TEROBSESI ISTRI ORANG

TEROBSESI ISTRI ORANG
BAB 44


__ADS_3

Pagi hari setelah mandi dan sarapan, Ratna bersiap untuk pulang ke rumah nya. Mukid dan Sinta pun ingin mengantarkan Ratna kembali ke rumahnya.


"Kalian tidak perlu mengantarkan aku pulang ke rumah. Biar aku naik taksi saja," kata Ratna. 


"Jangan dong! Kami akan mengantarkan kamu pulang Ratna. Aku menjadi penasaran dengan istri pertama dari pak Candra. Ratna, biarkan kami mengantarkan kamu sampai rumah yah," ucap Sinta. 


"Baiklah kalau begitu," sahut Ratna. 


"Nah begitu dong! Aku tidak mau kalau pak Candra memarahi kamu. Nanti aku akan menjelaskan pada Pak Candra kalau kamu menemani aku," ucap Sinta. Ratna merangkul pundak Sinta. 


"Mari ibu-ibu, kita masuk ke dalam mobil," ucap Mukid sambil membukakan pintu belakang mobilnya. Sinta dan Ratna duduk di belakang. Sedangkan Mukid kali ini menyetir mobilnya sendiri. 


"Tidak ada yang mau duduk di depan yah, nyonya?" sindir Mukid dengan bibir yang maju satu senti. 


"Maaf, tidak ada yang mau duduk di dekat sopir. Ayo jalan pak! Kami sedang terburu-buru," Sahut Sinta. Mukid semakin cemberut mendengar ucapan Sinta. 


*****


Mukid menghentikan mobilnya di depan pagar besi berwarna biru. Rumah itu terlihat masih sepi. 


"Ini benar rumah kamu kan, Ratna?" tanya Mukid. 


"Benar, kok!" sahut Ratna. 


"Mas Mukid menunggu di dalam mobil saja yah, mas! Aku antar Ratna dulu di dalam," ucap Sinta yang makin kesini suka mengatur suaminya. 


"Baik, nyonya!" sahut Mukid dan Sinta pun tersenyum melihat suaminya begitu penurut sekarang ini. 


Sinta dan Ratna kini berjalan masuk ke halaman rumah itu. Sinta memperhatikan Ratna dan di wajahnya seperti ada rasa kekhawatiran atau mungkin bisa dibilang ada rasa takut hendak masuk ke dalam rumah Candra. 


"Masih sepi yah! Jangan-jangan Candra dan istri pertama nya tidak ada di rumah," gumam Sinta. 


"Seperti nya mereka masih tidur," sahut Ratna. 


"What?? Ini jam berapa sayang? Masak masih tidur sih?" kata Sinta. 


"Karena kelelahan karena kegiatan malam hari dengan olah raga di atas ranjang," ucap Ratna. 

__ADS_1


"Oh, begitu yah? Apakah Candra seganas itu?" tanya Sinta. 


"Hampir setiap hari minta! Bersyukur ada mbak Salma yang bisa menggantikan aku bermain odong-odong dengan mas Candra," kata Ratna. Sinta terkekeh mendengar nya. 


Handle pintu itu di putar dan ternyata pintu rumah itu dikunci dari dalam. 


"Di kunci, Sinta! Kamu pulang saja deh biar aku menunggu di depan sini dulu sampai mereka terbangun," kata Ratna. 


"Hah? Kamu tidak apa-apa kalau aku tinggal pulang? Tapi sebenarnya aku ingin melihat wajah istri pertama Candra itu loh," ucap Sinta. 


"Kalau soal itu nanti aku kirim fotonya ke kamu deh! Aku nyimpan di galeri kok. Lebih baik kamu pulang saja. Kasihan Mukid sudah nunggu tuh," kata Ratna. 


"Baiklah kalau begitu! Aku pulang Ratna! Kamu baik-baik yah! Kalau ada sesuatu cerita sama aku. Oke?" Ucap Sinta sambil cipika-cipiki dengan Ratna. 


Sinta melambaikan tangan meninggalkan rumah itu. Kini menyisakan Ratna duduk menunggu di teras. Ratna tidak berani memencet bel masuk rumah itu. Ratna takut membangunkan suami nya dan juga Salma. Hingga setengah jam berlalu, Ratna akhirnya tertidur di kursi teras rumah itu. 


*****


Salma membuka pintu utama rumah itu. Dan melihat Ratna sudah berada di depan teras rumah. 


"Mbak Salma!" gumam Ratna akhirnya berdiri dan bangun. 


"Kamu kenapa tidur di sini dik? Tidak pencet bel masuk juga lagi," protes Salma. 


"Takut ganggu mbak Salma dan mas Candra yang masih tidur," Kata Ratna. 


"Ya sudah, ayo masuk biar mbak buatin teh manis panas," ucap Salma. 


Dari dalam suara teriakan Candra menggema. 


"Siapa, sayang?" teriak Candra dari dalam kamar. 


"Dik Ratna, mas!" sahut Salma. Candra yang mendengar jawaban dari Salma segera keluar dari kamarnya. 


"Kamu masih ingat jalan pulang ke rumah yah, sayang?" sindir Candra dengan sorot mata yang tajam. 


"Eh, em maaf mas! Kemarin aku bosen di rumah sendiri. Jadi aku keluar rumah saja dan main bersama Sinta," kata Ratna. 

__ADS_1


"Alasan! Ayo masuk!" ucap Candra lalu menarik lengan Ratna dengan kasar Candra lupa kalau saat ini Ratna sedang mengandung anaknya.


"Aduh sakit mas!" keluh Ratna. Candra melepaskan cengkeraman tangannya itu. 


"Kamu kenapa jadi istri susah sekali diatur sih? Pergi tidak bilang dan pamit. Bahkan sampai menginap lagi. Kalau terjadi apa-apa aku nanti juga yang repot. Dasar wanita manja," ucap Candra. 


Ratna diam dan menundukkan kepala nya. Ratna tidak berani menatap ke arah wajah Candra. 


"Sekarang aku akan menghukum kamu! Sekarang masuk ke kamar mandi!" perintah Candra. 


"Ke ke kamar mandi, mas?" sahut Ratna. 


"Iya ke kamar mandi! Cepat!" perintah Candra. Karena Ratna takut, Ratna segera masuk ke kamar mandi. Sedang kan dari luar, Candra mengunci pintu nya. 


"Mas, kenapa dikunci dari luar mas? Bukakan pintu nya mas Candra! Aku minta maaf! Mas Candra bukain pintu nya," teriak Ratna dari dalam kamar mandi. 


"Tidak! Itu hukuman kamu karena kamu tidak patuh dengan suami. Pergi tidak ijin dan memberikan kabar," sahut Candra. Ratna di dalam masih saja berteriak-teriak dan menggedor pintu nya. Namun Candra tidak mengindahkan teriakan dari Ratna. 


"Rasain! Itulah akibat kamu menjadi istri yang tidak patuh pada suami," ucap Candra lalu keluar dari dalam kamarnya. 


Di luar kamar, Candra menuju ke ruang makan, di mana di sana ada Salma. 


"Loh, mas! Di mana dik Ratna? Kenapa tidak diajak sarapan bersama kita?" tanya Salma. 


"Biarkan saja! Ratna saat ini aku hukum di dalam kamat mandi. Biar tahu rasa dia!" Ucap Candra. Sinta yang mendengar nya dalam hati sangat senang. Suaminya pelan-pelan mulai tidak menyukai Ratna dan lebih banyak memperhatikan Salma. 


*****


Di dalam kamar mandi Ratna menangis tersedu-sedu. Bagi Ratna perlakuan suaminya sangat tidak dewasa sekali. 


"Mas Candra, kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini? Kamu jahat, mas Candra! Kamu sudah banyak berubah dengan aku. Kamu tidak adil, mas Candra," ucap Ratna. 


Karena kecapean menangis dan udara yang kurang sehat, Ratna pingsan di dalam kamar mandi itu. Hingga hampir satu jam berlalu, Candra belum juga membukakan pintu kamar itu. Sampai akhirnya Candra kembali membuka pintu kamar mandi itu karena merasa curiga Ratna tidak lagi berteriak-teriak. 


"Eh, Ratna! Bisa-bisa nya kamu tidur di dalam kamar mandi! Dasar istri tidak berguna!" umpat Candra sambil menepuk-nepuk pipi Ratna untuk membangun kan nya. Tapi beberapa lama Candra membangunkan Ratna, Ratna tidak juga bangun. 


"Eh, Ratna! Ratna!" panggil Candra yang akhirnya panik sendiri dan menggotong tubuh Ratna dan membaringkan nya di atas kasur kamar itu. 

__ADS_1


__ADS_2