
Pagi hari saat Ratna terbangun, dia tidak mendapati suaminya, Candra tidur di dalam kamarnya. Ratna segera segera turun dari tempat tidur itu dan mencari keberadaan Candra.
"Di mana mas Candra? Jadi, semalam mas Candra tidak tidur di kamar ini bersamaku?" gumam Ratna.
Ratna berjalan ke kamar belakang dimana kamar itu terletak di dekat ruang makan dan dapur. Suasana masih sepi di rumah itu. Ratna membuka handle pintu kamar belakang. Ternyata kamar itu tidak dikunci dari dalam. Dia melihat Candra masih tidur terlelap bersama dengan Salma dengan posisi saling berpelukan.
"Jadi mereka semalam tidur di kamar ini dan mereka.... " gumam Ratna. Ratna melihat Candra dan Salma masih tertidur pulas.
"Aku sadar sekarang. Aku bukanlah wanita satu-satu nya dalam kehidupan Candra. Aku hanya seorang wanita yang hadir dalam kehidupan mas Candra dan menjadi perusak rumah tangga mereka. Namun akhirnya mas Candra kembali ke istri pertamanya. Mungkin saja aku harus mundur dari kehidupan mereka," pikir Ratna.
Ratna mengusap kembali perut nya yang buncit. Dia berlalu dari tempat itu dan kembali ke kamar depan.
"Aku harus kembali ke apartemen ku sebelum mereka terbangun. Lebih baik aku tinggal di apartemen ku sendiri saja," gumam Ratna sambil memasukkan beberapa barang dan pakaian nya di dalam tas.
Ratna segera meninggalkan rumah itu dan menyetop taksi yang kebetulan lewat di perumahan itu.
*****
Di rumah kediaman Sinta dan Mukid. Pagi itu keduanya sudah duduk di ruang makan. Mukid sudah siap untuk pergi ke kantor. Bana pun sudah terlihat rapi dengan pakaian sekolah nya.
"Bana, sayang! Kamu sudah selesai sarapannya belum, nak?" tanya Sinta.
"Sudah, mommy!" sahut Bana.
"Pagi ini biar ayah yang mengantarkan kamu ke sekolah. Oke?" kata Mukid.
"Oke, ayah! Terimakasih banyak! Tapi tumben om Reno belum kemari untuk mengantarkan aku ke sekolah," ucap Bana.
"Om Reno lagi sibuk!" sahut Sinta. Mukid hanya diam dan mengusap kepala Bana.
"Hem, pasti sibuk pacaran yah?" sahut Bana. Mukid menyipitkan matanya mendengar ucapan Bana.
__ADS_1
"Bana, tidak boleh bicara seperti itu nak. Itu tidak baik," sambung nenek Wati yang ikut sarapan bersama.
"Baik, nenek buyut. Bana minta maaf dan tidak mengulangi lagi," kata Bana serius dengan mulut maju ke depan. Mukid tersenyum dan kembali mengusap kepala anak tiri nya itu.
"Mas, nanti sore jangan lupa yah! Pulang nya lebih cepat! Kita akan ziarah ke makam ayah Bana," kata Sinta. Bana menyipitkan bola matanya.
"Tepatnya ayah Radit, mommy cantik! Aku punya ayah dua, ayah Radit dan ayah Mukid," kata Bana.
"Iya, maksud mommy ziarah ke makam ayah Radit. Benarkan?" sahut Sinta. Bana tersenyum bikin orang yang melihat nya menjadi gemas.
"Sinta, nanti setelah jam makan siang aku usahakan pulang deh. Kamu harus periksa dulu ke dokter kandungan setelah itu baru kita ziarah ke makam Radit," ucap Mukid.
"Hem, nenek boleh ikut kan?" sahut nenek Wati.
"Bana juga ikut!" sambung Bana. Mukid dan Sinta saling pandang lalu tersenyum menanggapi keduanya.
"Hem, tidak apa-apa nenek!" kata Mukid.
"Bana juga boleh ikut kok! Berarti nanti ayah yang jemput kamu ke sekolah saja sekalian pulang jemput mommy dan nenek," kata Mukid.
"Ya sudah Bana, pamit dulu dan salaman sama nenek dan mommy!" Ucap Mukid.
"Mommy, nenek buyut, Bana pergi ke sekolah dulu yah!" ucap Bana sambil menyalami mommy dan nenek buyut nya secara bergantian.
*****
Candra sudah siap untuk berangkat ke kampus. Memang hari ini Candra mengajar kuliah di jam sembilan pagi. Salma juga sudah selesai mandi dan membuatkan kopi serta sarapan untuk Candra.
"Kemana perginya Ratna, yah mas?" tanya Salma.
"Sudah kamu jangan mikirin Ratna! Dia kalau merajuk seperti itu. Suka kembali ke apartemen nya. Nanti sepulang dari mengajar aku akan ke apartemen nya. Dan mengajaknya kembali ke rumah ini," kata Candra.
__ADS_1
"Hem, begitu yah! Baiklah! Oh ya mas! Sebenarnya aku hari ini juga akan kembali ke kampung. Sepertinya aku harus secepatnya pulang dan mengurus kepindahan ku di kota ini. Kalau di acc, aku akan secepatnya mengajar di kota Malang ini," jelas Salma.
"Kamu yakin mau pindah tugas di sini, Salma?" tanya Candra.
"Iya, mas! Itu supaya aku bisa selalu dekat dengan kamu, mas. Kenapa mas? Apakah kamu tidak suka jika aku pindah mengajar di kota Malang ini? Aku bisa mengurus kamu, buatin kopi, dan lain sebagainya," kata Salma.
"Bagaimana dengan anak-anak kita? Dia sendiri di rumah dan tidak ada orang tua nya," sahut Candra.
"Kan ada orang tuaku yang mengurus mereka. Kita bisa mentransfer setiap bulan. Beres kan?" ucap Salma.
"Salma! Sebenarnya aku lebih suka kalau kamu tinggal di kampung bersama anak-anak," Ucap Candra. Mata Salma melotot dengan sempurna.
"Mas Candra! Bukankah kemarin mas Candra bilang kalau setuju kalau aku pindah di kota ini dan menemani kamu di sini? Kamu kok jadi plin plan sih, mas," ucap Salma.
"Ya sudahlah, terserah kamu saja! Jadi kamu mau pulang hari ini atau besok?" kata Candra.
"Hari ini saja mas. Supaya aku bisa secepatnya pindah ke kota Malang ini," sahut Salma.
"Selain itu, dik Ratna beberapa bulan lagi kan melahirkan. Aku juga akan ikut membantu merawat anaknya. Eh, maksudnya anak mas Candra juga," tambah Salma. Candra diam termenung mendengar alasan dari Salma untuk pindah di kota Malang mendampingi dirinya.
"Ya sudah! Tapi aku selesai mengajar jam 1 loh!" sahut Candra.
"Aku akan beli tiket bus sore saja, mas!" kata Salma.
"Baiklah! Kalau begitu setelah aku dari kampus langsung pulang untuk mengantarkan kamu ke terminal bus," sahut Candra akhirnya.
"Hem, jadi tidak menjemput dik Ratna dulu, mas! Biar nanti dik Ratna juga mengantarkan aku ke terminal juga," tanya Salma.
"Nanti saja aku sampai kan ke Ratna. kalau kamu sudah pulang ke kampung. Ratna kadang sulit dibujuk untuk kembali ke rumah ini. Setelah aku mengantarkan kamu ke terminal baru aku mendatangi Ratna ke apartemen nya," ucap Candra.
"Oh ya sudah!" sahut Salma.
__ADS_1
"Aku berangkat dulu ke kampus, Salma! Kamu jaga rumah dulu dan beres-beres saja untuk kepulangan kamu ke kampung. Oh iya, kalau kamu ingin oleh-oleh untuk anak-anak kita, kamu bisa delivery kok. Banyak oleh-oleh seperti keripik di kota Malang ini dari kripik tempe, maupun kripik Buah-buahan ada semuanya. Anak-anak kita dan orang tua kamu pasti menyukai nya," ucap Candra.
"Baik, mas! Hati-hati di jalan mas!" kata Salma sambil meraih pergelangan tangan Candra dan mencium punggung tangannya setelah bersalaman.