TEROBSESI ISTRI ORANG

TEROBSESI ISTRI ORANG
BAB 7


__ADS_3

Sinta tiba-tiba masuk ke ruangan Mukid. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, langsung berdiri di depan Mukid. Mukid tentu saja melebar bola matanya menatap istrinya yang sudah berada di depan nya. Mukid mengucek matanya untuk memastikan bahwa semua yang sudah dilihat nya adalah benar-benar nyata dan bukan hanya pikiran nya saja.


"Mas, ini aku loh! Kamu ini seperti tidak percaya jika aku tiba-tiba datang ke kantor kamu," kata Sinta sambil tersenyum lebar. Tupperware yang ada di tangannya kini diletakkan nya di atas meja.


"Apa ini? Untuk aku kah, sayang?" ucap Mukid.


"Ya iya dong! Aku sengaja datang ke kantor untuk mengantarkan makan siang buat suami tersayang, terganteng, terimut, terlucu, termanis seperti marmut," kata Sinta. Mukid terkekeh renyah.


"Seharusnya kamu istirahat saja di rumah dan tidak perlu repot-repot membuat makanan dan membawanya kemari, sayang!" ucap Mukid.


"Tapi kamu suka kan, jika aku tiba-tiba datang kasih kejutan sama kamu dan membawakan makan siang buat kamu, mas," Sahut Sinta.


"Suka! Suka pakai banget! Sekarang duduk sana dulu. Biar aku menyelesaikan pekerjaan ku dulu. Dikit lagi kok, oke?" perintah Mukid.


"Oke? Aku akan duduk manis di kursi itu dan tidak mengganggu kamu, deh," Sahut Sinta sambil melangkah ke sudut kursi sofa ruang kerja Mukid. Sedangkan Mukid masih fokus menyelesaikan pekerjaan nya.


Sinta memperhatikan suami nya yang sedang fokus dengan kerjaa nya. Sinta tersenyum jahil. Sebenarnya dirinya ingin mengganggu suami nya itu saat sedang fokus bekerja. Apakah masih sanggup bekerja dan fokus dengan kerjaan nya jika dirinya mengganggu nya. Namun Sinta mengurungkan niat jahilnya.


"Mas Mukid kalau sedang serius seperti itu terlihat tampan sekali. Sangat berkharismatik banget," Pikir Sinta sambil tetap memperhatikan wajah Mukid yang penuh pesona.


Tidak lama suara ketukan pintu ruangan kerja Mukid di ketuk. Muncul seorang wanita cantik dengan pakaian kantor yang sangat elegan membawa berkas dan kini berdiri di depan meja kerja Mukid. Sinta menatap kagum pada sosok wanita karir itu yang terlihat mempesona.


"Selamat pagi, pak!" Ucap wanita cantik itu. Dari penampilan nya seperti nya dia salah satu sekretaris di perusahaan Mukid.


"Pagi, Galuh! Ada apa?" sahut Mukid. Mukid sejenak meninggalkan pekerjaannya dan memperhatikan sekretaris nya yang tiba di ruangannya.


"Ini berkas-berkas yang harus ditandatangani oleh pak Mukid. Dan ini beberapa proposal yang masuk dari perusahaan di dalam negeri," Terang Galuh sambil meletakkan beberapa timpukan berkas yang ia bawa.


"Oke, letakkan saja di meja. Nanti aku tandatangani dan juga aku pelajaran proposal yang masuk," ucap Galuh.

__ADS_1


"Baik pak!" Sahut Galuh. Mukid kembali fokus dengan kerjaannya yang belum kelar.


Sedangkan Galuh masih berdiri dan menatap Mukid di depan meja kerjanya. Tentu saja Sinta memperhatikan gerak-gerik sekretaris itu yang bernama Galuh. Cukup halus untuk menggoda seorang CEO dan tidak terlihat mencolok. Cukup pandai memerankan tokoh seorang wanita pelakor. Sinta memperhatikan dan ingin tahu apa yang hendak dilakukan Galuh, sang sekretaris itu.


"Oh, iya Pak Mukid! Apakah saya boleh keluar dari ruangan pak Mukid?" Tanya Galuh. Mukid melebar matanya dan menatap sekretaris nya.


"Silahkan! Memangnya ada apa lagi? Kamu mau menunggu apa? Silakan kembali bekerja,Galuh!" ucap Mukid spontan. Sinta yang mendengar ucapan Mukid jadi melotot matanya.


"Hem, sebenarnya saya ingin berbicara serius dengan Pak Mukid. Apakah pak Mukid ada waktu untuk saya?" kata Galuh.


"Bicara serius? Silahkan saja! Aku akan mendengarkan nya," Jawab Mukid.


"Tapi jangan di ruangan ini!" Sahut Galuh. kembali Sinta menyipitkan matanya menatap percakapan antara pimpinan perusahaan dengan sekretaris nya.


"Lalu?" Tanya Mukid. Kini Mukid melihat ke arah Sinta yang sejak tadi memperhatikan dirinya.


"Bagaimana kalau weekend nanti dan sekalian kita makan malam, Pak! Saya akan bicara panjang lebar dengan pak Mukid," Kata Galuh. Kembali Mukid melihat ke arah Sinta.


Galuh terdiam lalu kini menengok ke belakang ke arah Sinta yang sejak tadi dicuekin oleh Galuh sang sekretaris di perusahaan itu.


"Lupakan saja, pak! Maaf Pak, saya permisi!" ucap Galuh dengan menunduk. Kini Galuh melangkah cepat keluar dari ruangan Mukid. Mukid hanya mengangkat kedua bahunya sambil melihat ke arah Sinta yang melotot tajam. Mukid dengan cuek kembali bekerja dan menyelesaikan pekerjaan nya. Kini Sinta mendekati Mukid dan hendak menggodanya.


"Hem, cantik yah sekretaris di perusahaan ini? Oh, nama nya Galuh yah? Pantas saja! Dia cantik, penampilan oke dan terlihat sangat pintar, hem," Sindir Sinta. Mukid masih tenang dan cuek saja. Tentu saja membuat Sinta geram dan tidak dihiraukan oleh Mukid.


Beberapa kali Sinta mondar-mandir mencari perhatian oleh suaminya. Namun Mukid masih terlihat fokus dengan kerjaan nya. Sepuluh menit, lima belas menit, dua puluh menit, tiga puluh menit lewat sudah. Dan Sinta masih juga dicuekin oleh Mukid. Akhirnya Sinta mendapatkan ide nakal dan jahilnya.


Sinta kini menunduk dan berada di bawah meja kerja Mukid. Di sana Sinta mulai mencari resleting celana Mukid dan menurunkan resleting Mukid.


"Ahhh, Sinta!" tentu saja Mukid terkejut ketika mendapati Sinta berada di bawah meja kerja nya dan menghancurkan fokus Mukid. Tentu saja konsentrasi Mukid menjadi buyar dan akhirnya kepalanya bersandar di kursi kerjanya dan mendongak ke atas.

__ADS_1


Di saat penat dan lelah pikirannya, Mukid di servis sedemikian nikmat oleh istrinya. Apakah tidak membuat Mukid semakin sayang? Sinta masih tetap menikmati kegiatan nakalnya dan Masih di bawah meja kerja Mukid,


Tok.


Tok.


Tok.


Suara ketukan pintu kembali terdengar. Kini Reno, sang asisten pribadi dan juga merangkap sebagai  salah satu bendahara perusahaan masuk ke ruangan Mukid. Sinta masih di bawah meja kerja Mukid.


"A.. A ada apa Reno?" tanya Mukid sedikit gugup. Beruntung dirinya segera menaikkan celana panjangnya dan merapikan nya. Namun Sinta masih berada di bawah meja kerja nya.


"Tuan Drajat Ajisaka, baru saja menghubungi saya. Beliau mengajak tuan Mukid makan malam bersama besok malam. Sekaligus membicarakan kerja sama diantara perusahaan kita dengan perusahaan beliau," terang Reno.


"Ba.. Ba.. Baiklah!" sahut Mukid. Reno mengerutkan dahinya menatap heran bos nya.


"Tuan Mukid! Apakah anda sakit? Atau ada masalah? Wajah anda seperti nya memerah," ucap Reno.


"Tidak! Tidak Reno! Kamu bisa keluar dari ruangan ku," Sahut Mukid masih panik.


"Baiklah, tuan Mukid! Oh iya, tuan Drajat Ajisaka menghendaki anda juga mengajak istri anda untuk makan malam bersama besok malam," kata Reno lagi.


"Oke, baiklah!" ucap Mukid. Sinta di bawah meja hanya bisa menahan tawanya melihat tingkah suaminya yang terlihat sangat panik lantaran ulah jahilnya.


Reno keluar dari ruangan kerja Mukid kini Mukid menuju pintu masuk ruang kerjanya untuk menguncinya. Kini dengan tatapan tajam melihat Sinta yang sudah keluar dari bawah meja.


"Awas yah, sayang! Kini giliran aku yang membuat kamu tidak berkutik," Ancam Mukid lalu dengan serta merta menggendong Sinta menuju ke ruangan tempat istirahat nya.


"Hahaha, Mas jangan mas! Ampun! Aku mau menjemput Bana! Ampun sayang! Nanti saja di rumah!"  ucap Sinta berusaha menolak namun Mukid sudah tidak mengindahkan penawaran Sinta. Mukid sudah menghujani ciuman yang bertubi-tubi pada Sinta. Sinta mau tidak mau akhirnya pasrah dan menikmati pergumulan indah itu.

__ADS_1


Ruangan yang masih menghubungkan ruang kerja Mukid itu biasanya digunakan untuk beristirahat sebentar jika rasa letih dan penat. Kini di ruangan yang be ac itu, Mukid mulai bekerja keras menciptakan suara indah dari bibir mungil Sinta. Mukid tidak melewatkan setiap jengkal lekukan tubuh Sinta.Bukan hanya keegoisan nya saja tanpa memperdulikan pasangan nya mencapai kepuasan atau tidak. Ini masalah saling pengertian dan memberi menerima satu dengan yang lain.


__ADS_2