
Sinta menatap tidak suka pada salah satu klien Mukid. Dari jarak yang tidak jauh dari tempat duduk Mukid beserta klien-klien nya, Sinta duduk sambil menatap tajam ke arah wanita seksi dengan pakaian yang cukup menggoda. Namun begitu, Sinta tetap asik menikmati makanan dan minuman di hotel itu yang sengaja dipesankan Mukid untuk Sinta. Semua Mukid pikirkan supaya Sinta tidak jenuh jika dicuekin Mukid mengobrol dan membicarakan tentang bisnis nya bersama dengan klien-klien nya di lobby hotel itu.
Sesekali Mukid melihat ke arah Sinta untuk memastikan kalau istrinya tidak membuat masalah atau semacamnya. Maklum ibu muda yang sedang hamil anak kedua nya itu menjadi temperamen dan bersikap aneh sesuai mood nya.
Terlihat Mukid berjalan mendekati Sinta dan semua klien-klien nya menatap Mukid dengan langkah tegap nya.
"Sayang! Kamu kalau gabut boleh kok tiduran di kamar hotel. Biar aku yang menyuruh pelayan hotel untuk mengantarkan kamu ke kamar. Klien ku sudah memberikan fasilitas kamar untuk menginap di hotel ini selama aku mau," Jelas Mukid. Sinta mengerutkan dahinya seperti menatap Mukid curiga.
"Klien yang mana, mas? Apakah wanita yang cantik, molek, seksi dengan pakaian sedikit terbuka menunjukkan belahan dada nya itu," ucap Sinta dengan bibir yang cemberut. Mukid tersenyum menahan tawanya. Mulut Sinta yang cemberut membuat Mukid rasanya ingin segera membungkam nya dengan ciuman. Tapi sayangnya keadaan dan situasi belum memungkinkan.
"Bukan Melinda, sayang! Tapi pak Gunawan yang memberikan servis itu," jelas Mukid.
"Pasti selain kamar juga ada wanita juga yang akan menjadi pelengkap ketika menginap di kamar hotel itu. Untung saja aku ikut, kalau tidak? Huh," omel Sinta. Mukid semakin menahan tawanya rasanya geli ketika melihat Sinta cemburu begitu.
"Kalau pun pak Gunawan menyiapkan wanita penghibur itu, aku tidak akan mau sayang!? Karena aku memiliki kamu, istriku yang sangat cantik dan bisa membuat aku senang," kata Mukid berusaha membuat tenang Sinta.
"Hem, gitu yah?" sahut Sinta dengan tersenyum lega seperti anak kecil yang sudah luluh karena bujuk rayuan dari orang tuanya saat merengek.
"Sekarang mau ke kamar hotel atau di sini saja?" tanya Mukid lagi.
"Aku di sini saja!" sahut Sinta sambil melihat ke arah klien-klien Mukid yang saat ini memperhatikan dirinya dengan Mukid dari kejauhan.
"Ya sudah! Kalau nanti kamu bosen, bilang saja yah, sayang! Aku harus kembali melanjutkan obrolan dengan beberapa klien-klien ku dulu," kata Mukid.
"Heem, mas! Tapi cium dulu dong sebelum kamu kembali ke tempat duduk itu," ucap Sinta. Mukid terkekeh mendengar permintaan istrinya.
Mukid sangat tahu kalau Sinta sengaja menyuruhnya menciumnya supaya bisa dilihat oleh Melinda beserta klien-klien Mukid yang duduk tidak jauh dari tempat duduk Sinta. Sinta ingin menunjukan pada Melinda, bahwa Mukid sudah beristri dan dirinyalah istrinya. Mukid serta merta mengikuti permintaan Sinta yang mencium pipi kanan dan kiri nya. Setelah itu mencium bibir Sinta hingga beberapa detik. Sinta tersenyum senang dengan perlakuan Mukid yang menunjukkan bahwa dirinya lah wanita satu satu nya dan spesial bagi Mukid. Dengan senyuman lebar, Sinta melihat ke arah Melinda. Benar saja, sejak dari tadi Melinda memperhatikan Mukid yang mendatangi Sinta.
"Kamu lihat, mas! Melinda jadi cemberut saat kamu mencium aku. Sekarang lakukan lagi! Aku akan berdiri dan memeluk kamu sebentar," bisik Sinta saat Mukid selesai mengecup Sinta.
"Ya Tuhan! Kenapa kamu jadi posesif seperti ini sih?" sahut Mukid tapi tetap mengikuti kemauan Sinta. Sinta dengan cepat merangkul leher Mukid dan kembali Mukid mencium Sinta dengan lembut.
"Sudah yah, sayang! Kalau keterusan, aku bisa tidak tahan untuk menyeret kamu ke dalam kamar hotel dan membuat kamu kembali mendesaaaaahhh," ucap Mukid. Sinta cekikikan.
"Takutttttt," sahut Sinta dan kembali duduk di kursi empuk nya. Sedangkan Mukid kembali ke tempat duduk bergabung kembali bersama klien-klien nya.
"Suami aku itu memiliki pesona dan kharisma yang luar biasa. Aku tidak akan membiarkan Seorang wanita pun berusaha mendekati mas Mukid. Aku kan tidak mau jika harus berbagi suami seperti Ratna. Eh, apakabar dengan Ratna? Aku lebih baik menghubungi dia," gumam Sinta.
*****
Di rumah tinggal Husna.
__ADS_1
"Ada apa lagi, Husna? Bukankah kita sudah putus? Kita bukan lagi pasangan kekasih lagi. Tolong jangan mengganggu aku lagi," ucap Reno.
"Itu kan mau kamu, Reno! Tapi aku tetap tidak mau diputusin sama kamu. Sampai kapan pun, kamu adalah kekasihku, oke?" Sahut Husna.
Reno menjatuhkan tubuh nya di atas kursi sofa. Rasanya sangat lelah. Selama perjalanan Reno sudah berpikir yang tidak-tidak soal Husna kalau Husna benar-benar nekat ingin bunuh diri. Tapi nyatanya hanya omong kosong dan gertakan saja supaya dirinya mendatangi Husna di rumah tinggal nya.
"Sekarang aku sudah datang menjumpai kamu. Apa yang kamu mau, katakan!" ucap Reno.
"Ih tidak sabaran banget sih jadi laki-laki. Aku tentu saja kangen kamu, Reno. Pokoknya malam ini kamu harus berkencan dengan ku malam ini. Hari ini kan malam minggu, kita makan malam romantis berdua. Setelah itu kita menghabiskan malam minggu bersama," ucap Husna.
"Tidak! Aku tidak mau! Kalau tidak ada lagi yang penting, aku akan pulang," sahut Reno.
"Eh, jangan dong sayang! Tunggu dulu!" kata Husna mencoba menahan Reno.
"Apa lagi sih, Husna? Aku tegaskan kalau kita sudah putus dan kita bukan lagi sedang berpacaran," ucap Reno.
"Baiklah aku Terima keputusan kamu, Reno. Tapi aku minta penuhilah permintaan ku kali ini dan malam ini terakhir kalinya kita bersama. Anggap saja ini adalah kencan terakhir dan perpisahan untuk hubungan kita," ucap Husna dengan sorot mata penuh pengharapan. Reno mengerutkan dahinya.
"Janji ini yang terakhir? Kamu tidak berbohong kan?" sahut Reno.
"Janji! Ini yang terakhir kalinya. Setelah itu silahkan kalau kamu memilih wanita itu," kata Husna. Reno menyipitkan bola matanya menatap heran pada Husna.
"Kenapa? Kamu kaget yah, kalau aku sudah tahu kalau sebenarnya kamu selama ini telah menjalin hubungan dengan temanku sendiri yaitu Galuh? Dan aneh nya Galuh sendiri juga diam-diam mengkhianati aku kan?" kata Husna.
"Lalu akhirnya kamu memilih Galuh karena kamu memang harus memilih salah satu dari kami bukan?" Tambah Husna. Reno diam menatap wajah Husna.
"Tapi tidak apa, aku tetap memaafkan kamu walaupun kamu yang salah telah berselingkuh dibelakang ku. Sedangkan Galuh tidak tahu kalau kamu adalah pacarku," kata Husna.
"Baiklah, sekarang apa mau kamu, Husna?" sahut Reno.
"Tidak ada! Aku hanya minta malam ini kamu dan aku menghabiskan malam minggu bersama. Anggap saja malam ini perpisahan kita. Setelah itu, aku tidak akan menggangu kalian lagi. Karena kamu lebih memilih Galuh daripada aku. Walaupun kecewa dan sakit hati. Nyatanya kamu lebih memilih Galuh bukan?" ucap Husna.
Kali ini Husna menangis terisak-isak. Hal itu membuat Reno jadi ikut iba.
"Baiklah, bersiap-siaplah! Kita akan makan malam romantis berdua. Setelah itu kita ke apartemen ku saja. Tidak mungkin kan, aku di sini sampai pagi di rumah kakak ipar kamu," kata Reno. Husna tersenyum lebar karena Reno menuruti apa kemauannya.
*****
Ratna saat ini sedang gabut di rumah itu sendirian. Salma dan juga Candra sedang keluar menikmati weekend.
"Aku lebih baik ke tempat Sinta atau kembali ke rumah saja daripada di sini sendirian," gumam Ratna yang sejak dari tadi memakan makanan hasil masakan nya.
__ADS_1
Perutnya kini mulai sedikit membuncit. Diusap dengan lembut oleh Ratna.
"Aku harus kuat dan sabar menjadi istri yang kedua. Tidak ada terpikirkan oleh ku jika harus berbagi suami. Ini sangat tidak enak sekali. Menekan ego dan terkadang menekan emosi jika suamiku sedang memperhatikan istri pertama nya. Aku kira tidak serumit ini berbagi kasih dengan satu pria yang sama. Belum ada satu tahu, tetapi aku sudah sangat lelah. Baru dia hari aku merasakan hidup satu atap dengan istri mas Candra di rumah ini. Tapi aku merasakan tersingkir dan mas Candra seperti tidak perduli dengan aku," gumam Ratna.
Tiba-tiba saja, handphone Ratna berbunyi. Segera Ratna menerima panggilan masuk dari sahabatnya itu.
"Halo sayang, kamu lagi ngapain? Aku video call yah kalau kamu tidak sedang anuninaninu dengan Candra," kata Sinta di seberang sana.
"Aku sendiri di rumah, Sinta! Mas Candra pergi dengan istri pertama nya, mbak Salma," ucap Ratna. Kini panggilan suara itu beralih ke video call.
"Halo, sayang! Kamu ke sini saja, temani aku di hotel FFF. Nanti kita makan enak sepuasnya. Oke?" kata Sinta dari hotel FFF.
"Hem, tapi aku belum pamit dengan mas Chandra," Sahut Ratna.
"Kamu pesan chat saja di handphone nya. Aku tunggu yah, sayang!" kata Sinta penuh paksaan.
"Eh, Sinta! Tapi... Tap... Eh di matiin," ucap Ratna.
"Hem, aku nyamperin Sinta saja deh. Daripada aku di sini gabut dan stress. Itu tidak baik dengan pertumbuhan jani aku," gumam Ratna.
*****
Sementara di rumah kediaman tuan Drajat Aji Saka, pasangan kekasih yang baru jadian itu tidak henti-hentinya melakukan kegiatan mesumnya. Seolah tidak perduli siang atau malam, selagi ada waktu longgar dan kesempatan kedua nya melakukan olahraga di atas ranjang. Kerena Jho sudah mendapatkan lampu hijau oleh tuan Drajat Aji Saka, Jho semakin gencar memanfaatkan waktu bersama nya dengan Natali. Seperti sekarang ini.
Namun saat Jho sedang gila-gila nya melakukan gerakan memompa yang menimbulkan ******* dan erangan dari mulut Natali, ponsel Jho berdering keras.
"Uhh, ahh sebentar aku angkat dulu panggilan masuk ini," ucap Jho menghentikan kegiatan nya namun pusakanya masih menancap di sarangnya. Natali diam melihat wajah Jho yang saat ini menerima panggilan masuk di ponselnya. Tentu saja Jho berusaha menyembunyikan nafasnya yang belum beraturan.
"Iya, tuan muda! Siap menjalankan perintah," kata Jho.
"Di mana kamu? Keadaan sedang genting seperti ini kamu enak-enakkan, hah?" ucap tuan Drajat Aji Saka di seberang sana.
"Maaf, tuan Drajat! Ini juga demi menyenangkan adik anda, tuan Drajat!" sahut Jho tanpa malu. Natali mencubit perut Jho.
"Aww," Jho berteriak.
"Ada apa? Cepat jangan banyak beralasan, Jho! Kamu segera ke gudang penyimpanan barang! Ada masalah berat di sana," Perintah tuan Drajat Aji Saka pada Jho. Panggilan masuk itu mati. Kini menyisakan Jho yang kecewa karena kegiatan enaknya harus tertunda lantaran tugas mendadak karena gudang penyimpanan barang saat ini sedang ada penyergapan oleh pihak berwajib.
"Bagaimana, Jho?" tanya Natali dengan sorot mata yang penuh kecewa.
"Maaf, sayang! Ada tugas mendadak dan tidak bisa ditunda lagi. Setelah selesai urusannya, aku akan mendatangi kamu. Oke?" jelas Jho yang segera memunguti pakaian nya dan mengenakan kembali ke badanya.
__ADS_1
Ada raut kecewa dari wajah Natali karena dirinya akan ditinggalkan oleh Jho karena panggilan darurat dari kakak nya itu.