TEROBSESI ISTRI ORANG

TEROBSESI ISTRI ORANG
BAB 42


__ADS_3

"Ini susu buat istriku tersayang. Dan ini untuk kamu, Ratna. Semoga saat waktu nya tiba nanti, kalian diberikan kemudahan dan kelancaran dalam melahirkan bayi dalam rahim kalian. Kalian benar-benar sangat hebat. Terutama istriku yang tercinta," kata Mukid sambil memberikan satu persatu gelas yang berisi susu coklat untuk ibu hamil. Ratna dan Sinta menerima nya dengan tersenyum lebar. 


"Terimakasih, suamiku yang baik, tampan dan penuh pengertian. Semoga berbagai godaan yang datang baik gadis muda yang  cantik maupun seorang janda genit pun, suamiku tetap tidak tergoda dan setia dengan aku," sahut Sinta. Dia masih saja kepikiran dengan cerita drakor ditambah pengalaman pahit yang saat ini dialami oleh sahabatnya, Ratna. Mukid mengernyitkan dahinya menatap aneh Sinta. Ratna tersenyum saja walaupun hatinya saat ini benar-benar sedih. 


"Ratna, kamu yang sabar yah! Kamu fokus saja untuk kebahagiaan kamu sendiri dan anak-anak kamu kelak. Kalau kamu butuh sesuatu bilang saja pada kami. Benarkan, sayang?" kata Mukid sambil merangkul pundak istrinya. 


"Yup, benar sekali! Pokoknya kamu tidak boleh bersedih. Cuek saja! Jangan stress Supaya bayi di dalam perut kamu tidak ikut sedih," kata Sinta. Mukid menyipitkan bola matanya melirik ke arah Sinta. 


"Aku ingin kerja, Sinta, Mukid! Aku ingin menjadi wanita mandiri. Jadi jika terjadi apa-apa aku sudah siap. Selain itu supaya aku sibuk saja dan tidak mikir yang tidak-tidak," Kata Ratna. 


"Boleh kok kalau kamu mau bekerja. Tapi setelah nanti kamu melahirkan anak kamu, Ratna!" sahut Mukid. 


"Benar, Ratna! Paling tidak usia bayi kamu nanti tiga bulan setelah lahir. Perusahaan suamiku banyak kok. Kamu dan aku nanti bisa kerja di kantor yang sama," Sahut Sinta. 


"Eh, siapa yang menyuruh kamu kerja sayang? Aku tidak akan kasih ijin kamu untuk bekerja. Kamu cukup menunggu kepulangan ku dari bekerja dan mengurus anak-anak kita sayang," Protes Mukid. Sinta seketika cemberut. Ratna menjadi terkekeh. 

__ADS_1


"Pokoknya aku mau bekerja, mas! Aku juga ingin menjadi wanita mandiri yang bisa menghadiri duit sendiri," protes Sinta. 


"Tidak usah, sayang! Kamu tidak usah bekerja lagi. Aku bisa kasih duit berapa pun yang kamu minta. Oke?" kata Mukid. 


"Tapi aku tidak ingin kamu di kantor ditunggu wanita-wanita seksi dan cantik seperti, hem seperti wanita tadi. Siapa namanya tadi?" ucap Sinta. 


"Nona Melinda?" jawab Mukid. 


"Nah benar! Nona Melinda. Tuh kan baru sebentar saja kamu sudah hapal namanya. Itu artinya kamu sudah sangat terkesan dan terpesona dengan Melinda itu. Hayo ngaku, mas?" ucap Sinta. Ratna yang duduk di sebelah Sinta terpingkal-pingkal dengan drama yang ditunjukkan Sinta. Mukid jadi bingung sendiri dengan sikap Sinta yang semakin hari semakin cemburuan. 


"Tidak sayang! Itu karena beberapa jam kami mengobrol di lobi hotel. Jadi tidak mungkin aku lupa kalau tadi aku bicara dan ketemu dengan siapa saja klien-klien ku," jelas Mukid yang bingung sendiri untuk membuat tenang dan mengembalikan mood istrinya kembali membaik. 


"Hehehe begitu yah!" sahut Sinta cengengesan. Ratna terkekeh saja melihat tingkah Sinta yang seperti anak kecil. 


"Seandainya saja Candra seperti Mukid, aku akan lebih bahagia lagi. Seharusnya Candra memanjakan aku dan lebih perhatian kepada ku. Apalagi saat ini aku sedang mengandung anaknya. Tapi sekarang? Semuanya malah sebaliknya," Batin Ratna kembali sedih jika mengingat nasibnya menjadi istri yang kedua. 

__ADS_1


"Ratna, hayo jangan sedih dong! Ayo lebih baik kita bobok saja di dalam kamar! Kamu tidak usah pulang ke rumah. Sampai Candra mencari kamu," Kata Sinta. Mukid mengerucut bibir nya. 


"Eh? Ratna tidak pulang? Eh maksudnya tidur di sini?" Sahut Mukid. 


"Kenapa? Ratna kan lagi bersedih, mas! Biarkan saja suaminya kebingungan mencarinya saat ini," ucap Sinta. 


"Eh?? Jadi Ratna kesini belum ijin dengan suaminya?" sahut Mukid. Ratna mengangguk pelan. 


"Sampai sekarang ini mas Candra juga tidak menghubungi aku, kok! Itu artinya aku benar-benar tidak penting bagi mas Candra saat ini," ucap Ratna dengan raut wajah yang sedih. Sinta langsung memeluk sahabatnya itu. 


Kembali Ratna menangis tersedu-sedu. Sinta mengajak masuk ke dalam kamar hotel itu. Sementara Mukid masih terbentang melihat istrinya bersama sahabatnya masuk ke dalam kamar hotel itu. 


"Waduh, alamat aku malam ini nganggur dong! Aku tidur di sini sendirian?" Gumam Mukid sambil mengusap wajahnya sendiri. 


"Hem, kasihan juga nasib Ratna. Aku tidak menyangka jika Candra tidak bisa berlaku adil pada Ratna. Apalagi saat ini Ratna sedang mengandung. Apa Candra tidak ingin tahu keberadaan Ratna saat ini?" pikir Mukid. 

__ADS_1


"Mungkin Candra lagi menikmati kebersamaan nya dengan istri pertama nya," pikir Mukid. 


__ADS_2