
Candra dan Ratna sudah tiba di rumah. Salma menyambut kedatangan suaminya sejak dari tadi. Namun ketika melihat Candra datang bersama dengan Ratna, Salma tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya. Hanya melihat wajah Ratna saja, Salma tiba-tiba saja menjadi sedih bercampur kecewa. Bukan marah dengan Ratna, tapi keadaan lah yang mendesaknya untuk menerima kenyataan dirinya di madu oleh suaminya.
"Mas Candra! Dik Ratna! Ayo masuk! Aku sudah masak buat kalian loh!" kata Salma menyambut hangat suami dan madu nya.
Walaupun hatinya berkecamuk rasa, tapi Salma adalah wanita yang luar biasa mengijinkan suami nya menikah lagi dengan wanita lain karena sudah menghamili nya.
"Hem, kami sudah makan di luar Salma! Kamu buatkan kopi hitam dan teh panas saja untuk kami," Sahut Candra.
"Eh? Jangan mbak! Biar aku buat kopi untuk mas Candra saja dan aku juga akan buat teh manis sendiri. Mbak Salma lebih baik menemani mas Candra saja di sini," ucap Ratna mencegahnya.
"Eh??" Salma bingung antara mengikuti apa kata suami nya atau mendengar ucapan Ratna yang menyuruhnya menemani Candra duduk di ruang tamu. Candra melepaskan sepatu dan kaos kaki nya sendiri. Salma melihat suami nya penuh rasa kecanggungan.
Sedangkan Ratna sudah membuat kopi dan teh panas untuk suami dan untuk dirinya.
"Salma! Nanti malam aku tidur bersama dengan Ratna yah. Besok baru giliran kamu," ucap Candra sambil membuka ponselnya.
"Iya, mas! Aku tidak mempermasalahkan semua itu kok, mas! Mas berhak mendatangi istri mas Candra siapa saja yang mas Candra mau," sahut Salma.
Bahasa Salma seperti sudah tidak menghendaki hubungan badan dengan dirinya. Lebih tepatnya Salma seperti sudah malas jika harus berbagi suami dalam hal nafkah batin. Itu yang ditangkap oleh Candra dari ucapan Salma.
"Kalau kamu bicara seperti itu, lebih baik ini malam aku tidur bersama dengan kamu, Salma! Biar Ratna besok malam saja," kata Candra.
Salma menarik nafasnya dalam-dalam dan melepaskan nya dengan kasar. Sebenarnya bukan itu maksud dari Salma. Dirinya bukan menuntut dinomor satukan. Tidak berapa lama, Ratna datang membawa satu cangkir kopi untuk Candra dan satu gelas teh untuk Salma.
"Ini kopi untuk mas Candra dan ini teh manis panas untuk mbak Salma," kata Ratna sambil meletakkan cangkir dan gelas itu di depan meja Candra dan Salma.
"Eh, teh manis panas kamu mana, dik?" tanya Salma.
"Aku ada kok, di belakang mbak! Oh iya mbak Salma. Mbak Salma tadi masak apa? Aku seperti nya lapar lagi, aku mau makan boleh kan?" ucap Ratna. Candra yang melihat tingkah istri kedua nya hanya menggelengkan kepala nya.
__ADS_1
"Bukankah belum ada satu jam dia makan bersama dengan aku? Kenapa bilang lapar lagi?" gumam Candra.
"Namanya dik Ratna sedang hamil, mas! Jadi mudah lapar. Di dalam perut Ratna ada anak kamu, mas! Eh, maksudnya anak kita mas," kata Salma.
"Iya, kamu benar! Ada anakku di dalam perut Ratna. Makanya Ratna jadi bawaannya makan melulu," Sahut Candra. Candra menatap Salma tanpa berkedip. Istri pertama nya itu jarang-jarang berdandan. Tapi sekarang terlihat berdandan.
"Kamu cantik hari ini Salma. Ayo, kita masuk ke kamar sekarang!" Ajak Candra sambil menarik tangan Salma masuk ke dalam kamar.
*****
Di ruangan kerja Reno.
Reno sudah bersiap melanjutkan aksi-aksi nakal nya pada Husna. Namun sebelum Reno benar-benar melakukan kegiatan mesumnya bersama dengan Husna, pintu ruangan kerja nya di gedor keras dan disertai suara cempreng yang sudah sangat dikenalinya.
"Om Reno! Om Reno! Apakah kamu di dalam? Bukakan pintu nya, dong! Ini aku, Bana datang membawakan donat buatan nenek buyut Wati," teriak seorang anak laki-laki dengan suara cempreng nya. Anak laki-laki kecil itu menyebutkan nama dirinya Bana.
"Sialan! Di saat mau enak-anak kan ada yang mengganggu!" Gumam Reno. Tentu saja Husna ikut panik dengan suara Bana yang meminta dibukakan pintu. Reno akhirnya kembali mengenakan semua pakaiannya dengan cepat. Demikian juga halnya Husna.
Dengan bergerak cepat, Reno dan juga Husna mengenakan pakaian nya dan merapikan penampilan nya. Reno melihat Husna sudah memakai pakaian nya. Kini Reno segera membukakan pintu ruang kerjanya itu.
"Om Reno! Kok lama sekali buka pintu nya? Om Reno sedang apa sih?" ucap Bana sambil melihat ke arah Husna yang sedang merapikan rambutnya. Reno segera menarik tangan Bana supaya masuk ke dalam ruangannya.
"Maaf, Bana! Tadi om Reno sedang buang air besar ditoilet. Jadi tidak cepat-cepat membukakan pintu untuk Bana," alasan Reno.
"Oh begitu yah! Om Reno ke toilet nya sama tante itu yah? Ih jorok sekali, om Reno!" sahut Bana. Reno menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sedangkan Husna menjulurkan lidah nya ke arah Reno.
"Bana ke sini dengan siapa?" tanya Reno.
"Sama ayah dengan mommy aku," jawab Bana.
__ADS_1
"Oke, om akan ke ruangan ayah Bana dulu," Sahut Reno.
"Oke, Bana biar di sini bersama tante ini saja," ucap Bana sambil duduk di kursi sofa bersama Husna.
Reno dengan perasaan kecewa dan dongkol meninggalkan ruang kerjanya menuju ke ruang kerja tuan Mukid. Betapa dirinya tidak marah, ketika ingin menikmati surga dunia bersama dengan kekasihnya diganggu oleh Bana.
"Pasti tuan muda Mukid yang menyuruh Bana ke ruangan ku. Aku tahu, kalau tuan muda Mukid paling tidak suka jika aku sedang bahagia," pikir Reno dalam hati.
Kaki. Reno terhenti ketika sudah berada di depan pintu ruangan kerja Mukid.
Tok.
Tok.
Tok.
"Ya, masuk lah, Reno!" sahut Mukid dari dalam ruangannya.
"Tuh, benar bukan?Bahkan tuan muda Mukid tahu kalau aku yang datang menjumpai nya," gumam Reno.
"Duduk lah Reno!" perintah Mukid. Reno berusaha ramah lantaran di ruangan itu ada Sinta yang duduk di kursi sudut.
"Non Sinta, bagaimana kabarnya?" sapa Reno.
"Halo Reno! Baik Reno!" sahut Sinta ramah. Mukid mengamati wajah Reno yang menyembunyikan rasa sebal.
"Kenapa? Kamu merasa terganggu dengan anakku, Bana?" tuduh Mukid setelah Reno duduk di kursi depan Mukid.
"Tuan, anda benar-benar keterlaluan! Masak menyuruh Bana gedor-gedor pintu ruangan ku dan berteriak-teriak gitu. Padahal di dalam saya lagi bersama dengan Husna," ucap Reno pelan. Tawa Mukid pecah lantaran membayangkan saat Reno dan Husna terganggu dengan suara cempreng Bana.
__ADS_1
"Hahaha hahaha," tawa Mukid semakin lepas. Reno semakin cemberut melihat Mukid yang menertawakan dirinya.