TERPAKSA DUA ISTRI

TERPAKSA DUA ISTRI
DETIK-DETIK MENEGANGKAN


__ADS_3

    Karena saat ini jam hampir menunjukkan pukul 08.00 pagi, seperti biasanya Erkan yang selalu datang lebih awal dari Dita itu sudah pun sampai di parkiran perusahaan milik keluarga Harlan.


    Berharap hari ini bisa menemui sang pujaan hatinya kembali. Jika tadi malam gagal, masih ada waktu lain yang bisa dia manfaatkan, pikir Erkan positif.


 


   "Jani…mungkin tadi malam bukan waktu yang tepat, tapi pagi ini aku akan mencobanya kembali," ucap Erkan yang telah memasuki kantornya itu.


   Berpikir positif, dan terus menatap jam tangannya, namun Dita masih tak terlihat di kantor tersebut. Erkan berencana mengajaknya sarapan bersama pagi ini, namun si wanita belum pun terlihat.


   "Sabar Erkan..ini cobaan," ucapnya lagi.


    Satu sisi lagi, Erlangga ternyata telah pun sampai di tempat acara itu lebih dulu, tempat yang cukup terpencil di bandar sudut kota Jakarta itu.


  Walau terpencil namun tampak mewah. Seperti sebuah villa besar dengan nuansa pantai yang indah tersembunyi dibalik bandar kota besar tersebut.


   Sama halnya seperti Erkan, Erlangga juga menatap jam tangannya terus menerus, sambil mengumpat tak hentinya.


   "Lama sekali wanita sombong itu!" Umpatnya.


    Mencoba menghubungi  sang supir yang telah diperintahkan menjemput Dita saat ini, panggilan tersebut pun telah bersambut dengan cepatnya.


   "Hei! Kenapa lama sekali?" tanya Erlangga kepada sang supir suruhan itu.


  "Maaf Tuan, perjalanan sedikit macet dan ini saya hampir sampai disana," ucap supir itu berkata lemah lembut.


  "Oke jangan terlambat, wanita itu masih bersamamu bukan?" Tanya Erlangga lagi seolah menyiasatinya.


  "Iya Tuan, Nona Dita masih denganku," jawabnya.


   Setelah mendengar hal itu Erlangga lega dia menutup panggilan tersebut dengan sepihak, Dita yang mendengar sang supir suruhan itu ditelpon calon suaminya yang bermulut tajam itu, dia hanya geleng kepala saja.


     Tamu undangan disana semua orang suruhan Erlangga mereka telah dibayar untuk menghadiri acara pernikahan kontrak ini. Tidak ada yang mengenal Erlangga sedikit pun.


   Karena memang pernikahan ini dibuat hanya untuk kepuasan Erlangga semata. Tidak ingin diketahui khalayak ramai, dia menyimpan  pernikahannya sendiri.


   Dari pihak Dita  juga tidak ada siapapun, Dita hanya berwalikan hakim saja. Wanita itu sedih melihat nasibnya sendiri karena dia masih ada seorang ayah, namun bukan ayahnya yang menjadi wali di pernikahannya.


  Ya, ini hal terpaksa. Antara pengorbanan dan dosa yang tak sengaja dia lakukan. Biarlah, setiap dosa dan segala aib Tuhan tutup untuk mereka berdua walau dengan pernikahan kontrak yang tidak tahu kapan berakhirnya nanti.


    Beberapa menit kemudian, mobil metalik hitam itu terparkir di sana, sang supir membukakan pintu untuk seorang putri cantik yang memakai gaun putih dengan mahkota berlian itu.


   Tak dipungkiri dia wanita yang benar-benar cantik, semua tamu yang dibayar  oleh Erlangga tersebut menatap Dita kagum.

__ADS_1


   Sejenak mata jantan Erlangga  tak menoleh dari wajah Dita yang telah di poles bak putri raja itu.


  "Hm..tidak! Aku tidak tertarik dengannya!" ucapnya dalam hati yang angkuh itu.


   Dia kembali menunjukkan ekspresi yang sombong kepada Dita, padahal tadi tanpa dia sengaja hatinya sedikit terpaut dengan kecantikan seorang Rinjani Anindita itu.


     "Cepat duduk!" ucap Erlangga di telinga Dita saat ini yang telah sampai tepat di samping Erlangga.


   Bisikan itu lebih seram Dita dengar dari suara bisikan setan, pikir Dita. Dita pun duduk di sebelahnya dan pak penghulu telah berjabat tangan dengan calon mempelai pria yang arogan dan angkuh itu.


     "Saya nikahkan engkau Erlangga Harlan dengan saudari Rinjani Anindita binti Jusman dengan mahar 2 miliar serta seperangkat alat sholat dan mobil sport mewah di bayar tunai!" ucap pak penghulu itu ke arah Erlangga.


    Jantung Dita berdetak dengan kuat saat ini, dia semakin terkejut lagi, tak tanggung-tanggung mahar yang diberikan pria ini kepadanya.


   Dia bahkan tidak tahu menahu tentang mahar yang telah disebutkan oleh penghulu itu, sedangkan satu sisi lagi Erlangga telah mengulang ucapan penghulu itu dengan sekali nafas saja tanpa ada sedikit celah yang salah disana.


      "Bagaimana saksi?" Tanya penghulu itu lagi kepada semua para saksi.


   Sah…


Sah…


Sah…


   "Alhamdulillah…" ucap sang penghulu.


    Erlangga mengulurkan tangannya ke arah Dita, namun wanita itu hanya diam terpaku seolah dia masih tak sadArkan diri dari lamunannya yang sejak ijab kabul tadi.


   "Huh…dasar wanita ini, kenapa dia menjadi termenung!" Umpat Erlangga kesal karena tangannya lama disambut Dita.


   "Auh…" terpekik Dita tiba-tiba.


   Dita menatap wajah geram Erlangga, giginya yang rapat dan seolah senyum pemaksaan itu, ternyata Erlangga mencubit sedikit kaki Dita membuat wanita itu sadar kalau tangan sang suami telah berada di depan wajahnya.


   Refleks Dita langsung menciumnya, Erlangga berpura-pura menggapai dahi istrinya itu dan satu kecupan telah singgah di dahi itu.


    "Jangan kau pikir aku mengecupmu ini karena kau suka kau!" Bisiknya lagi.


  "Huh..terserah kau saja!" Balas Dita.


    "OH Tuhan….bisikan ini mengalahkan bisikan setan yang menyeramkan singgah di telingaku," ucap Dita dalam hatinya.


    Dita dan Erlangga menunjukkan senyum yang memang mengembang, namun itu hanyalah sebuah kepalsuan belaka diantara keduanya.

__ADS_1


   Tamu-tamu undangan mengucapkan selamat kepada kedua mempelai yang memang tampak serasi dan tampak bahagia.


  Ya begitulah kata orang-orang senyum itu adalah simbol kebahagiaan, namun siapa yang tahu senyum mereka adalah sebuah kepalsuan belaka.


     Satu sisi lagi jam yang hampir menunjukkan pukul 10 lebih itu, membuat pria baik yang telah menunggu Dita di kantor tersebut kembali merasakan kekecewaannya yang mendalam. 


"Kemana lagi Jani?" tanyanya dalam hati saat ini.


  Hanya bisa bersandar di kursi empuknya itu, mencoba tetap tenang namun masih saja ada kegelisahan disana.


   Pintunya tiba-tiba diketuk saat ini, terkejut dia dalam lamunannya yang selalu mengingat seorang Rinjani Anindita  itu.


   "Masuk!" ucap Erkan dari dalam.


     "Nadia? Ada apa Nad?" tanya Erkan merasa bingung.


   "Maaf pak Erkan, saya baru dapat kabar dari pak Ceo kalau pagi ini dia ada meeting di luar kota, dan meeting  bersama investor hari ini,  pak Ceo memerintahkan kita berdua yang menemui investor-investor nanti," jelas Nadia kepada Erkan.


  "Apa? Kenapa Erlangga tidak konfirmasi langsung denganku?" Tanyanya menyiasat.


 "Entahlah pak, tapi ini pesannya pak Ceo," ucapnya Nadia kembali.


"Oke, pukul  berapa meeting bersama investor nanti?" Tanya Erkan.


  "Setelah makan siang pak, di cafe depan yang sudah di booking semalam oleh pak ceo," jelasnya.


"Yasudah nanti kamu ingatkan  saya kembali," ucapnya.


   Ya, Nadia Amira wanita muda yang cantik dia tinggi dan kulitnya kuning langsat. Cukup lama juga bekerja disini, namun dia bagian kepala pemasaran di Pt Jaya abadi ini.


   Cukup mengenal baik seorang Erkan Harlan yang memang tampan dan peramah itu.


   Nadia juga sudah lama curi-curi pandang dengan Erkan, namun tampaknya pria ini masih saja tidak ada respon apapun.


   Sebelum kedatangan Erlangga di kantor ini Erkan selalu bersama dengan Rinjani Anindita, membuat Nadia sedikit malas dan bahkan hubungannya dengan Dita tidak begitu akrab.


   Setelah 3 bulan berlalu, pertukaran Ceo terjadi, tampaknya waktu luang Erkan dan Dita sudah tak seharmonis dahulu, membuat Nadia mencuri peluang dari kejadian ini.


  Akankah Nadia mendapatkan hati seorang Erkan Harlan?


Atau kah Nadia dan Erkan sama-sama memiliki cinta yang bertepuk sebelah tangan?


***

__ADS_1


  


__ADS_2