dari orang-orang yang berbuat jahat dan ingin mencelakai ayah Mukid, aamiin," ucap Bana setelah itu kedua mata Bana berusaha dipejamkan. 


"Aamiin!" sahut Sinta sambil mengecup kening dan juga pipi Bana. 


"Ya Tuhan, terimakasih Engkau telah memberikan aku anak-anak yang sholeh," gumam Sinta. 

__ADS_1


__ADS_2