
Ratna duduk di ruang tamu. Ruangan itu lebih dekat dengan kamar utama. Sekarang kamar itu ada Salma bersama dengan Candra. Jam di dinding menunjukkan pukul setengah sembilan. Ratna tetap duduk di ruangan tamu sambil membaca novel di aplikasi y sudah Ratna download. Karena sudah baper dan terbawa cerita dalam novel yang Ratna baca, Ratna sesekali meneteskan air mata, sesekali tersenyum, sesekali menahan nafasnya saat membaca adegan hot. Ini seperti berhalusinasi dalam dunia maya yang menguras emosi. Apalagi ketika harus membaca cerita perselingkuhan atau cerita poligami yang membuat Ratna geregetan dan rasanya mau marah. Padahal dirinya juga menyalami. Bahkan Ratna termasuk masuk daftar wanita yang mencuri perhatian suami orang. Walaupun Ratna dalam posisi nya juga telah dibohongi oleh Candra yang mengaku nya sebagai seorang lajang dan belum pernah menikah. Ternyata sudah memiliki istri dan dua orang anak.
Namun saat Ratna sedang asyik dan fokus membaca adegan hot, dirinya harus mendengar suara samar-samar yang membuatnya menjadi bertreveling membayangkan apa yang sudah Candra lakukan terhadap istri pertamanya itu.
"Ya ampun! Apa yang sudah mereka lakukan?" gumam Ratna.
Ratna akhirnya memilih meninggalkan ruangan tamu itu dan beralih di kamar belakang di dekat dapur. Ratna lebih memilih mendengarkan musik daripada kembali mendengar suara yang membuatnya berpikiran jauh kemana-mana. Sedangkan malam ini Candra menginginkan istri pertamanya untuk menemani nya tidur.
Handphone Ratna berbunyi, ada panggilan masuk di sana. Sinta lah yang menelpon nya.
"Hai, sayang! Bagaimana kabar kamu? Adik bayi di dalam perut tidak nakal kan?" tanya Sinta di seberang sana.
"Halo Sinta sayang! Untung saja kamu menelpon aku. Aku lagi gabut nih. Adik bayi di perut gak nakal kok. Bagaimana dengan kamu, Sinta? Apakah masalah kalian sudah beres?" ucap Ratna dengan memberondong banyak pertanyaan juga.
"Alhamdulillah, aman deh! Kamu kenapa gabut, say? Kenapa tidak main ke rumah aku saja sih kalau kamu bosan?" kata Sinta.
"Maunya seperti itu! Tapi sekarang sudah hampir jam sembilan malam. Lagipula aku tidak mungkin pergi kalau belum pamitan dengan suamiku," jelas Ratna.
"Iya, benar! Kamu harus selalu minta ijin suami kamu kalau kamu keluar rumah. Lalu kenapa kamu bosan, say?" tanya Sinta kepo.
"Heem nih, mbak Salma lagi di liburan di kota Malang. Tadi pagi baru tiba. Dan kamu tahu, Sinta? Sekarang mereka lagi dikamar," ucap Ratna.
"Hahaha hahaha, jadi itu masalahnya? Kamu merasa dicuekin yah?" sahut Sinta.
"Kamu tahu, Sinta? Tadi saat aku masih duduk di ruang tamu dan itu dekat pintu kamar utama kami, aku mendengar suara mereka yang heboh. Jadi aku merasa nelangsa sekali menjadi wanita," cerita Ratna.
"Hahaha, itulah sayang! Itulah resikonya menjadi istri ke dua dan juga berbagi suami. Enak kan?" ucap Sinta.
__ADS_1
"Amit-amit lah, Sinta! Kamu jangan sampai mengalami ini yah, sayang! Kamu harus tetap menjadi ratu satu-satunya di istana kamu. Jangan sampai Mukid direbut wanita lain dan bahkan tergoda dengan wanita lain yang lebih cantik dan gemoy," kata Ratna.
"Heem, amit-amit Ratna! Semoga mas Mukid kuat dengan semua godaan. Tapi bagaimana kalau badanku menjadi gemuk dan tidak seksi lagi gara-gara sedang hamil seperti ini? Entar mas Mukid menjadi tidak suka dengan aku?" kata Sinta.
"Sinta, sayang! Pokoknya mulai sekarang kamu harus selalu waspada dengan segala kemungkinan. Apalagi mas Mukid, suami kamu itu sudah tampan, mapan, dan penuh kasih sayang serta kharismatik. Pokoknya jangan beri kesempatan wanita-wanita mendekati suami kamu," kata Ratna.
"Iya, Ratna! Oh, iya sebentar yah suamiku datang. Besok kita sambung lagi yah," sahut Sinta yang memutuskan panggilan masuk dari Ratna.
"Sudah jam sembilan lebih. Mas Candra tidak juga keluar dari kamarnya. Pasti kelelahan mereka," gumam Ratna sambil cemberut bibirnya.
*****
Di rumah kediaman Mukid. Mukid sedang ngobrol dengan Reno. Malam ini, Reno memang dirumah Mukid lantaran berbincang-bincang santai tapi serius tentang masalah yang berhubungan dengan perusahaan nya yang melibatkan orang-orang nya. Namun begitu, pembicaraan keduanya akhirnya melebar kemana-mana ke hal yang lebih pribadi.
"Reno, aku tidak ingin kamu melakukan kencan saat jam kerja. Apalagi kalian berkencan di ruang kerja. Bagaimana kalau Galuh sudah bekerja dan melihat kamu berkencan dengan wanita lain? Aku tidak mau semua kejadian pribadi itu akan mempengaruhi konsentrasi kalian saat bekerja. Aku tidak melarang kalian untuk berpacaran atau meluapkan rasa kasih sayang. Tapi jangan sampai karyawan yang lain melihat hal ini. Mereka akan menilai kamu sebagai laki-laki Casanova yang memiliki banyak wanita-wanita. Juga hal ini akan menjatuhkan kewibawaan kamu sebagai asisten pribadi ku yang juga merangkap sebagai bendahara utama di perusahaan ini," kata Mukid panjang lebar.
"Seharusnya kamu memilih diantara mereka berdua, Reno. Pilih Galuh atau Husna. Jangan lah serakah menjadi laki-laki," tambah Mukid.
"Bagaimana saya harus memilih salah satu diantara mereka? Saya menyukai keduanya, tuan muda! Lagipula, kedua nya juga menyukai aku," sahut Reno membela diri.
"Apakah Husna mengetahui kalau kamu juga berhubungan dengan Galuh? Tidak kan?" sahut Mukid. Reno kembali menggaruk jidatnya sendiri.
"Itu, itu jangan sampai Husna mengetahuinya kalau saya juga menjalin hubungan dengan Galuh. Saya untuk saat ini masih menikmati hubungan segitu ini, tuan. Mereka berdua membuat saya kecanduan dan tidak mau meninggalkan mereka," jelas Reno.
"Aku bukan menyuruh meninggalkan mereka. Tetapi kamu harus bijaksana dalam menentukan pilihan diantara keduanya nya. Apakah kamu menunjukkan sampai Husna mengetahui ini sendiri?" kata Mukid.
"Tolong lah, tuan! Saya tidak bisa memilih diantara keduanya," Sahut Reno.
__ADS_1
"Dasar kamu, Reno!" sahut Mukid.
*****
Di kediaman tuan Drajat Aji Saka.
"Kamu yakin mau menikah dengan Jho?" tanya tuan Drajat Aji Saka kepada Natali. Natali mengangguk pelan. Kini pandangan mata tuan Drajat Aji Saka beralih ke Jho.
"Kamu serius mau menikahi Natali, adikku? Kamu tidak takut jika kamu menyakiti adikku, kamu langsung berhadapan dengan aku?" kata Drajat.
"Ampun tuan Drajat! Saya serius tuan! Saya sudah cocok dengan nona Natali. Bahkan nona Natali lah yang mendesak Saya untuk menikahinya," jelas Jho.
"Hem, jadi semua ini karena paksaan Natali?" tuduh Drajat.
"Eh, maksudnya Saya dan Natali sudah saling cocok untuk menikah dan serius membangun rumah tangga, tuan!" ralat Jho.
"Memangnya kamu bisa membahagiakan adikku, hah?" tanya Drajat.
"Saya bisa tuan! Walaupun dalam urusan materi dan harta, saya tidak sekaya tuan Drajat Aji Saka. Namun saya bisa memastikan, kalau saya laki-laki tulen yang bisa memberikan kebahagiaan, kenyamanan pada nona Natali," ucap Jho. Natali tiba-tiba bersemu merah wajahnya.
"Dalam pikiran kamu hanya itu saja, Jho! Boleh kamu menikah dengan Natali. Tetapi kamu tidak boleh menyakiti Natali. Aku tidak ingin melihat kamu berkhianat dengan Natali. Kamu harus menjadikan Natali satu-satu nya wanita dalam hidup kamu. Kamu sanggup?" ucap tuan Drajat Aji Saka.
"Sanggup, tuan muda Drajat!" sahut Jho.
"Bagus! Jika suatu hari nanti kamu tidak bisa memegang janji dan menyakiti Natali. Akulah yang akan melenyapkan kamu sendiri," ancam tuan Drajat Aji Saka.
"Saya tidak berani tuan Drajat Aji Saka! Saya sudah bertaubat!" sahut Jho dengan penuh keseriusan.
__ADS_1