TEROBSESI ISTRI ORANG

TEROBSESI ISTRI ORANG
BAB 46


__ADS_3

"Mas, lebih baik dik Ratna suruh istirahat terlebih dahulu di dalam kamar," ucap Salma setelah melihat Ratna sudah menghabiskan teh manis hangat nya. Candra pun juga telah menghabiskan kopinya. 


"Ayo, sayang! Kamu istirahat dulu di dalam kamar yah sayang! Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan janin di dalam rahim kamu," kata Candra yang segera menuntun Ratna masuk ke dalam kamar. 


Salma memilih duduk di ruangan tengah. Dirinya menunggu reaksi dari obat yang telah ia berikan pada minuman Ratna dan juga Candra. 


Candra membaringkan Ratna di atas kasur lebar di kamar itu. Ratna mulai merasakan kantuk berat yang menyerang nya kuat. Hingga beberapa menit akhirnya Ratna benar-benar tertidur lelap. 


Kini menyisakan Candra di kamar itu memandang lekat istri keduanya. Namun beberapa saat kemudian dirinya menjadi merasa tidak nyaman. 


"Eh? Aku tidak mungkin mengganggu Ratna. Dia sudah tertidur lelap. Tapi kenapa tiba-tiba saja aku menjadi ingin," gumam Candra. 


Tiba-tiba saja Salma masuk ke dalam kamar itu. Senyum seringai muncul pada diri Salma. Sedangkan Candra sudah menatap bagian perhiasan indah di dada Salma. 


"Mas, apakah Ratna sudah tidur?" tanya Salma yang pura-pura bertanya. Padahal jelas-jelas dirinya melihat bahwa Ratna sudah nyenyak dalam tidur nya. 


"Sudah, dia terlihat sangat nyenyak dalam tidur nya," Sahut Candra. 

__ADS_1


"Benar!" kata Salma. 


"Salma! Ayo ikut aku!" ajak Candra. Salma mengikuti Candra yang menarik tangannya keluar dari kamar utama itu menuju ke kamar belakang di mana kamar tersebut saat ini telah kosong. 


"Kita tidur di sini saja, Salma! Biarkan Ratna beristirahat tanpa terganggu dengan kegiatan kita," ucap Candra sambil melepas kaos oblongnya. Salma paham apa yang diinginkan suami nya. Tampaknya obat perangsang yang dia berikan di kopi Candra sudah bekerja. Candra menatap tajam ke arah Salma. 


"Aku mau kamu aktif, Salma!" ucap Candra masih saja menunjukkan diktator nya. 


"Baik, mas! Aku tahu untuk membuat kamu semakin ketergantungan dengan aku," Kata Salma akhirnya dan mulai melakukan tugasnya. 


Di tempat lain percakapan terjadi antara pak Gunawan bersama putrinya, Melinda. 


"Sepertinya kamu sangat tertarik sekali dengan tuan Mukid, putriku," ucap pak Gunawan. Melinda tersenyum malu karena papa nya mengetahui gelagatnya dan Melinda tidak bisa menyembunyikan rasa ketertarikannya pada Mukid. 


"Benar, papa! Seperti nya aku akan benar-benar jatuh cinta pada pria beristri itu. Semakin dia berusaha menghindari aku dan menepis godaan ku, aku semakin penasaran dengan tuan Mukid," kata Melinda. 


"Hahaha, sepertinya kamu sudah terobsesi untuk mendapatkan pria itu. Papa pikir itu semuanya bukan lagi cinta, nak! Itu semua hanya obsesi kamu saja," nilai pak Gunawan. 

__ADS_1


"No, papa! Sepertinya aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Cinta itu dorongan, papa! Cinta itu ada keinginan. Dan Cinta itu tentu saja ada nafsu untuk memiliki sepenuhnya. Cinta itu sangat egois bagi seorang wanita. Walaupun kenyataannya laki-laki sebenarnya tidak puas dengan salah satu Wanita. Namun pada dasarnya karena menghormati pasangan nya, seorang laki-laki rela bertahan dan kuat dengan semua godaan dan berusaha setia," kata Melinda. 


"Hem, begitu yah?" sahut Pak Gunawan. 


"Dibandingkan dengan Yosef apakah menurut kamu tuan Mukid lebih unggul?" tanya Pak Gunawan. 


"Tentu, papa!" sahut Melinda. 


"Kepribadian tuan Mukid begitu kuat. Aku menyukai pria seperti itu, papa! Ini berbeda dengan Yosef. 


" Hahaha, lalu apa yang akan kamu rencanakan setelah ini untuk mendapatkan apa yang kamu mau, Melinda?" tanya Pak Gunawan. 


"Papa pasti lebih paham, rencana apa yang seharusnya aku lakukan. Dukung aku ayah. Aku ingin memiliki suami yang romantis dan penyayang seperti tuan Mukid itu. Papa bisa melihat nya sendiri, betapa tuan Mukid sangat menyayangi dan menghargai istrinya. Seandainya wanita itu adalah aku," kata Melinda. 


"Lakukan apa yang menurut kamu baik. Tapi satu hal jangan menjatuhkan dan merendahkan harga diri kamu sebagai seorang wanita, Melinda," kata Pak Gunawan. 


"Tentu saja, papa!" sahut Melinda. 

__ADS_1


__ADS_2