
Pagi hari Ratna sudah lebih dahulu bangun lalu bergegas mandi. Hari ini hari sabtu suami Ratna libur mengajar di kampus. Ratna ingin membuat masakan ala-ala resep dirinya dengan bahan yang sudah tersedia di dalam lemari es. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, namun Salma dan juga Candra belum terlihat keluar dari kamarnya. Mungkin keduanya sangat kelelahan sepanjang malam meluapkan segala rasa kerinduan yang membuncah dengan bersenggama sepanjang malam.
"Mbak Salma dan mas Candra belum keluar! Mereka pasti kelelahan dan lapar. Aku harus menyiapkan makanan sebelum mereka bangun dan keluar dari kamar," gumam Ratna sambil meracik bahan-bahan yang akan dia masak hari ini.
Ratna tidak pernah membayangkan kalau situasinya bakal seperti ini. Satu atap dengan istri pertama Candra. Walaupun itu hanya sementara saja karena mbak Salma hanya liburan dan ingin bertemu dengan suaminya di kota Malang.
Ternyata rasanya campur aduk ketika orang yang dia sayangi membagi cinta nya pada yang lain. Berbagi suami itu seperti menekan segala keinginan dan ego karena menyadari kalau suaminya bukanlah sepenuhnya milik nya seutuhnya. Apalagi kalau suaminya sangat menyolok memberikan perhatiannya pada salah satu istrinya. Tentu saja ini akan menimbulkan iri dan kecemburuan dari salah satu istrinya tersebut.
Setengah jam berlalu, Ratna sudah siap menggoreng ayam. Dan sayur asem yang menjadi favorit suaminya juga sudah matang. Kini Ratna mulai membuat sambal tomat. Ratna tersenyum lega karena hari ini dirinya bisa memasakkan suaminya, Candra.
Candra keluar bersama dengan Salma dengan penampilannya yang seperti siap untuk berpergian. Ratna melongo dibuatnya karena mbak Salma terlihat sangat cantik dengan penampilan terbarunya. Sebelum nya mbak Salma terlihat lebih tua dari usianya. Namun sekarang istri pertama Candra itu merubah penampilan nya lebih segar dan terlihat muda. Dengan mengikuti trend masa kini dengan baju yang sedikit terbuka, mbak Salma terlihat menawan dan menggoda.
"Mas Candra, mbak Salma! Ini aku sudah memasakkan kalian! Ayo kita makan bersama yuk!" ajak Ratna yang sudah menyiapkan segala hasil masakan nya di atas meja makan.
Candra dan Salma saling berpandangan. Lalu Salma tersenyum lalu dengan sengaja memeluk erat pinggir suaminya itu seolah Candra adalah suaminya. sendiri dan Ratna hanyalah sebagai wanita yang datang mengganggu ketenangan dan kebahagiaan rumah tangganya.
"Mas Candra, bagaimana ini? Adik Ratna sudah capek-capek memasak untuk kita. Apakah kita juga akan tetap pergi makan di luar? Kasihan loh, dik Ratna! Nanti kecewa kalau kita tidak makan bersama nya," ucap Salma dengan sengaja membuat Ratna cemburu dengan keromantisan nya dengan Candra saat ini.
"Tidak apa, sayang! Kamu kan jarang-jarang datang ke kota Malang. Aku akan mengajak kamu pergi makan di restoran yang masakan nya enak. Kalau masakan Ratna pasti sudah sering kamu memakannya di kampung bukan?" sahut Candra sambil melihat ke arah Ratna.
"Ratna, tidak apa-apa kan kalau mbak mu ini aku ajak bersenang-senang dulu di luar, makan di restoran. Kamu kan sudah sering aku ajak jalan-jalan di kota Malang ini," ucap Candra.
"Eh, iya iya mas! Benar kata mas Candra kok mbak Salma! Silahkan kalau mau pergi! Lagipula aku hanya masak sayur asem, ayam goreng dan sambel saja kok," kata Ratna yang menyembunyikan rasa kecewa nya.
"Tuh kan! Ratna saja menyuruh kita pergi jalan dan makan di luar. Ayo sayang!" kata Candra.
"Eh iya! Kalau begitu kami pamit pergi dulu yah, dik! Nanti aku bawakan makanan dari restoran deh," kata Salma sengaja membuat Ratna semakin geram dalam hati.
"Iya, mbak Salma! Hati-hati di jalan dan selamat bersenang-senang!" Sahut Ratna.
__ADS_1
"Ratna, kami pergi dulu yah! Jaga di rumah baik-baik!" Sambung Candra. Salma tersenyum menatap Ratna yang menatap keduanya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Salma menggandeng suaminya dengan sengaja menunjukkan keintiman mereka. Ratna rasanya sesak melihat pemandangan itu. Namun saat ini dirinya telah mengandung anak dari Candra. Semuanya sudah tidak bisa dia ubah keputusan nya untuk menjadi istri kedua Candra.
"Jika dari awal aku mengetahui kalau kamu sudah memiliki istri, aku tidak akan mengejar kamu mas Candra. Sejak dari dulu ketika aku menjadi mahasiswa kamu, aku begitu mengidolakan kamu, mas! Tetapi ternyata aku selama ini telah kamu bohongi. Ternyata kamu sudah memiliki keluarga di kampung," gumam Ratna seraya mengusap dada nya yang sesak.
"Aku harus bahagia. Aku harus bisa membahagiakan diriku sendiri! Aku harus fokus dengan anakku sekarang ini. Setelah ini aku tidak mau bergantung dengan mas Candra lagi. Aku harus kembali bekerja untuk membahagiakan diriku dan anakku kelak," pikir Ratna.
"Lebih baik aku menikmati makanan hasil masakan ku. Setelah itu, aku akan kembali ke apartemen ku saja. Biar saja mas Candra mendatangi aku kalau dia menginginkan aku," gumam Ratna.
*****
Sabtu pagi Reno berniat mendatangi kekasihnya Husna. Setelah pembicaraan panjang lebar dengan Mukid dan juga bertemu lagi dengan Galuh, Reno akhirnya memutuskan kalau dirinya akan memilih Galuh dan akan putus dengan Husna.
"Pokok nya aku tidak mau putus dengan kamu, Reno!" ucap Husna sambil menangis.
"Tetapi kenapa, Reno! Kamu tiba-tiba ingin memutuskan hubungan kita? Katakan apa alasan nya?" tanya Husna.
"Aku tidak bisa mengatakan alasan itu, Husna. Pokoknya kamu harus menerima keputusan ini kalau kita putus. Oke?" ucap Reno yang memaksakan kehendaknya.
"Kenapa Reno! Beri aku alasannya dong! Kalau tidak? Aku tetap tidak menerima putus dengan kamu! Pokoknya kita tetap berpacaran sampai nanti kita menikah," kata Husna.
"Akhhhh sudahlah! Aku harus pergi!" ucap Reno sambil menarik rambutnya sendiri dan pergi begitu saja meninggalkan Husna di apartemen nya. Husna berteriak memanggil Reno, tapi Reno tidak perduli dengan teriakan Husna yang memanggilnya dan meneriakkan nama nya.
"Reno! Renooo! Kamu jahat! Kamu jahat memutuskan hubungan kita tanpa alasan yang jelas! Apa salah aku?" Teriak Husna di depan pintu apartemen nya. Dia malu. Husna malu diputuskan cinta nya oleh Reno setelah meneguk madu nya.
*****
Sebelum Mukid pamit pergi menjumpai klien nya di hari sabtu, Sinta punya ide gila untuk menahan Mukid.
__ADS_1
"Hari sabtu kok tetap kerja dan mau-maunya mendatangi klien dan membuat janji. Kapan waktu buat aku?" pikir Sinta. Sinta akhirnya tersenyum menyeringai.
Sinta berjalan ke almari penyimpanan. Dia mengambil sesuatu dari laci itu. Dua dasi telah diambil oleh Sinta. Dengan tersenyum nakal mendekati Mukid yang sudah berbaring di atas ranjang. Mukid menatap tajam ke arah Sinta.
"Sayang, jangan bermain-main sayang! Apa yang akan kamu lakukan? Aku harus berangkat menjumpai klien sayang," ucap Mukid. Matanya tajam ke arah Sinta. Sinta tersenyum nakal. Bahkan lidahnya sengaja menggigit bibir bawahnya sendiri. Sinta sengaja menggoda suaminya itu.
"Diam lah, mas Mukid! Aku akan memberikan kamu service yang akan membuat kamu tidak mau berhenti untuk menikmati semua fantasi liar yang akan aku mainkan. Oke?" Ucap Sinta yang kini mulai naik ke atas tubuh Mukid dan mengikat kedua tangan Mukid di besi sandaran tempat tidur kamar mereka. Kini kedua tangan Mukid telah terikat dengan dasi itu.
"Sayang, jangan lakukan ini! Ini akan sangat menyiksa aku sayang!" ucap Mukid.
"Mas Muki! Kecilkan suara kamu! Apakah kamu ingin anakku tiba-tiba datang ke kamar kita dan menggedor pintu kamar ini?" kata Sinta Namun Mukid sudah tidak perduli. Sensasi nikmat yang ia rasakan membuat Mukid menjadi gila.
Sinta kini menguasai suaminya dan benar-benar menunaikan tugasnya sebagai istri yang menyenangkan suami. Sinta tidak ingin kalau suaminya akan berpaling darinya seperti Candra yang memiliki istri lebih dari satu. Hingga beberapa menit berlaku akhirnya kedua nya menuntaskan ritual suami istri itu hingga peluh keringat keluar dari dahi keduanya.
"Heem! Aku harap setelah nanti aku menjadi gendut dan tidak seksi lagi karena kehamilan ku yang semakin besar, kamu jangan tergoda dengan cewek seksi dan juga cantik loh, mas! Pokoknya aku tidak mau nasibku seperti Ratna yang harus berbagi suaminya dengan istri pertamanya," ucap Sinta sambil bersikap manja.
"Itu tidak akan terjadi sayang! Aku mencintai tidak sekedar fisik kamu," Sahut Mukid.
"Benarkah! Awas saja kalau aku tahu kamu bermain dengan wanita-wanita di luar sana!" ancam Sinta. Mukid yang mendengar nya jadi terkekeh dengan emosi ibu hamil satu ini.
"Oke, sekarang ijinkan suami kamu ini mandi dan berangkat memenuhi janji dengan klien yah sayaang," kata Mukid.
"Aku ikut!" ucap Sinta. Mukid mendelik matanya.
"Ikut? Nanti kamu capek loh sayang," Kata Mukid.
"Tidak! Pokoknya aku ikut kamu," rengek Sinta.
"Ya sudah, ayo kalau begitu kita sama-sama mandi nya," Sahut Mukid seraya membantu Sinta bangun dari tempat tidur itu.
__ADS_1