
Minuman itu sudah terminum oleh tuan Drajat. Namun entah kenapa belum juga ada tanda-tanda reaksi obatnya. Galuh semakin panik jika malam ini dirinya benar-benar harus melepaskan keperawanannya pada laki-laki yang tidak ia cintai nya. Bahkan saat ini tuan Drajat Aji Saka sudah meraih tubuh Galuh dalam pelukan nya. Pinggang bagus bak biola itu sudah dalam sentuhan tangan tuan Drajat Aji Saka. Bahkan tangan milik tuan Drajat sudah mulai merayap bergerilya menyentuh lekukan tubuh Galuh.
"Kita mulai sekarang, sayang? Aku sudah mulai panas. Lakukan apa yang kamu bisa untuk menyenangkan aku," bisik tuan Drajat didekat telinga Galuh.
"Ayo kita masuk ke dalam kamar!" ajak tuan Drajat sambil menarik tangan Galuh ke dalam kamar.
Satu persatu pakaian yang masih melekat dibadan tuan Drajat, ia lepas sendiri hingga polos tanpa ada rasa malu. Betapa mulut Galuh hendak menjerit tapi ditahannya
"Kenapa? Ayo lakukan tugas kamu? Apakah kamu sangat mengagumi aku, hem?" ucap tuan Drajat dengan mata yang sudah sayu.
"I.. I.. Iya eh maksudnya baik tuan! Saya akan memenuhi tugas saya," ucap Galuh.
"Ya sudah, tunggu apa lagi? Lepas semua pakaian kamu! Aku ingin melihat nya," perintah tuan Drajat yang sudah berbaring terlentang.
__ADS_1
Dengan perasaan gugup, Galuh segera melepaskan pakaian nya satu demi satu hingga yang terakhir bra dan juga segitiga pengaman nya. Yang awalnya mata tuan Drajat meredup dan satu tiba-tiba saja melotot berbinar melihat tubuh Galuh yang sudah polos tanpa busana.
Dengan tersenyum seringai tangan tuan Drajat Aji Saka mengulurkan tangannya hendak menggapai tubuh indah Galuh. Namun belum sempat tuan Drajat Aji Saka bisa menyentuhnya, badannya ambruk dan dalam hitungan detik tidak bergerak. Hanya suara dengkuran yang semakin lama semakin terdengar keras.
"Ya Tuhan! Syukur lah! Untuk sementara aku selamat dari tuan Drajat Aji Saka. Sekarang aku harus memakai pakaian ku dulu," ucap Galuh.
Dengan cepat Galuh segera mengenakan kembali pakaian nya dan merapikan penampilan nya. Namun tiba-tiba saja, Galuh dikejutkan dengan suara pintu kamar dibuka dengan paksa.
"Hah??" Galuh terkejut bukan main.
"Tenang, Galuh! Nanti kamu bisa menjelaskan semuanya padaku, oke?" ucap Mukid sambil mengusap punggung Galuh karena saat ini Galuh terisak karena menangis.
"Syukur lah pak Mukid dan Reno datang. Itu koper berisi uang. Silahkan pak Reno bawa saja," kata Galuh.
__ADS_1
Reno memperhatikan tuan Drajat yang saat ini sudah dalam posisi terlelap dalam tidur nya dengan tengkurap. Badannya masih polos tanpa busana. Kini ada kejahilan muncul dalam otak Reno. Lalu kemudian tersenyum terkekeh.
"Kenapa Reno? " tanya Mukid.
"Sebaiknya saya mendatangkan tiga gigolo untuk menemani tuan Drajat di kamar ini. Supaya besok pagi ketika beliau terbangun akan dimanjakan oleh ketiga gigolo.
" Hahaha gila kamu!" sahut Mukid sambil melepaskan pelukan Galuh.
"Jadi, dimana istriku? Di mana Sinta saat ini?" tanya Mukid.
"Aku rasa non Sinta tidak kemari, pak! Bukankah itu lebih baik, jadi non Sinta dalam keadaan baik-baik saja pak," Jawab Reno.
"Ayo kita tinggalkan tempat ini sebelum orang-orang tuan Drajat Aji Saka mengetahui keberadaan kita disini. Terutama asisten pribadinya, si Jho," perintah Mukid.
__ADS_1
*****