TEROBSESI ISTRI ORANG

TEROBSESI ISTRI ORANG
BAB 12


__ADS_3

Di ruangan kerja Mukid. Mukid masih memikirkan penyelesaian masalah di perusahaan nya. Salah satu jalan adalah mencari sumber dana yang tidak terikat dan memberatkan. Ini bukan berbicara dengan mata uang ratusan juta saja yang mungkin kita bisa datang ke penggadaian,dengan motto nya menyelesaikan masalah tanpa melahirkan masalah. Namun dana yang diperlukan untuk menutup segala urusan yang berdampak akibat ke segala sektor itu mencapai beberapa trilliun. Benar-benar membuat kepala Mukid tiba-tiba menjadi berat.


Tok.


Tok.


Tok.


Suara ketukan membuat Mukid tersentak. Galuh masuk ke ruangan itu tanpa menunggu sahutan dari Mukid.


"Ada apa?" Tanya Mukid ketus. Dalam situasi yang dialami Mukid, membuat Mukid mudah sekali emosi. Galuh menundukkan kepalanya lantaran ciut nyalinya menghadapi sikap pimpinan nya terlihat tegang dan garang. Nyaris di wajah Mukid tidak ada senyuman.


"Di luar ada seseorang yang mencari pak Mukid," Jawab Galuh.


"Siapa?" Tanya Mukid.


"Tuan Drajat Aji Saka, pak!" jawab Galuh. Mukid terlihat berbinar bola matanya. Tentu saja dalam pikiran Mukid ada secercah titik terang seperti kehadiran ibu kita Kartini yang menerangi kehidupan.


"Baiklah, suruh beliau masuk ke ruangan ku!" perintah Mukid kepada Galuh.


"Baik, pak!" Sahut Galuh dengan menunduk hormat.


Galuh segera keluar dari ruangan kerja Mukid dan menemui tuan Drajat Aji Saka. Tidak berselang lama, tuan Drajat Aji Saka tiba dan masuk ke ruangan kerja Mukid.


"Selamat siang, tuan Mukid!" sapa tuan Drajat Aji Saka.


"Selamat siang, tuan Drajat Aji Saka! Bagaimana kabarnya?" Sahut Mukid seolah tidak terjadi apa-apa. Tuan Drajat Aji Saka tersenyum lebar.


"Justru saya yang seharusnya bertanya kepada tuan Mukid? Bagaimana kabar anda?" ucap tuan Drajat Aji Saka.


"Saya baik-baik saja, tuan Drajat! Silahkan duduk dulu! Oh iya Galuh, tolong pesankan kopi dan makanan kecil segera ke ruangan ini," Perintah Mukid kepada Galuh yang masih berdiri di dalam ruangan itu.

__ADS_1


Galuh segera beringsut meninggalkan ruangan itu dan memenuhi perintah pimpinan nya.


Sesaat tuan Drajat Aji Saka tidak lepas memandang bodi Galuh yang seksi. Mukid tersenyum saja ketika melihat tuan Drajat Aji Saka menatap Galuh penuh nikmat.


"Dia adalah Galuh, sekretaris saya tuan Drajat! Tentu saja masih gadis dan berstatus belum menikah," jelas Mukid.


"Tapi belum tentu masih perawan bukan?" Sahut tuan Drajat Aji Saka. Mukid mengernyitkan dahinya.


"Soal itu saya tidak tahu tuan Drajat Aji Saka!" kata Mukid.


"Benarkah? Siapa tahu anda lah orang pertama yang melakukan nya," tuduh tuan Drajat Aji Saka. Mukid menyipitkan bola matanya terkejut.


"Maaf, saya hanya bercanda tuan Mukid! Jangan diambil hati. Masalah nya sering terjadi pimpinan perusahaan atau CEO suka memakai sekretaris nya sendiri dalam memenuhi fantasi liatnya dalam hubungan seksual. Ketika di rumah bersama istrinya tidak mendapatkan dan terpenuhinya kepuasan seksual itu sendiri," Jelas tuan Drajat Aji Saka. Mukid melotot matanya mendengar penutur tuan Drajat Aji Saka.


"Tidak semuanya seperti itu, tuan Drajat Aji Saka!" ucap Mukid tegas.


"Memang benar! Kalau saya melihat tuan Mukid, saya yakin tuan Mukid tidak seperti itu," ucap tuan  Drajat Aji Saka.


"Saya benar-benar sangat iri dengan keberuntungan anda tuan Mukid! Memiliki istri seperti nona Sinta yang sangat cantik dan bisa mengerti apa yang diinginkan oleh seorang pria. Benarkah seperti itu, tuan Mukid?" sahut tuan Drajat Aji Saka. Mukid tersenyum ramah.


"Nyonya Cintya tidak kalah hebatnya, tuan! Tuan Drajat Aji Saka juga beruntung memiliki istri seperti nyonya Cintya. Bukankah seperti itu, tuan Drajat Aji Saka?" kata Mukid yang menirukan ucapan tuan Drajat Aji Saka.


"Hahaha, oke, oke? Baiklah, baiklah!" sahut tuan Drajat Aji Saka.


"Oh iya, tuan! Silahkan di minum kopinya," Kata Mukid dengan ramah ketika Galuh sudah kembali masuk ke ruangan kerja Mukid dengan membawa dua cangkir kopi dan juga cemilan di piring. Kini sudah tersaji di depan meja mereka.


"Kamu bisa pergi, Galuh!" perintah Mukid kepada Galuh setelah menyelesaikan apa yang diperintahkan oleh tuan Mukid. Galuh segera melangkah keluar menuju pintu ruangan kerja Mukid. Kembali tuan Drajat Aji Saka menatap nya seperti menelanjangi badan Galuh.


Kembali tuan Drajat Aji Saka serius menatap Mukid dan mulai mengutarakan maksud kedatangan nya.


"Oh iya, tuan Mukid! Saya mendengar desas desus orang kepercayaan saya. Kalau perusahaan anda sedang mengalami masalah yang serius. Jika boleh saya tahu, sebenarnya ada permasalahan serius apa, tuan Mukid? Saya merasa Tergelitik ingin membantu tuan Mukid jika saya bisa membantu. Lagi pula bukanlah kita sudah saling membentuk kerja sama selama beberapa bulan ini," kata tuan Drajat Aji Saka serius.

__ADS_1


"Sebenarnya saya tidak ingin melibatkan perusahaan anda dan juga pribadi anda sendiri tuan Drajat, dalam masalah perusahaan kami. Namun jika anda ingin membantu menyelesaikan masalah kami, sekiranya bisa memberikan pinjaman modal yang nominal nya nanti akan disampaikan oleh asisten pribadi saya. Ini semua untuk menutupi biaya operasional dan juga gaji karyawan selama beberapa bulan ke depan," jelas Mukid serius.


"Tentu, tuan Mukid! Saya akan membantu. Bahkan tidak perlu anda meminjam nya. Saya akan memberikan nya dengan cuma-cuma dan ikhlas," Sahut tuan Drajat Aji Saka.


"Appa? Jangan bercanda tuan Drajat Aji Saka! Ini bukan bicara nominal uang ratusan juta atau bahkan milyaran saja. Namun ini triliunan. Saya tidak bisa berhutang budi dengan anda, tuan Drajat Aji Saka," kata Mukid. Tuan Drajat Aji Saka terkekeh dengan kata-kata Mukid. Hal ini membuat Mukid menjadi bingung.


"Atau bagaimana jika tuan Drajat Aji Saka membeli aset saya berupa hotel and resort di daerah puncak. Lokasi nya sangat strategis dan bahkan keuntungan selama ini bisa mencapai milyaran setiap bulan," Jelas Mukid.


"Hahaha, tidak, tidak tuan Mukid! Saya tidak tertarik dengan itu semuanya! Saya lebih tertarik aset milik anda yang paling berharga. Saya bahkan rela menukarnya dengan dua aset milik Saya yang lain," Ucap tuan Drajat Aji Saka dengan sombongnya. Mukid melebar matanya dengan sempurna.


"Aset milik Saya yang paling berharga? Tolong jelaskan, tuan Drajat Aji Saka? Selain hotel and resort, Saya hanya memiliki perusahaan ini. Walaupun cabang nya ada di Jakarta dan Malang," Kata Mukid.


"Hahaha, maaf tuan Mukid! Apakah anda mau menukar aset anda yang paling berharga itu dengan dana  modal yang anda butuhkan untuk menyelesaikan masalah perusahaan? Jika oke, kita sepakati saat ini juga," kata tuan Drajat Aji Saka kembali menegaskan.


"Boleh! Jadi apa aset milik Saya yang anda sangat menyukai dan tertarik ingin memiliki nya, tuan?" tanya Mukid.


"Istri anda!" jawab Tuan Drajat Aji Saka. Sontak mata Mukid melebar dengan sempurna. Api kemarahan semakin membakar hatinya. Serta merta Mukid tiba-tiba tidak lagi menaruh hormat kepada tuan Drajat Aji Saka.


"Tuan Drajat Aji Saka! Jangan melewati batasan anda! Istri Saya tidak bisa ditukar dengan apapun! Ingat itu!" kata Mukid.


"Hahahaha, oke, oke! Tapi Saya tetap dengan tekad Saya. Saya akan membantu menyelesaikan permasalahan perusahaan anda ini dengan menukar nya dengan istri anda. Hanya satu malam saja. Saya tidak akan serakah, tuan Mukid! Toh anda bisa setiap hari bersama istri anda!" kata tuan Drajat Aji Saka tanpa malu.


"B@jingan! Silahkan keluar dari ruangan saya! Sebelum saya merusak wajah tampan anda dengan bogem tangan saya!" Ancam Mukid dengan kemarahan yang meledak-ledak.


"Oke, tuan Mukid! Saya masih bersabar dan menunggu anda berubah pikiran! Saya beri waktu satu minggu dari sekarang untuk merubah keputusan anda tuan Mukid!" kata tuan Drajat Aji Saka.


"Apakah anda mau, jika semua karyawan anda demonstrasi untuk menuntut hak gaji mereka? Sedangkan di dana di perusahaan anda sudah nol," kata tuan Drajat Aji Saka seraya tersenyum sinis. Setelah nya tuan Drajat Aji Saka melenggang keluar dari ruangan kerja Mukid dengan tertawa terbahak-bahak.


Mukid berdiri dengan marahnya. Tangannya mengepal rasanya ingin memukul muka tuan Drajat Aji Saka.


"Akhhhhhhh, b@jiiingan kamu Drajat! Seenak jidat kamu menukar semuanya dengan istriku," teriak Mukid.

__ADS_1


Di luar ruangan  Reno dan Galuh yang mendengar teriakan kemarahan Mukid segera masuk ke ruangan Mukid tanpa mengetuk pintu.


__ADS_2