
Di Starbucks kafe.
"Kamu bisa membantu aku kan Reno?" tanya Melinda sambil menyesap kopi nya dan setelah itu dia mulai menarik batang rokok dan menyalakan rokok nya.
"Membantu dalam hal apa, nona?" Sahut Reno yang memperhatikan Melinda penuh ketertarikan. Melinda walaupun sudah berumur kecantikan nya masih terlihat jelas. Bahkan wajahnya menunjukkan lebih muda daripada usianya yang sebenarnya.
"Itu tadi, Reno! Mendekatkan aku dengan tuan Mukid," jawab Melinda. Reno mengernyitkan dahinya mendengar pernyataan jujur dari wanita di depan nya.
"Tapi tuan Mukid sudah berkeluarga dan memiliki istri dan anak. Bahkan istrinya saat ini sedang mengandung anak tuan Mukid," jelas Reno.
"Kalau itu saya sudah mengetahui nya, Reno!" sahut Melinda.
"Kenapa tidak mendekati laki-laki yang lajang dan belum menikah saja, nona! Contohnya seperti aku," kata Reno sambil terkekeh. Melinda mengerutkan dahinya.
"Aku sudah terlanjur menyukai tuan Mukid," ucap Melinda.
"Aku mau kok jadi istri keduanya. Bahkan papaku juga menyetujui nya jika aku menjadi istri kedua dari tuan Mukid," ucap Melinda. Reno menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
"Ya ampun, ini sulit nona! Tuan Mukid sangat setia dengan nona Sinta. Dia tidak mau berkhidmat dengan istrinya. Serius. Selama aku menjadi asisten pribadinya dan juga bekerja dengan tuan Mukid di perusahaan nya, aku belum pernah melihat tuan Mukid bermain wanita di luar sana. Bahkan ketika kami di luar kota dan ada tekan bisnis kami yang memberikan fasilitas lengkap dengan wanita penghibur di dalamnya. Namun tuan Mukid selalu menolak itu," Jelas Reno.
"Lalu kamu lah yang akhirnya memanfaatkan fasilitas ektra itu?" sahut Melinda. Reno terkekeh mendengar ucapan Melinda.
"Tidak! Tidak! Aku bukan pria murahan yang suka celup sana-sini. Aku hanya melakukan nya dengan pasangan atau pacarku saja," sahut Reno.
"Benarkah? Siapa pacar kamu? Apakah aku mengenal nya?" Tanya Melinda.
"Tentu nona mengenalnya. Tapi tanpa aku beritahu, nanti nona juga mengetahui nya sendiri," jawab Reno.
"Hem, begitu yah!" Kata Melinda.
__ADS_1
"Bagaimana nona! Ngopi sudah dan ngobrol pun sudah. Saya harus pulang. Ini sudah jam pulang dari kantor," ucap Reno.
"Baiklah! Setelah ini mungkin saja aku harus berusaha sendiri untuk mendekati tuan Mukid dan berusaha mencuri perhatian nya," kata Melinda.
Reno yang mendengar nya jadi tersenyum.
"Tuan Mukid selalu beruntung. Kenapa setiap ada yang wanita yang cantik dan seksi semua nya jatuh hati dan tergila-gila dengan tuan Mukid. Bahkan Galuh sendiri dulu juga sangat mencintai Mukid. Dia rela melakukan apapun demi laki-laki yang dicintai nya," gumam Reno.
*****
Sementara itu di tempat lain, Sinta Bana, nenek Wati dan juga Mukid saat ini sedang di TPU di kota Malang. Mereka berziarah di makam Radit. Bana terlihat menabur kan bunga warna-warni di atas baru nisan yang bertuliskan nama lengkap Radit. Setelah itu Bana menyiramkan air yang diletakkan di botol.
Sinta dan Mukid masih terlihat berdoa di depan pusara Radit. Sedangkan nenek Wati ikut menaburkan bunga-bunga warna-warni itu di atas baru nisan seperti Bana.
"Mas Radit, kami datang Mas! Semoga mas Radit mendapatkan tempat yang lapang dan terbaik di sisi Nya," gumam Sinta.
Mukid dan Sinta sudah selesai berdoa. Mukid memegang baju Sinta dan mengajak meninggalkan tempat itu. Diikuti oleh nenek Wati dan juga Bana mereka keluar dari tempat pemakaian umum setelah mencuci muka, kaki di pancuran yang sudah disiapkan di depan.
Mereka kini sudah masuk ke dalam mobil dan masih belum saling berbicara. Pada akhirnya, Bana memulai berbicara.
"Tadi Bana melihat ayah Radit di sebelah mommy," ucap Bana. Sontak saja semua mata melihat ke arah Bana.
"Ayah Radit tambah ganteng banget loh. Makanya aku tadi bicara dengan ayah karena ayah Radit ada di sana. Sebelum ayah Radit pergi, ayah Radit membelai rambut mommy yang panjang," ucap Bana. Kembali semua mata tertuju pada Bana. Bana seperti menjadi onbyek tatapan penuh selidik oleh nenek Wati, Sinta dan Mukid. Sedangkan yang ditatap, terkekeh saja.
"Jangan melihat ku seperti itu dong! Biasa saja ayah Mukid! Mommy! Nenek buyut," kata Bana.
"Oke, oke! Setelah ini kita kemana nih? Bagaimana kalau kita mampir dulu di restoran langganan ayah Mukid dan mommy?" sahut Mukid yang tidak ingin lagi membahas hal horor yang dikatakan oleh Bana.
Bana memang memiliki kemampuan di bidang itu. Dia bisa melihat makhluk lain sejak kecil. Mommy nya kadang menjadi takut sendiri kalau Bana suka bercerita bermain dengan kawannya. Padahal jelas-jelas Bana bermain sendiri ditemani baby sitter nya.
__ADS_1
"Itu ide bagus ayah Mukid! Bana juga ingin es puter di restoran itu," sahut Bana. Nenek Wati hanya bisa terkekeh saja melihat tingkah Bana yang lucu.
"Kalau mommy pasti ingin makan iga bakar nya kan? Nenek Wati sup buntut nya. Sedangkan ayah Mukid sendiri ayam bakar nya ditambah sayur asem, sambel terasi," jelas Bana.
"Wah kamu kok hapal semua makanan favorit kami sih, sayang! Itu artinya kamu sangat perhatian dengan kami kan?" sahut Mukid.
"Tidak juga, ayah! Itu lantaran Bana sering melihat ayah Mukid, mommy dan nenek buyut suka pesan makanan itu kalau kita sedang di restoran itu. Memang benar Bana menyayangi kalian semuanya kok. Huh, seandainya saja ayah Radit masih ada di dunia ini, ayah Radit akan rebutan dengan mommy makan iga bakar nya. Padahal ayah Radit bisa memesannya sendiri tapi paling suka gangguin mommy kalau makan. Minta disuapin lagi," ucap Bana yang ngoceh dari tadi. Mukid melihat Sinta dan mengusap punggung tangannya.
"Kalau begitu, biar ayah Mukid yang akan gangguin mommy makan. Dan ayah minta disuapin mommy," sahut Mukid.
"Jangan ayah! Kasihan Mommy dong! Sekarang mommy harus kasih makan adik bayi. Jangan diganggu dulu makannya. Ayah Mukid lah yang harus kasih suapan ke mommy, supaya adik bayi sehat di dalam perut mommy," oceh Bana. Sinta yang mendengar nya menjulurkan lidahnya ke arah Mukid. Mukid mengusap puncak kepala istrinya.
"Mas, setelah makan-makan di restoran, boleh mampir cari peralatan bayi tidak?" ucap Sinta. Mukid menyipitkan bola matanya melirik ke arah Sinta.
"Boleh dong sayang! Hari ini pokoknya apa yang kalian inginkan pasti aku penuhi," sahut Mukid.
Nenek Wati tersenyum senang ditengah-tengah keluarga kecil mereka. Dia tiba-tiba teringat oleh Maimunah, anaknya yang meninggal lebih dahulu saat melahirkan bayi nya. Hal itu tertangkap oleh Sinta.
"Nenek!?" ucap lirih Sinta.
"Eh, iya Sinta!" sahut nenek Wati.
"Jangan bersedih nek! Mama Maimunah sudah tenang di sana. Sekarang ada kami yang akan membuat nenek bahagia," ucap Sinta. Nenek Wati mengusap lembut perut Sinta yang semakin hari semakin membuncit.
"Iya, Sinta! Kalian semuanya menjadi semangat bagi nenek untuk hidup lebih lama," kata nenek Wati sambil tersenyum.
"Nenek Wati! Nenek harus selalu sehat dan tidak boleh capek-capek," sambung Mukid di antara percakapan itu.
"Tentu! Aku ingin melihat cicit ku yang lucu-lucu," kata nenek Wati.
__ADS_1