TEROBSESI ISTRI ORANG

TEROBSESI ISTRI ORANG
BAB 43


__ADS_3

Sementara itu di rumah kediaman Candra. Saat ini Candra sedang bersama dengan Salma, istri pertama nya. Keduanya kelelahan setelah menikmati kebersamaan nya di hari sabtu sampai larut malam. Keduanya duduk di ruang tengah sambil membicarakan tentang anak-anak mereka yang saat ini berada di kampung bersama kakek nenek nya.


"Oh, iya mas! Di mana dik Ratna yah, mas? Sejak tadi belum kelihatan?" tanya Salma.


"Biasa! Paling juga tidur atau main handphone di kamarnya. Sudahlah, ayo kita lebih baik masuk ke dalam kamar saja," ajak Candra. Salma tersenyum lebar. Dia hari ini dia benar-benar sangat spesial dimata suaminya. Perhatikan Candra semuanya tercurah pada Salma. Bahkan Candra terlihat cuek dengan Ratna.


"Hem, mas Candra duluan saja deh masuk kamarnya. Aku akan melihat dik Ratna dulu di kamarnya, mas," Kata Salma.


"Baiklah! Jangan lama-lama loh! Aku tidak mau menunggu kamu terlalu lama. Kalian berdua itu kalau sudah ketemu suka nya ghibah tidak jelas," ucap Candra dengan gaya nya yang sok angkuh.


"Iya, mas! Aku tidak lama kok, hanya menyapa dik Ratna saja kok," kata Salma.


Candra segera masuk ke dalam kamarnya dan menunggu istri pertama nya menyusul ke dalam. Sedangkan Salma berjalan menuju kamar Ratna dan mengetuk pintu kamar Ratna.


"Dik Ratna, apakah kamu di dalam?" tanya Salma sambil mengetuk pintu kamar itu. Salma membuka handle pintu kamar itu dan ternyata tidak dikunci. Pintu itu terbuka Salma tidak melihat keberadaan Ratna di dalam kamarnya.


"Tidak ada Salma di kamar ini. Di mana dia? Apakah dia pergi ke apartemen nya?" gumam Salma. Salma tersenyum lebar mendapati madu nya tidak ada di dalam kamar nya itu. Salma kembali menuju kamar utama rumah di mana Candra sudah menunggu nya.


"Mas Candra!" panggil Salma.


"Hem, ada apa Salma? Ayo naik lah di tempat tidur!" perintah Candra. Salma tersenyum lebar dan mengikuti perintah suaminya.


"Mas Candra, di kamar tidak ada dik Ratna. Kira-kira dimana dia, mas?" tanya Salma. Candra melebar matanya dengan laporan yang disampaikan oleh istri pertama nya.


"Kemana lagi kalau tidak pulang ke apartemen nya? Wanita itu selalu saja membangkang apa kata suaminya. Bahkan tidak pamit dan memberitahu kalau keluar dari rumah. Tidak seperti kamu sayang! Kamu istriku yang paling penurut dan tidak aneh-aneh. Ratna ini sudah hamil dan perutnya membuncit masih saja suka kluyuran. Kalau terjadi apa-apa dengan kandungan nya, kita juga yang repot," keluh Candra.


"Ya sudahlah, mas! Enak nya bagaimana? Mau kita jemput di apartemen nya atau tidak?" tanya Salma.

__ADS_1


"Biarin saja! Kemarin aku sudah menjemputnya di apartemen. Sekarang aku harus menjemputnya lagi? Benar-benar merepotkan sekali. Lebih baik kita enak-enakkan di sini kan, sayang! Lagipula cuaca lagi dingin-dingin seperti ini dan diluar sedang hujan. Lebih baik aku dan kamu saling manja-manjaan saja," ucap Candra.


"Ih mas Candra! Genit ah!" kata Salma dengan senyuman nakalnya.


*****


Di kamar hotel itu, Ratna masih belum bisa memejamkan matanya. Dia sangat gelisah membolak-balikan badannya di kamar itu. Sedangkan Sinta sudah tidur dengan pulas. 


Ratna kembali membuka ponselnya. Tidak ada pesan chat dari suaminya sekedar menanyakan kabarnya. 


"Tidak ada pesan chat dari mas Candra. Apakah mas Candra benar-benar tidak memperdulikan aku lagi?" gumam Ratna. 


"Apa aku harus pulang yah? Tapi sudah larut malam. Biarin saja deh. Tapi kenapa aku sulit tidur?" gumam Ratna. 


Tiba-tiba saja Sinta terbangun dari tidurnya dan membuka matanya. Di sebelah nya ada Ratna. Sinta merasa ada yang kurang saat dia tidur. 


"Kenapa Sinta? Kamu terbangun yah?" tanya Ratna. 


"Huum! Aku biasa dipeluk suamiku saat bobok. Jadi berasa aneh saja saat aku bangun tidak ada mas Mukid. Oh iya kamu sendiri sejak tadi belum bobok yah?" ucap Sinta. 


"Aku tidak bisa tidur, Sinta. Rasanya gelisah dan tidak enak banget," jelas Ratna. 


"Apa kamu suka dipeluk juga sama Candra?" tanya Sinta. Ratna menggeleng kepalanya. 


"Tidak! Kami kalau sudah begituan Masing-masing tidur sendiri dan tidak suka berpelukan," kata Ratna. 


"Oh begitu yah! Ratna aku nyusul mas Mukid di depan saja yah! Kamu di kamar ini sendirian tidak apa kan?" ucap Sinta. 

__ADS_1


"Iya, kamu sudah terbiasa tidur dipeluk oleh suami kamu. Kalau aku sudah biasa tidur sendirian. Ya sudah sana! Mas Mukid mungkin juga gelisah belum memelukmu dari tadi," kata Ratna. 


"Ya sudah, aku pindah boboknya di depan sama mas Mukid! Selamat mimpi indah, Ratna," kata Sinta lalu turun dari tempat tidur mewah dan lebar kamar hotel itu. 


Sinta keluar dari kamar hotel itu dan mencari Mukid. Ternyata Mukid tiduran di kursi sofa. Pelan-pelan Sinta mengusap lembut wajah Mukid. Namun ternyata mata itu membuka dan melihat ke arah Sinta. 


"Hem, sayang! Ada apa? Kenapa kemari?"tanya mukid. 


" Mau bobok dipeluk kamu, mas!" rengek Sinta manja. Mukid tersenyum lebar. Mukid bangun dari kursi sofa itu. Tidak mungkin jika sofa itu dibuat tidur dengan dua orang sekaligus. 


"Ya sudah, kamu bobok di sofa saja yah sayang! Aku akan di sini menemani kamu tidur," Kata Mukid. 


"Hem, enggak mau! Aku mau nya bobok berdua dan berpelukan," ucap Sinta dengan cemberut. 


"Kita bobok di bawah sani saja, mas!" tunjuk Sinta pada karpet di bawah sofa. 


"Hem nanti masuk angin kalau tidur di bawah?" sahut Mukid. 


"Enggak, pokoknya di sini saja bobok nya!" ucap Sinta sambil meletakkan bantal yang dia bawa tadi di kamar hotel. Sinta segera meletakkan kepalanya di atas bantal dan berbaring di atas karpet. Mukid tersenyum melihat tingkah istrinya yang manja dan banyak kemauan. Mukid akhirnya berbaring di sebelah Sinta. 


"Sini, katanya mau dipeluk!" ucap Mukid. Sinta segera menenggelamkan kepala nya di bawah ketiak Mukid. Mukid mengusap puncak kepala Sinta dan mengusapnya dengan lembut. 


"Istriku yang cantik dan manja! Seneng banget kalau kamu selalu seperti ini. Sehat selalu yah sayang!" bisik Mukid seraya mengecup puncak rambut Sinta yang wangi. 


Kedua nya kini memejamkan matanya dan mulai kembali tertidur. Sinta sudah kembali terlelap dalam tidur nya. Sedangkan Mukid harus gelisah menahan gejolaknya yang meronta. Malam ini dia harus libur dulu karena istrinya seperti kecapean dan kekenyangan seharian ini. 


"Wangi rambut kamu saja bikin aku semakin bergelora. Kamu memang sudah menjadi candu bagi aku, sayang. I love you Sinta!" gumam Mukid yang terus menerus mengusap puncak rambut Sinta. Hal itu semakin membuat Sinta nyenyak dalam tidur nya karena nyaman memeluk suaminya. 

__ADS_1


__ADS_2