TEROBSESI ISTRI ORANG

TEROBSESI ISTRI ORANG
BAB 9


__ADS_3

"Apa? Tentu saja aku sangat cemburu melihat kedekatan istriku dengan tuan Drajat Ajisaka. Ini tidak bisa dibiarkan!" Ucap Mukid sambil berdiri lalu berjalan mendekati Sinta yang masih duduk bersama dengan tuan Drajat Ajisaka.


Nyonya Cinta menarik nafasnya dengan kasar. Tentu saja dirinya sangat kecewa dengan sikap Mukid yang masih memperhatikan istrinya.


"Apakah aku kurang cantik? Apakah aku kurang seksi, hah? Bahkan dada milik istrinya lebih besar dari aku. Aku yakin aku lebih pandai dalam bermain di ranjang," pikir Cintya dengan rasa sebal melihat dua laki-laki dewasa itu seperti berusaha merebut hati Sinta.


Mukid segera menarik tangan Sinta dan menjauhkan Sinta dari tuan Drajat Ajisaka. Mukid yang datang tiba-tiba dengan api kecemburuan yang meluap-luap itu tentu saja membuat tuan Drajat Ajisaka sangat terkejut bukan main. Apalagi dengan kasar Mukid menarik tangan Sinta yang sedang duduk sambil mendengar cerita dan curhatan dari tuan Drajat Ajisaka. Bola mata Sinta membulat dengan sempurna saat suaminya itu menarik tangannya hingga kini Sinta berdiri dari tempat duduknya.


"Mas! Aduh sakit! Ada apa mas?" ucap Sinta yang tidak paham akan alasan Mukid bersikap kasar dengan dirinya. Sedangkan tuan Drajat Ajisaka melongo menatap heran dengan sikap Mukid. Lalu pada akhirnya tuan Drajat Ajisaka tersenyum sinis lantaran menyadari bahwa Mukid sudah cemburu.


"Tuan Mukid! Tunggu dulu! Kami hanya mengobrol saja kok," jelas tuan Drajat Ajisaka kepada Mukid. Mukid yang mendengar penjelasan tuan Drajat Ajisaka hanya mendengus kesal.


"Ayo kita pulang!" Ucap Mukid seraya tidak mempedulikan antara nyonya Cintya dan juga tuan Drajat Ajisaka menatap pasangan antara Mukid dengan Sinta dengan senyuman sinis.


Cintya kini mendekati tempat duduk suaminya, tuan Drajat Ajisaka setelah kedua punggung Mukid dan Sinta tidak terlihat lagi dari pandangan mereka lantaran mereka sudah meninggalkan kafe itu dengan hati yang panas. Ending makan malam itu akhirnya berantakan dan membawa kesan buruk bagi keduanya.


"Apakah kamu sangat menyukai istri tuan Mukid itu? Bahkan aku tidak yakin jika Sinta bisa bergoyang liar memainkan burung kamu dengan lihai seperti aku. Pasti dia tidak bisa memuaskan dan melayani suaminya dengan baik. Paling juga hanya tidur telentang pasrah seperti batang pisang," Ucap Cintya vulgar. Tuan Drajat Ajisaka tersenyum sinis.


"Mungkin saja aku juga tidak bisa memberikan kamu kepuasan pada kamu, Cintya. Sehingga kamu berani berselingkuh dan mencari laki-laki lain seorang sopir rendahan seperti Toriq itu. Apakah laki-laki bajingan itu benar-benar bisa membuat kamu terpuaskan?" ganti tuan Drajat Ajisaka mengungkit cerita lalu yang membuat dirinya kecewa. Cintya tiba-tiba terkejut dan kembali bersedih.


"Kenapa kamu selalu mengungkitnya? Itu sudah lama terjadi. Bukankah aku sudah meminta maaf kepada kamu? Tapi walaupun kamu bilang sudah memaafkan aku, tapi kenyataannya kamu tidak pernah menyentuh aku lagi setelah mengetahui perselingkuhan itu," ucap Cintya dengan menundukkan kepalanya. Bahkan butiran air matanya mulai jatuh.


"Maaf, pengkhianatan itu masih terngiang-ngiang di kepalaku. Toriq yang  sudah aku anggap sebagai saudara ku sendiri ternyata pagar makan tanaman. Itu yang membuat aku sakit hati. Ah sudahlah!" ucap tuan Drajat Ajisaka.


Dengan langkah lebarnya kini tuan Drajat Ajisaka meninggalkan nyonya Cintya sendiri di kafe itu dengan tangis penuh penyesalan.


Di depan pintu kafe, tuan Drajat Ajisaka berbicara dengan laki-laki besar lebih dari dua orang menunggu di sana.

__ADS_1


"Somat! Antar ibu pulang ke rumah! Aku tidak pulang malam ini. Aku kembali ke rumah besar," Perintah tuan Drajat Ajisaka. Laki-laki kekar tinggi besar itu menggangguk dengan patuh dan hormat.


Tuan Drajat Ajisaka segera melangkah keluar dari tempat kafe itu diikuti oleh dua laki-laki tinggi besar dan kekar bodyguard nya. Mereka segera masuk ke dalam mobil mewah yang sejak tadi terparkir di area parkir kafe itu.


"Ke rumah besar, Jho! Dan jangan lupa hubungi Mila, Ratih, Rini. Suruh ketiganya ke rumah besar. Aku akan bersenang-senang dengan mereka malam ini," ucap tuan Drajat Ajisaka.


Laki-laki yang dipanggil dengan sebutan Jho itu mengikuti perintah tuan Drajat Ajisaka sembari menghubungi ketiga wanita yang dimaksudkan. Sedangkan sang driver sudah menjalankan mobilnya membawa sang majikan ke tujuan yang diinginkan. Sementara nyonya Cintya kini bersama sang driver lainnya diantarkan pulang ke rumah utama.


Sedangkan Somat mendekati nyonya Cintya dan mengajaknya kembali ke rumah sesuai perintah tuan Drajat Ajisaka.


"Nyonya, mari saya antar nyonya ke rumah utama," kata Somat salah satu driver dan anak buah tuan Drajat Ajisaka. Nyonya Cintya terlihat mendengus kesal sambil menenggak minuman wine yang masih tersisa.


"Aku juga tidak mau pulang seperti Drajat! Kamu bisa pergi dan pulang sendiri! Aku juga ingin bersenang-senang seperti Drajat itu!" ucap nyonya Cintya.


"Tolong lah nyonya, jangan mempersulit tugas saya! Bagaimana jika tuan muda Drajat Ajisaka bertanya mengenai nyonya Cintya?" kata Somat penuh kekhawatiran.


Somat masih berdiri menunggu nyonya Cintya berdiri dan meninggalkan kafe itu. Sedangkan nyonya Cintya masih menghabiskan isi botol wine itu hingga tandas. Kini nyonya Cintya sudah ambruk kepalanya di atas meja. Kini giliran Somat bertindak dan mengangkat tubuh Cintya yang pakaiannya sudah berantakan karena kurang bahan lantaran bagian dada nya semakin terekspos dan mengintip menggoda. Somat tentu saja karena tugas harus kuat dengan ujian matanya.


"Hah, berat juga tubuh nyonya Cintya," gumam Somat sambil meletakkan tubuh nyonya Cintya yang saat ini sedang mabok.


*****


Sesampainya di rumah utama, segera Somat memasukkan mobil majikannya itu di garasi mobil. Tanpa bantuan dari asisten rumah tangga di rumah itu, Somat segera mengangkat tubuh nyonya Cintya ke dalam kamar milik majikan nya. Rumah utama itu sudah sepi. Para pembantu rumah tangga sudah masuk ke kamar masing-masing dan beristirahat karena sudah seharian mereka bekerja. Para penjaga di rumah itu di luar berkumpul bermain catur sambil ngopi. Beruntung pintu kamar utama nyonya Cintya tidak dikunci. Sehingga Somat bisa membuka handle pintu kamar itu dengan mudah setelah itu mendorong nya dengan salah satu kakinya.


Somat meletakkan tubuh nyonya Cintya di atas tempat tidur yang super besar dan lebar dengan hati-hati. Tentu saja Somat sangat jelas mencium parfum di badan dan gaun nyonya Cintya yang wangi. Sesaat Somat menikmati wanginya.


Somat menatap wanita muda yang cantik serta seksi itu dengan tatapan penuh minat. Somat menelan saliva nya saat melihat bagian belahan dada nya yang terekspos jelas. Namun Somat segera membuang pandangan nya. Tentu saja dirinya tidak ingin kurang ajar dengan istri majikannya itu. Somat ingin cepat-cepat berlalu dari kamar itu supaya dia tidak semakin tersiksa melihat pemandangan indah di depan nya namun tidak bisa menyentuh bahkan menikmati nya.

__ADS_1


Namun pada saat Somat hendak menjauh dari nyonya Cintya. Tangannya disambar oleh nyonya Cintya hingga jatuh menindih nyonya Cintya.


"Kamu jangan pergi, bang Drajat! Aku ingin kamu malam ini! Sudah lama kamu tidak menyentuh aku, bang! Apakah aku  sudah tidak seksi lagi?" ocehan nyonya Cintya sambil memeluk Somat.


Sumpah Demi apapun, bagi Somat ini rejeki nomplok yang tidak bisa ia tolak. Bergumul dengan wanita secantik nyonya Cintya seperti kejatuhan durian runtuh. Apalagi nyonya Cintya memiliki tubuh yang seksi dan sangat menggiurkan. Dengan bibir yang seksi dan tubuh yang proporsional.


"Nyonya, tolong lepaskan saya! Saya bukan tuan Drajat Ajisaka! Saya Somat supir di rumah ini. Saya tidak pantas jika melakukan ini pada nyonya," Ucap Somat dengan panik dan takut. Namun di hatinya tentu saja sulit untuk menolak nya jika dipaksa.


"Kamu jangan sombong, bang Drajat! Bukankah kamu dulu sangat mencintai aku? Ayo kita bercinta dengan aku seperti dulu," oceh nyonya Cintya yang saat ini mulai lebih mendekati Somat. Somat melebar matanya, karena nyonya Cintya sudah membangkitkan jiwa laki-laki nya.


Nyonya Cintya kini mulai mencium bibir Somat dengan liar. Awalnya Somat tidak membalasnya, sampai akhir nya ciuman itu menjadi ciuman panjang dan liar saling membelitkan lidah dan mengakses isi mulut mereka secara bergantian.


"Aaabang! Aku merindukan ini," ucap nyonya Cintya.


"Bukan aku yang memulai dan memintanya, nyonya. Namun anda lah yang memaksa saya untuk melanggar tubuh anda. Jadi setelah ini jangan salahkan saya jika saya melakukan ini semua," Ucap Somat.


Entah siapa yang mengawalinya, pada akhirnya mereka saling membantu melepaskan pakaiannya masing-masing. Somat dengan sangat mudah menurunkan gaun malam yang dipakai oleh nyonya Cintya. Demikian juga nyonya Cintya satu persatu membuka pakaian yang dikenakan oleh Somat dari kemeja, celana panjang dan juga boxer nya.


Malam panjang itu akhirnya terjadilah permainan panas antara majikan dengan sang driver tanpa ada sekat dan penghalang untuk melakukan nya.


*****


Di kediaman rumah besar nenek Wati. Di kamar utama Sinta dan juga Mukid saat ini, kegaduhan terjadi. Pasangan suami istri itu akhirnya terjadi percekcokan yang hebat. Bahkan biasa nya Mukid tidak pernah berbuat kasar, kini tiba-tiba menjadi tidak terkontrol.


"Cukup! Jangan keras-keras Mas! Nanti nenek dan Bana mendengar keributan kita,"  Ucap Sinta akhirnya menyudahi percekcokan diantara mereka.


Mukid menarik rambut lurus nya sendiri lantaran sangat kesal. Untuk beberapa saat keduanya sama-sama diam dan menundukkan kepalanya sedih. Kecemburuan Mukid membuat dirinya menjadi berkata kasar dengan Sinta. Namun keduanya sebenarnya memang saling memiliki rasa cemburu itu.

__ADS_1


Ah, kalian berdua memang sama-sama gengsi. Padahal punya rasa cemburu yang tidak ingin masing-masing diantara kalian dekat dengan wanita maupun pria lain.


__ADS_2