TERPAKSA DUA ISTRI

TERPAKSA DUA ISTRI
BERITA MIRING


__ADS_3

     Pagi ini kembali keluarga Harlan mendapatkan berita-berita yang kurang mengenakkan karena pernikahan antara Erlangga dan Miranda sudah pun terlaksana  lebih awal.


    Seharusnya undangan yang telah tersebar sebelumnya untuk hari ini, namun dengan cepat keluarga konglomerat itu membatalkannya dengan sekelip mata.


    Akhirnya dengan banyak perbincangan pernikahan itu hanya diadakan akadnya saja dan dipercepat harinya, serta tamu yang datang hanya kerabat dekat mereka saja.


   Akhirnya Membuat tim media penuh tanda tanya, mengapa pernikahan itu di percepat sehari, dan resepsi di undur bulan depan.


  Kabar huru hara yang terjadi pagi ini membuat keluarga Harlan diundang pihak media untuk mengklarifikasi berita yang sebenarnya.


  Padahal Papa Erlangga mau pun Erlangga sangat malas menghadapi media. Siang ini sudah di jadwalkan untuk wawancara di rumah mereka, namun ini masih pagi terlihat jam delapan disana.


    Tim media sudah menghubungi Papa Erlangga jauh pagi ini, hingga akhirnya semua orang yang tinggal di rumah inu diberitahukan oleh Papanya itu, jika tim media datang jangan ada yang menjawab satupun karena memang Papa Erlangga tersebut malas untuk klarifikasi hal yang menurutnya tidak penting sama sekali.


  Miranda di digosipkan hamil diluar nikah, karena pernikahan yang di percepat tersebut, pagi ini Papa dan Mama Erlangga itu sudah berada di meja makan.


  Menanggapi segala berita dengan santai, karena memang apa yang di gosipkan itu tidak benar adanya jadi mereka santai saja.


   "Ma, apa sebaiknya Erlangga dan Miranda ikut sarapan pagi bersama kita?" Tanya Papa Erlangga itu.


  "Papa ini, seperti tidak tahu saja pengantin baru," jawab Mama Erlangga tersenyum lebar sambil mengambil selai untuk sekeping rotinya.


"Haha, mudah-mudahan kita cepat di berikan cucu," ucap Papanya lagi.


   Asik mereka berbincang, tiba-tiba terdengar langkah kaki turun dari anak tangga itu. Mereka berdua terkejut melihat anak semata wayangnya turun sendirian dengan berpakaian rapi dan tampak segar.


  "Erlangga!" Sapa mereka berdua dengan kompaknya.


 "Pagi Ma, Pa," ucap Erlangga tersenyum.


"Pagi nak, mana Miranda?" Tanya Mamanya tampak menyiasat.


"Masih tidur," jawabnya singkat sambil mengoleskan selai di rotinya.


 Dia tampak cuek dengan pertanyaan kedua orang tuanya  itu. Dan karena rasa laparnya itu dengan cepat melahap sekeping roti dengan coklat.

__ADS_1


   "Apa Miranda kelelahan?" Tanya Mamanya lagi sambil tersenyum lebar.


"Mungkin," jawabnya cuek.


   "Erlang..cerita dong gimana malam pertamamu," ucap Mamanya lagi sambil matanya melirik ke arah suaminya itu.


"Apaan sih Ma, udah ah Erlangga mau keluar dulu," jawabnya malas dan dengan cepat berlalu dari ruangan makan itu.


   "Erlang..mau kemana kamu?" Tanya mamanya lagi namun Erlangga terus saja berlalu.


  Dia malas di ajukan bertalu-talu banyak pertanyaan dari mama dan papanya. Bahkan berbincang lama dengan mereka pun dia sangat malas.


   Di tambah lagi sekarang ada Miranda yang membuat dia semakin malas lagi untuk dirumah. Tampaknya hari ini ada sesuatu yang ingin Erlangga ingin kerjakan.


  Pakaiannya sangat rapi namun tidak formal. Dia memakai celana jeans dan kemeja yang lengannya dia lipat sampai siku.


  Tak lupa sepatu andalannya yang tampak bermerk luar negri itu dia kenakan. Tampilannya seolah dia lelaki bujang saja.


  Bahkan kedua orang tuanya yang bertanya dia mau kemana pun dia jawab acuh tak acuh.


   Alhasil pagi ini Miranda tidak tahu kalau suaminya bangun lebih awal dan meninggalkan dirinya di ranjang tersebut. Erlangga bahkan tidak membangunkan Miranda sama sekali.


    Saat ini pukul sembilan lebih, Erlangga sudah keluar dari rumah itu sejam lebih, Miranda kini tampak membuka matanya perlahan.


 Meraba di sekelilingnya tampak tidak ada tubuh atletis Erlangga dia dapatkan. Hanya ada rasa bantal guling empuk yang dia pegang.


  


  "Erlangga kemana?" Tanya Miranda saat ini dia telah membuka matanya dengan benar.


   Mencoba bangkit dan mencari suaminya itu di kamar mandi, namun dia mencium parfume yang tampaknya  baru saja di semprotkan karena wangian itu masih menyengat di hidungnya.


   "Di kamar mandi tidak ada, apa Erlangga sudah keluar sepagi ini? Tanya Miranda sendiri.


  Dia mencuci mukanya setelah itu dia bertukar pakaian dengan piyama yang sedikit tertutup. Pasalnya sejak sore itu dia memakai pakain yang terlalu sexy untuk menggoda sang suami namun sang suami menolak godaannya itu.

__ADS_1


   Meja makan telah kosong, tidak ada Mama atau papa Erlangga disana, seperti biasa jam-jam seperti ini mereka di halaman rumah untuk berjemur sebentar menikmati matahari pagi karena masih jam sembilan pagi.


   Miranda mengambil sekeping roti dan berjalan keluar mencari Mama dan Papa Erlangga, dan berpikir Erlangga pun bersama mereka saat ini.


   "Selamat pagi sayang…" sapa Mama Erlangga yang ketika ini melihat Miranda menuju mereka.


  "Selamat pagi Ma, Pa," jawabnya.


"Hem…baru bangun jam segini pasti tadi malam pertempurannya hebat ya?" Tanya Mama Erlangga sambil menggoda Miranda.


  Papa Erlangga hanya tersenyum saja dan melanjutkan membaca surat kabar yang ada di tangannya itu. Miranda tersenyum kecut ketika mendengar ucapan dari mama Erlangga itu.


  Pasalnya dia masih menyimpan dendam untuk penolakan Erlangga tadi malam. Dia lelah bukan bertempur dengan Erlangga di ranjang itu melainkan dia lelah bertempur dengan perasaan marahnya terhadap Dita dan mencari identitas Dita dengan lengkap.


  Apa yang akan dilanjutkan oleh Miranda setelah mengetahui identitas Dita yang sebenarnya?


    Saat ini pula Dita yang masih berada di kampung tersebut dengan telaten merawat Ayahnya yang sudah pulang dari rumah sakit sejak kemarin itu, kini dia sedikit lega dan mereka di kampung telah selesai juga sarapan pagi.


  Suasana kampung yang sejuk saat ini, Dita pun sudah lama tak mengunjungi area persawahan disini, karena memang notabennya masyarakat dikampunya itu adalah petani.


  Dia berjalan sendiri, mencari suasana pagi yang asri yang masih dia dapati di kampungnya ini. Ada pondok kecil di tengah sawah yang membuat kenangan masa kecil berulang kali menghampiri ingatannya.


  Hanya tersenyum lemah, mendengar suara-suara burung menyapa pagi seolah menyapa dirinya juga yang duduk seorang diri di pondok itu.


   Menatap layar ponselnya, mengingat seseorang siapa lagi kalau bukan suami kontraknya itu.


    


  "Hari ini hari pernikahannya dengan Miranda, pasti dia sangat bahagia hari ini," ucap Dita sendiri sambil kedua kakinya bergoyang-goyang dan nafasnya diatur sebaik mungkin agar tidak keluar butiran air mata.


  Yang dia tahu hari ini adalah hari pernikahan suaminya itu dengan kekasih lama Erlangga yang memang dia juga tahu karena dia pun mendapat undangannya.


  Dia tidak tahu kalau pernikahan itu sudah terjadi sejak kemarin. Karena di kampung ini agak sulit sinyal membuat ponselnya hilang jaringan.


Ketika di rumah sakit besar waktu itu saja ponselnya bisa dia aktifkan karena memang itu jauh dari desanya dan rumah sakit itu terletak di kota.

__ADS_1


*****


__ADS_2