TEROBSESI ISTRI ORANG

TEROBSESI ISTRI ORANG
BAB 32


__ADS_3

Di sudut kamar itu, Natali menangis sesenggukan. Seseorang yang telah dinantikan tidak kunjung tiba. Sedangkan kakak nya sudah terlanjur memberikan harapan. Betapa hati dan pikiran nya kembali diingatkan untuk bisa menggapai mimpi nya bisa bersama dengan laki-laki yang dia cintai yaitu Mukid. Padahal setelah dirinya mengalami pelecehan dan pemerkosaan oleh pacar beserta teman-temannya itu, Natali sudah memupus keinginan nya untuk mengejar cinta nya pada Mukid. Dirinya sadar, kalau sudah hina dan merasa menjijikkan untuk bisa bersama dengan pria pujaan hatinya. Namun ketika kakaknya kembali memberikan harapan untuk menyatukan dirinya dengan Mukid, Natali kembali berharap. Tapi saat dirinya telah bersemangat untuk menanti pria itu, nyatanya tidak datang mengunjungi nya. Kakaknya telah berbohong hingga kembali membuat Natali bersedih. 


"Mas Mukid! Jangan lagi membuat aku berharap lagi. Aku tidak tahu kalau aku bukan wanita yang pantas untuk menjadi pendamping hidupmu. Aku sudah kotor dan hina. Tapi apakah aku salah jika rasa cinta ini masih begitu besar dengan kamu," Gumam Natali. 


Natali menghapus air matanya. Di tangannya ada foto Mukid yang masih ia simpan. Natali seperti sudah putus asa dengan kisah cinta nya. Siapa yang akan menyembuhkan luka hatinya? Sedangkan dirinya butuh obat untuk menyembuhkan patah hatinya yang menyayatnya.


Natali keluar dari kamar nya dan berusaha bangkit dari sana. Kekacauan di rumah itu bukan dirinya tidak mengetahui nya. Dengan sisa kekuatan nya Natali kini menuju kamar kakak nya yang saat ini masih dalam perawatan karena luka beberapa tusukan karena keributan kemarin lusa di rumah itu. Jho dan juga anak buah kakak nya banyak mengalami cidera karena bentrokan yang brutal antara kubu Mukid dengan kubu Drajat Aji Saka. 


"Nona Natali!" panggil seorang laki-laki dewasa yang tidak lain adalah Jho. Jho hanya mengalami memar saja saat bertikai dengan Reno dan saat itu di sekap di dalam kamar mandi. 


"Bang Jho!" sahut Natali. 


"Jangan dulu ke kamar tuan Drajat! Itu perintah kakak kamu," kata Jho. 


"Hem, apakah kakak belum sadarkan diri?" tanya Natali. 


"Jangan khawatir, nona! Hanya luka tusukan seperti itu, bagi tuan Drajat hanya masalah kecil. Tapi beliau tidak ingin diganggu saat ini. Ada dua perawat yang menjaga tuan Drajat di kamarnya. Jadi nona belum diperkenankan masuk ke dalam," jelas Jho. 


"Oh, baiklah kalau begitu! Aku akan kembali ke dalam kamarku, bang!" sahut Natali. Jho menahan tangan Natali. Kedua netra mereka beradu. 


"Ada apa, bang?" tanya Natali sambil mengernyitkan dahinya. 


"Hem, bagaimana kalau nona jalan-jalan untuk menghirup udara segar. Dan ijinkan aku menemani nona! Jangan terus menerus meratapi kesedihan dan kekecewaan dari semua peristiwa yang terjadi, nona! Biar kan dunia terus berputar dan kita harus tetap bangkit menikmati kebahagiaan kita," kata Jho berusaha memberikan semangat bagi Natali. 


"Jalan-jalan kemana?" tanya Natali terlihat mulai tertarik dengan ucapan Jho. 

__ADS_1


"Ayo, ikut aku!?" ajak Jho. Natali sangat patuh kali ini membiarkan tangannya digandeng oleh Jho naik ke anak tangga menuju ke lantai paling atas bangunan rumah itu. 


*****


Mukid memeluk Sinta erat. Betapa kebahagiaan menyelimuti keduanya. Kehamilan Sinta seperti hadiah dan anugrah terindah bagi Mukid.


"Setelah ini jangan pergi-pergi lagi. Aku takut terjadi apa-apa dengan kamu, mas! Kamu bikin aku khawatir, tau! Jadi gak bisa tidur, gelisah, rasanya gak enak banget," ucap Sinta manja. Mukid tersenyum mendengarnya. Rasanya Mukid begitu senang jika Sinta menjadi mengkhawatirkan dirinya. 


"Iya, maaf! Tapi sekarang kamu sudah bisa tenang bukan? Aku sudah di sini memeluk kamu," ucap Mukid masih memeluk pinggang Sinta. Kedua nya dalam mode saling manja. 


"Heem, tapi kamu semalam sudah membuat aku tidak bisa bobok dengan nyenyak," Protes Sinta. 


"Ya sudah, aku janji kalau setelah ini kamu bakal bobok dengan nyenyak. Tetapi sebelum itu... sebelum itu.. Hmmm," kata Mukid. 


"Hem, apa?" tanya Sinta. Wajahnya sudah memerah karena tatapan Mukid sudah penuh minat dan hasrat. 


"Aku ingin memastikan kalau janin di dalam rahim kamu baik-baik saja," bisik Mukid. Sinta menarik hidung Mukid karena gemas. 


"Tapi pelan-pelan yah melakukan nya, mas? Kata dokter usia kehamilan ku ini masih rawan untuk melakukan kegiatan yang terlalu ekstrim," ucap Sinta. 


"Iya, sayang! Aku sangat tahu itu," Sahut Mukid dengan senyum lebarnya. 


*****


Galuh masih terpaku dan diam. Dalam hatinya masih dalam kesedihan dan masih merasakan terhina karena pelecehan yang dilakukan oleh tuan Drajat Aji Saka beserta asisten pribadinya. Reno masih memahami kondisi itu. 

__ADS_1


Reno kini menjadi laki-laki yang penuh perhatian menjaga Galuh di sana. Rasanya Reno masih belum tega meninggalkan Galuh sendirian di apartemen nya. Reno menyiapkan semua makanan dan memastikan Galuh untuk memakannya. Reno ingin, semua nya baik-baik saja melihat Galuh kembali ceria dan penuh semangat. 


*****


Di kamar pribadi tuan Drajat Aji yang kini dirubah seperti rumah sakit lengkap dengan alat-alat medis di sana. 


"Aku tidak akan memaafkan mereka!" kata tuan Drajat Aji Saka. Kedua perawat nya yang menemani nya hanya diam mendengar keluh kesahnya. 


"Bahkan Mukid telah mengingkari ucapannya untuk menikah dengan adikku. Bahkan aku sudah memberikan hadiah yang besar jika Mukid mau memenuhi keinginan ku dan Natali. Tapi nyatanya, Mukid memberontak. Anak buah nya membuat kekacauan menyerang duluan orang-orang ku. Setelah ini, aku akan membuat Mukid tidak bisa hidup dengan tenang bersama istrinya," ucap Drajat penuh dendam. 


"Kebahagiaan Mukid adalah Sinta. Aku akan berusaha memisahkan mereka dengan berbagai cara. Jika cara yang kasar tidak mempan, aku akan menggunakan cara yang halus dengan mendatangkan wanita lebih cantik dari Sinta. Jika perlu, aku akan membuat hubungan rumah tangga mereka hancur seperti hati Natali," kata Drajat penuh dengan rencana licik. 


Kedua perawat yang duduk di sebelah kanan dan kiri tuan Drajat Aji Saka hanya ikut menyimak ucapan dari laki-laki yang sudah membayarnya dengan mahal. 


Kini tatapan Drajat Aji Saka tertuju pada dua perawat nya yang cantik itu. 


"Lakukan yang bisa kalian lakukan untuk membuat aku senang sekarang juga!" ucap Drajat kepada kedua perawat itu. Keduanya saling berpandangan tidak mengerti maksud dari perintah laki-laki yang sudah membayar mereka dengan mahal. 


"Apakah kalian tidak paham, apa yang aku perintah kan pada kalian? Aku akan membayar kalian tiga kali dari bayaran yang sudah aku berikan pada kalian. Sekarang tunaikan tugas ini. Dan buat aku tidak merasakan sakit dan nyeri lagi di bagian tusukan ku," Ucap Drajat. 


"Tapi tuan! Jahitan luka tusukan nya belum juga mengering. Anda tidak boleh melakukan kegiatan yang terlalu berlebihan," protes satu perawat itu. 


"Aku tidak akan aktif! Kalian berdua saja yang lebih aktif dan membuat aku senang. Mengerti?" sahut Drajat Aji. 


Kedua perawat itu saling pandang. Satu diantara keduanya sudah memahami perintah dari tuan Drajat Aji Saka. Lalu dengan cepat mulai menunaikan perintah dan apa yang menjadi keinginan dari laki-laki yang telah membayar nya dengan maha. Sedangkan perawat yang satu lagi membulat matanya dengan sempurna melihat rekannya mulai melakukan hal yang tidak seharusnya. 

__ADS_1


__ADS_2