
"Nenek! Apakah Sinta belum kembali nek?" tanya Mukid.
"Belum, nak! Bukankah tadi Sinta sudah pamit kepada kamu, nak?" tanya nenek Wati.
"Sudah nek! Tetapi ini sudah jam 21.00 wib. Kenapa belum kembali yah, nek? Katanya hanya sebentar saja di rumah Ratna, setelah itu pulang," Terang Mukid.
"Coba kamu telepon saja nak! Siapa tahu Ratna masih menahan Sinta untuk pulang karena saat ini Ratna memerlukan teman bicara dengan Sinta," usul nenek.
"Nenek benar! Baiklah Saya akan telepon Sinta dulu nek," sahut Mukid.
"Itu lebih bagus daripada kamu gelisah memikirkan Sinta," Gumam nenek Wati.
*****
"Apa?? Sinta tidak di rumah kamu? Kemana dia?" Ucap Mukid terkejut.
"Baiklah! Terimakasih Ratna atas informasinya," kata Mukid mengakhiri panggilan keluar nya.
"Di mana Sinta? Astaga! Jangan-jangan Sinta menjumpai tuan Drajat Aji Saka di hotel itu. Aku harus segera ke sana," gumam Mukid.
"Reno!" teriak Reno. Kebetulan saat ini Reno berada di rumah Mukid dan menemani Bana bermain. Mukid segera menyambar jaket kulitnya dan menuruni anak tangga menuju kamar Bana yang berada di lantai bawah.
"Reno!!!!" Kembali Mukid berteriak.
Dia tentu saja sudah panik lantaran Sinta belum pulang dan ketika Mukid mencoba menghubungi nomor handphone nya juga tidak diangkat oleh Sinta. Hal itulah yang membuat Mukid benar-benar sangat mengkhawatirkan Sinta. Bagaimana jika Sinta sudah dalam dekapan pria mesum itu? Bagaimana jika Sinta saat ini sudah bersama pria itu becinta di atas peraduan. Ah jika itu benar! Mukid tidak akan memaafkan dirinya atas keputusan Sinta yang nekat menjual dirinya demi uang itu.
"Ada apa ayah? Kenapa ayah sangat panik?" tanya Bana ikut kepo. Reno melebar matanya ketika melihat wajah Mukid yang terlihat tegang dan sangat panik luar biasa.
__ADS_1
"Nak, ayah pergi dulu kerja yah! Jaga nenek di rumah! Ayo Reno kita tidak ada waktu lagi! Nanti aku jelaskan saat di dalam mobil," kata Mukid sambil melangkahkan kaki lebarnya keluar dari ruangan itu setelah mengecup pipi kanan dan kiri milik Bana. Bana hanya bengong tidak mau banyak bicara lagi.
Sampai akhirnya Bana berteriak setelah ayah tirinya dan juga Reno masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya.
"Ayah Mukid! Hati-hati yah! Jaga mommy untuk aku!!" teriak Bana. Tentu saja Mukid dan Reno yang mendengar nya menjadi terkejut. Mukid dan Reno saling pandang dan menatap aneh.
"Semakin hari anakku itu semakin cerdas saja! Aku tidak menjelaskan sesuatu tapi dia sudah bisa menebak nya," ucap Mukid.
"Jadi, kita langsung ke hotel, tuan?" tanya Reno memastikan.
"Benar! Tanpa aku menjelaskan kepada kamu, kamu juga sudah tahu dan paham akan situasi yang terjadi bukan? Sepertinya Bana menjadi cerdas lantaran didikan dari kamu, Reno!" kata Mukid.
"Hehe tidak tuan muda! Bana cerdas memang sudah dari orok nya. Lihat saja! Mommy nya saja sangat luar biasa, mampu membuat dua laki-laki kuat dan tangguh berusaha mendapatkan nya," kata Reno.
"Hai, kamu salah ucap Reno! Aku sudah mendapatkan Sinta dari awal. Tapi sekarang aku berusaha mempertahankan apa yang sudah aku punya dan jangan sampai disentuh oleh orang. Dia seperti berlian bagi aku, Reno!" Sahut Mukid. Kini Mukid mengeluarkan dan membuka kotak yang dia sembunyikan di bawah jok mobilnya. Di sana ada benda yang bagi Mukid akan berguna jika keadaan sudah dalam kondisi terdesak. Reno melebarkan kedua bola matanya melihat senjata api yang ditimang oleh Mukid.
*****
Setelah tuan Drajat Aji Saka mengajak makan bersama, tuan Drajat Aji Saka mengajak Galuh ke balkon luar kamar hotel itu. Galuh benar-benar menjadi kucing yang baik dan penurut mengikuti segala perintah tuan Drajat Aji Saka.
"Kemarilah kita minum di sini saja sambil melihat bintang bertebaran malam ini," kata tuan Drajat Aji Saka.
Tangan kokoh milik tuan Drajat Aji Saka sudah menyambar tubuh indah milik Galuh dan kini sudah jatuh terduduk di atas paha nya. Galuh sudah mulai tegang dan jantung nya berdetak lebih kencang. Tangan itu kini mulai mengusap lembut pipi Galuh.
"Hem, kamu cukup cantik dan tidak kalah dengan Sinta. Baiklah, kamu minum lah ini dulu supaya kamu bisa lebih rileks," Kata tuan Drajat Aji Saka.
"Tuan Drajat, apakah anda sudah menyiapkan uangnya?" tanya Galuh memastikan. Dirinya sudah sangat berani bertindak dan tidak ingin gagal dalam usaha dan pengorbanan nya.
__ADS_1
"Hem, kamu jangan khawatir sayang! Aku tidak akan berbohong. Bukankah kamu tadi sudah melihatnya bukan? Di atas meja dalam kamar itu ada tiga koper yang berisikan uang dengan jumlah sesuai kesepakatan," terang tuan Drajat.
"Baru melihat koper nya saja tapi belum melihat isinya," gumam Galuh.
"Hahaha, itu tentu saja berisi uang kertas sayang! Percaya dengan aku," sahut tuan Drajat. Galuh tersendiri lega. Setelah dirinya menjual dirinya untuk tuan Drajat, dia akan mendapatkan dana itu untuk tuan Mukid demi menyelamatkan perusahaan laki-laki yang dicintai nya.
"Minumlah! Ini akan membuat kamu semakin liat di atas ranjangku nanti," ucap tuan Drajat sambil mendekatkan gelas berisi wine ke mulut Galuh. Galuh segera meminumnya. Kini giliran Galuh memberikan gelasnya dan memberikan minuman itu kepada tuan Drajat Aji Saka. Tuan Drajat Aji Saka segera meminumnya sampai tandas.
Kini tuan Drajat Aji Saka sudah mulai meraih tengkuk leher Galuh hingga lebih dekat ke wajahnya. Dengan cepat bibir yang mungkin saja masih perawani segera dicium liar oleh tuan Drajat. Irama jantung Galuh semakin berdetak kencang. Saat ini Galuh merasakan rasa yang aneh ketika bibir milik tuan Drajat mulai dicium bibir nya. Masih belum ingin membalas nya, akhirnya tuan Drajat sedikit menggigit bibir milik Galuh sehingga kini ciuman itu mulai saling berbalas.
Namun sebelum tangan tuan Drajat Aji Saka bergerilya kemana-mana, Galuh mendorong pelan dada tuan Drajat dan Galuh turun dari atas paha tuan Drajat. Galuh kini duduk sendiri di sebelah tuan Drajat.
"Kita nikmati dulu minuman kita, tuan! Jangan terlalu buru-buru. Bukankah kita habis makan malam?" ucap Galuh berusaha mengulur waktu.
"Baiklah!?" sahut tuan Drajat Aji Saka sambil kembali menuang botol wine itu ke dalam gelasnya. Setelah menenggak nya habis tuan Drajat Aji Saka mulai berdiri dari tempat duduknya.
"Tuan mau kemana?" Tanya Galuh.
"Tunggu sebentar! Aku mau ke toilet sebentar. Ketika kamu duduk di atas paha ku, kamu pinggul kamu menekan adik kesayangan ku. Jadi, rasanya ingin buang air," Jelas tuan Drajat. Galuh terkekeh dibuatnya.
"Baiklah, jangan lama-lama tuan Drajat!" Sahut Galuh. Ketika tuan Drajat masuk ke dalam kamarnya, Galuh segera mengeluarkan obat tidur ya g sudah ia sembunyikan di dalam bra nya. Obat tidur itu akhirnya dicampurkan di dalam gelas milik tuan Drajat Aji Saka.
"Aku tidak perlu setelah ini tuan Drajat Aji Saka mencariku, yang terpenting aku bisa mendapatkan koper yang berisi uang itu untuk menyelamatkan perusahaan tuan Mukid," pikir Galuh seraya memasukkan obat tidur dengan dosis tinggi ke dalam minuman dan gelas milik tuan Drajat.
*****
Minuman itu sudah terminum oleh tuan Drajat. Namun entah kenapa belum juga ada tanda-tanda reaksi obatnya. Galuh semakin panik jika malam ini dirinya benar-benar harus melepaskan keperawanannya pada laki-laki yang tidak ia cintainya.
__ADS_1